Tulisan ini merupakan tulisan
lanjutan dari syarat-syarat menikah dengan warga negara asing (WNA) yang pernah
saya tulis di sini. Tulisan ini sebenarnya dikhususkan bagi mereka yang menikah
dengan warga negara Kanada yang berniat untuk membuat Permanent Resident (PR) Kanada
atau izin tinggal tetap di Kanada setelah menikah. Tapi saya hanya akan
bercerita tentang pengalaman saya sendiri setelah menikah dengan warga negara
Kanada yang kemudian apply Permanent Resident dan menunggu di Indonesia sampai
Permanent Resident tersebut selesai.
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
9.24.2014
Proses Pengurusan Permanent Resident Visa Kanada
Posted by
Aisyah
at
3:29:00 PM
Labels:
Cerita,
informasi,
Kanada,
Lika-liku kehidupan,
Pernikahan
9.15.2014
Kehidupan di Kanada
Posted by
Aisyah
at
2:28:00 PM
Setelah menunggu sekitar 2 tahunan untuk mendapatkan Permanent Resident Canada Alhamdulillaah selesai juga dan akhirnya Alhamdulillaah aku bisa berkumpul dengan suami kembali dan menjadi seorang istri. Perpisahan yang begitu lama memang menjadikan kami "belajar" mengenal kembali seperti dulu setelah kami menikah. Tapi asyik juga ;) Alhamdulillaah.
Kanada. Alhamdulillaah akhirnya sampai juga di Kanada. Kampung halaman baru yang menyenangkan dengan suasanya yang sangat jauh berbeda dengan Jakarta. Di sini tidak banyak polusi, tidak banyak ditemui perokok yang sembarangan merokok dan aku ingat komentar salah satu temanku bahwa aku tidak perlu lagi menegur setiap perokok seperti dulu di Indo hehe. Aku memang paling tidak suka perokok yang seenaknya aja merokok dan mengganggu kesehatan orang lain. Ok, kita lewatkan saja perokok, mari kita bicara tentang Kanada.
![]() |
| Kehidupan di Kanada |
Labels:
Cerita,
Kanada,
Pengetahuan Umum
2.03.2013
Seorang Muslim yang Baik adalah yang Banyak Memberikan Udzur
Posted by
Aisyah
at
12:03:00 AM
Subhaanallaah.... aku tertegun ketika mendengarkan kajian tentang bagaimana seorang muslim itu tidak boleh suudzan sedikitpun kepada orang lain. Bahkan seorang muslim yang baik itu adalah seorang muslim yang paling banyak memberikan udzur. Apakah maksud Udzur di sini?. Maksud udzur di sini adalah keringanan atau pengertian terhadap orang lain atau dalam bahasa gampangnya adalah positif thinking.
Contohnya ketika teman kita tidak datang saat dia janji akan bertemu di suatu tempat dengan kita. Dia janji untuk datang jam 10.
- Tapi setelah jam 10 lewat dia tidak datang. Kita harus memberikan udzur kepada dia dan berfikir "oh, mungkin dia sedang di jalan dan terkena macet".
- Kemudian ada orang lewat di depan kita yang kebetulan mereka berbincang tentang bagaimana lancarnya jalanan yang tidak seperti biasanya". Kita pun harus memberikan udzur yang lain "oh, mungkin dia telat dari rumahnya sehingga sampai sekarang belum juga datang"
- Setelah 1 jam kita tunggu, kita telpon dia tapi tidak diangkat-angkat bahkan telponnya mati. Maka kita pun harus memberikan udzur yang lain. "Oh, mungkin baterainya habis di tengah jalan"
- Kita coba telpon keluarganya menanyakan di mana dia dan keluarganya mengatakan dia tidak ada di rumah dan hp nya pun di bawa, kita harus memberikan udzur dan berfikir yang lain lagi "oh, berarti dia memang masih di jalan tapi cuma belum sampai aja, trus dia ga denger pas ditelpon atau lupa mengaktifkan hpnya, semoga Allaah lindungi dia dan dia baik-baik saja"
- dan udzur-udzur yang lain (alasan-asalan lain) yang meng-cut timbulnya buruk sangka kita kepada saudara kita itu bahkan kalau bisa, kita mendoakannya.
Contoh lain ketika seseorang ditanya sesuatu lewat sms, dia tidak membalasnya, kita harus berfikir "oh, mungkin dia sedang sibuk", trus kita ingat kalau ini hari minggu dan dia selalu santai dan ada di rumah kalau hari minggu, kita harus berfikir positif yang lain "oh, mungkin dia tidak ada pulsa". Kita ingat ini tanggal muda dan dia baru aja gajian dan ga mungkin kalau tidak bisa membeli pulsa, kita harus berikan udzur yang lain "oh, mungkin dia belum sempat aja membeli pulsanya" dan segudang udzur atau alasan positif yang menyebabkan kita tidak berfikir negatif atau suudzan kepada saudara kita.
Karena sekali lagi, su'udzan dalam islam adalah dosa. Sehingga bagaimanapun juga, udzur-udzur yang kita berikan kepada saudara kita itu sangat sangat penting untuk menghilangkan atau minimal menghindari rasa suudzan kita kepadanya. Bahkan Ustad di kajian tersebut menyatakan, kalau bisa, kita memberikan 70 udzur atau 70 alasan atau pengertian tentang apa yang saudara kita perbuat kepada kita. Kalau sampai kita sudah membuat 70 udzur pun ternyata tidak ada yang benar, maka tetaplah kesalahan akan ada pada kita. Ko bisa jadi kita yang salah?, "lha iyaaaa, kenapa juga kita mencoba mencari-cari kesalahan orang lain sampai 70 keringanan yang diberikan pun tidak ada yang benar, trus apalagi namanya kalau kita tidak mencari-cari kesalahan saudara kita sesama muslim?. Ustad itu juga mengatakan kalaupun suudzan kita itu ternyata benar, maka dia tetap masuk dalam kategori suudzan atau berburuk sangka dan itu adalah dosa. Tapi bila suudzan kita itu ternyata salah, maka kita akan jatuh kepada fitnah yang kita semua tau kalau fitnah itu jauh lebih berdosa lagi bahkan fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Subhaanallaah.... all I can say is Subhaanallaah.. betapa indahnya Islam yang sangat menjunjung nilai kekeluargaan sesama muslim sampai-sampai cuma suudzan (buruk sangka) saja itu adalah suatu dosa. Terlebih jika kita menggunjing saudara kita sesama muslim, Rasulullaah menyatakan hal itu seperti memakan daging saudaranya sendiri. N'audzubillaah min dzaalik.
Subhaanallaah Alhamdulillaah Allaahu Akbar yang menjadikan kita hidup di dunia ini dalam keadaan muslim. Karena bagaimanapun baiknya seorang non muslim, ketika dia melakukan kebaikan sepenuh langit dan bumi, maka kebaikan itu laksana fatamorgana dan akan sirna tanpa bekas dan tidak akan bisa membantu menyelamatkan dia di akhirat nanti dan dia akan mendapatkan adzab yang pedih. Na'uudzubillaah. Semoga Allaah kuatkan iman kita dan menjadikan kita sebagai orang yang beriman sampai akhir hidup kita dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa dan memasukkan kita ke dalam surga Firdaus-Nya dan memberikan hidayah kepada mereka yang belum memeluk Islam untuk menjadi muslim sepenuhnya. Amin.
Contohnya ketika teman kita tidak datang saat dia janji akan bertemu di suatu tempat dengan kita. Dia janji untuk datang jam 10.
- Tapi setelah jam 10 lewat dia tidak datang. Kita harus memberikan udzur kepada dia dan berfikir "oh, mungkin dia sedang di jalan dan terkena macet".
- Kemudian ada orang lewat di depan kita yang kebetulan mereka berbincang tentang bagaimana lancarnya jalanan yang tidak seperti biasanya". Kita pun harus memberikan udzur yang lain "oh, mungkin dia telat dari rumahnya sehingga sampai sekarang belum juga datang"
- Setelah 1 jam kita tunggu, kita telpon dia tapi tidak diangkat-angkat bahkan telponnya mati. Maka kita pun harus memberikan udzur yang lain. "Oh, mungkin baterainya habis di tengah jalan"
- Kita coba telpon keluarganya menanyakan di mana dia dan keluarganya mengatakan dia tidak ada di rumah dan hp nya pun di bawa, kita harus memberikan udzur dan berfikir yang lain lagi "oh, berarti dia memang masih di jalan tapi cuma belum sampai aja, trus dia ga denger pas ditelpon atau lupa mengaktifkan hpnya, semoga Allaah lindungi dia dan dia baik-baik saja"
- dan udzur-udzur yang lain (alasan-asalan lain) yang meng-cut timbulnya buruk sangka kita kepada saudara kita itu bahkan kalau bisa, kita mendoakannya.
Contoh lain ketika seseorang ditanya sesuatu lewat sms, dia tidak membalasnya, kita harus berfikir "oh, mungkin dia sedang sibuk", trus kita ingat kalau ini hari minggu dan dia selalu santai dan ada di rumah kalau hari minggu, kita harus berfikir positif yang lain "oh, mungkin dia tidak ada pulsa". Kita ingat ini tanggal muda dan dia baru aja gajian dan ga mungkin kalau tidak bisa membeli pulsa, kita harus berikan udzur yang lain "oh, mungkin dia belum sempat aja membeli pulsanya" dan segudang udzur atau alasan positif yang menyebabkan kita tidak berfikir negatif atau suudzan kepada saudara kita.
Karena sekali lagi, su'udzan dalam islam adalah dosa. Sehingga bagaimanapun juga, udzur-udzur yang kita berikan kepada saudara kita itu sangat sangat penting untuk menghilangkan atau minimal menghindari rasa suudzan kita kepadanya. Bahkan Ustad di kajian tersebut menyatakan, kalau bisa, kita memberikan 70 udzur atau 70 alasan atau pengertian tentang apa yang saudara kita perbuat kepada kita. Kalau sampai kita sudah membuat 70 udzur pun ternyata tidak ada yang benar, maka tetaplah kesalahan akan ada pada kita. Ko bisa jadi kita yang salah?, "lha iyaaaa, kenapa juga kita mencoba mencari-cari kesalahan orang lain sampai 70 keringanan yang diberikan pun tidak ada yang benar, trus apalagi namanya kalau kita tidak mencari-cari kesalahan saudara kita sesama muslim?. Ustad itu juga mengatakan kalaupun suudzan kita itu ternyata benar, maka dia tetap masuk dalam kategori suudzan atau berburuk sangka dan itu adalah dosa. Tapi bila suudzan kita itu ternyata salah, maka kita akan jatuh kepada fitnah yang kita semua tau kalau fitnah itu jauh lebih berdosa lagi bahkan fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Subhaanallaah.... all I can say is Subhaanallaah.. betapa indahnya Islam yang sangat menjunjung nilai kekeluargaan sesama muslim sampai-sampai cuma suudzan (buruk sangka) saja itu adalah suatu dosa. Terlebih jika kita menggunjing saudara kita sesama muslim, Rasulullaah menyatakan hal itu seperti memakan daging saudaranya sendiri. N'audzubillaah min dzaalik.
Subhaanallaah Alhamdulillaah Allaahu Akbar yang menjadikan kita hidup di dunia ini dalam keadaan muslim. Karena bagaimanapun baiknya seorang non muslim, ketika dia melakukan kebaikan sepenuh langit dan bumi, maka kebaikan itu laksana fatamorgana dan akan sirna tanpa bekas dan tidak akan bisa membantu menyelamatkan dia di akhirat nanti dan dia akan mendapatkan adzab yang pedih. Na'uudzubillaah. Semoga Allaah kuatkan iman kita dan menjadikan kita sebagai orang yang beriman sampai akhir hidup kita dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa dan memasukkan kita ke dalam surga Firdaus-Nya dan memberikan hidayah kepada mereka yang belum memeluk Islam untuk menjadi muslim sepenuhnya. Amin.
Labels:
Adab dan akhlak,
Belajar Islam,
Cerita
9.29.2012
Cerita Scammer
Posted by
Aisyah
at
9:15:00 PM
Dulu aku pernah menulis tentang scammer di sini dan di sini. Ternyata ada sharingan bagus tentang scammer yang aku ambil dari kompasiana buah karya dari mba Fey Down. Ini dia ceritanya semoga bisa menjadi pemikiran dan kehati-hatian para wanita Indonesia terutama yang berusaha mencari pasangan atau kenal seseorang untuk serius menikah melalui internet.
Berita tentang scamers cinta sudah menyebar kemana-mana, tapi masih ada saja wanita yang tertipu oleh mereka. Biasanya mereka mencari korban lewat FB atau situs pertemanan dengan modal photo bule, rayuan gombal , iming-iming uang, hadiah dan masa depan bak kisah Cinderella.
Scamers cinta sangat pandai mempermainkan perasaan wanita . Jika siwanita sudah masuk perangkap cinta sang scamers , apapun yang diminta si ” bule” pasti akan dipenuhi. . Dia lupa logika dan tak peduli nasihat orang. Jika uang sudah melayang, si bule palsu menghilang, barulah korban meradang.
Sejumlah teman hampir saja menjadi korban dan sempat termakan rayuan. Biasanya mereka nggak percaya kalau kita ingatkan, alias ngeyel abis. Kadang saya ngomong sendiri, kenapa harus repot kalau yang dibilangin ngga mau. Bodo amat lah, EGP….tapi hati nurani ngga rela jika ada wanita Indonesia dipermainkan oleh scamers cinta. Maka satu satunya cara saya perlihatkan bukti bukti korban yang ada di websites seperti www.419baiter.com, www.stop-scammers.com dll
Maklum jika wanita lagi jatuh cinta sama ” bule palsu alias bule bule an” siapapun yang mengingatkan dianggap angin lalu. Gimana ngga mau klepekan, hampir tiap hari di telpon , bilang I love you, darling, baby, I miss you. Wanita mana yang tak butuh perhatian, apalagi oleh “bule” idaman. Begitu juga ketika saya berusaha mengingatkan beberapa kawan. Setelah saya kasih lihat bukti-bukti korban yang berjatuhan, baru mereka sadar, tentu dengan sedikit patah hati.
Banyak korban tak berani cerita karena malu, tapi ada juga yang mau berbagi dan berani melapor ke polisi.
Sebut saja Yani (56 th) berkenalan melalui Facebook dengan pria bule bernama James, yang mengaku komandan infantry Inggris dan sedang bertugas di Afganistan ( nggak tahunya suka muter di Roxy mencari mangsa). Rayuan maut si bule palsu membuat Yani jatuh cinta setengah mati. Apalagi ketika James berjanji akan mengirimkan uang sejumlah 5 juta dollar Amerika yang didapatnya dari Muamar Khadafy ( too good to be true, koq percaya aja.).
Suatu hari Yani diminta oleh James mengiriminya uang untuk bea masuk sebesar 5 juta dollar.. Entah sedang jatuh cinta atau tergiur pada uang sebanyak itu, Yani pun memenuhi permintaan kekasih mayanya. Lalu dikirimlah uang sebesar 30 juta rupiah. Setelah uang terkirim, Yani baru tersadar kalau dirinya ditipu. Langsung ia melapor ke polisi dan dalam waktu singkat komplotan ini tertangkap. Ternyata si James ini orang Afrika yang bekerja sama dengan pacarnya seorang wanita Indonesia.
Seorang teman sebut saja Lenny, sedang masalah dengan rumah tangganya. Ketemu scamer cinta bernama Joe yang kebetulan ada di Indonesia. Dia mengaku warga Kanada , maka jatuhlah Lenny dalam pelukannya. Mereka sering bersama dan anehnya biaya semua dari Lenny dari makan hingga sewa apt. Alasan si pria nunggu uangnya cair dari UK. Sebulan berlalu, Joe butuh uang katanya mau investasi sama temannya (ternyata komplotannya juga). Lenny minjam sana sini dan 5000 dollar pun diserahkan pada Joe. Habis terima uang, Joe mengajak anak anak Lenny belanja dan dengan bangga Lenny bilang betapa perhatiannya si Joe pada keluarganya. Ngga sadar yang dipakai uangnya juga.
Beberapa hari kemudian Joe mengajaknya menyaksikan cara membuat dollar palsu, katanya uang yang 5000 sudah diserahkan pada teman Joe, nantinya jadi 10.000. Tak lama bungkusan besar diserahkan pada Lenny , kata Joe semua berjumlah 10.000 tapi harus dibuka beberapa hari kemudian. Begitu dus di buka yang ada hanya kertas lembaran. Lenny pingsan dan Joe menghilang. Dia rugi dua kali, ibarat main catur , SKAK dan STER. Rugi sudah di apa apain plus uang pinjaman melayang.
Korban lain sebut saja Jenifer. Ia tertipu rayuan gombal pria yang dikenalnya lewat internet. Si pria mengaku tentara Amerika yang sedang bertugas di Iraq. Dia mulai membicarakan masa depan nan indah. Katanya ia ingin hidup di Indonesia bersama Jenifer. Dia ingin memberikan berlian, dan laptop. tetapi menurutnya barang-barang itu tertahan di Malaysia.
Tak lama kemudian, ada orang yang mengaku dari Custom Malaysia ( padahal komplotannya juga) yang meminta uang tebusan karena ” hadiah wah” tertahan di airport Malaysia. Demi cintanya pada si pria, Jenifer yang sudah mengkhayal bakal dapat hadiah super mewah harus kehilangan uang 700 juta rupiah yang didapatnya dari menjual perhiasan, mobil dan menggadaikan rumah. Setelah uang melayang, si pria pun menghilang.
Ciri-ciri seorang scamer cinta :
Biasa memasang foto bule yang diambil dari majalah model pria. Biasanya cuma ada satu atau dua photo yang dipajang.
Mengaku engineer, dokter, tentara, mariner, staff di UN, NATO dll, atau businessman
Sedang tugas di UK, Afrika, Malaysia atau negara lainnya biar keliatan sibuk
Baru kenal udah manggil honey, baby , super perhatian dan agresive.
Kadang kirim bunga biar wanita makin ke GR an
Omongin masa depan bersama, pengen invest, beli rumah mewah di Indonesia
Mengajak si wanita hidup di luar negeri dengan segala kemewahan yang dijanjikan biar makin klepekan
Mulai cerita yang bikin iba si wanita, mengaku duda mengurus anak dua karena istrinya selingkuh. Nanti dia pura pura nangis dan bilang anaknya masuk rumah sakit, minta kirim uang biaya rumah sakit.
Jika si wanita seorang muslim, maka ” si honey ” akan bilang bersedia menjadi muslim. Siapa yang tak bangga pujaan hati siap pindah agama demi cintanya pada si wanita.
Pura pura mau jual rumah super mewah di luar negeri, tapi ada masalah karena rebutan sama mantan bini. Mau bayar lawyer ngga ada duit, pinjam uang dulu sama si korban, dengan janji hasil penjualan rumah akan dikirim buat si wanita.
Menawarkan hadiah mewah seperti berlian, laptop, dll tapi ketika dikirim alasan barang tertahan di Malaysia dan minta si wanita kirim uang untuk mengeluarkan barang-barang mahal tsb.
Si bule palsu mengatakan akan datang ke Indonesia, lalu memperlihatkan kertas seperti tiket online. Padahal cuma booking saja. Di situ akan ada tulisan bahwa ybs belum membayar dan memperlihatkan passport.
Ngaku engineer sedang beli alat berat, uang nggak cukup dan meminta pinjaman sedikit saja agar bisnisnya lancar. Katanya demi masa depan berdua.
Untuk meyakinkan kalau uang sudah di kirim, mereka menggunakan form palsu lengkap dengan track number. Caranya gampang, cek di google pasti ketauan palsu banget.
Mereka menggunakan telpon dengan no awal +44 70 bagi yang ngga ngerti dikira benar dari UK, padahal +44 70 adalah sebuah system telekomunikasi di UK yang disebut 070 Follow me Numbers. Bisa diakses dari mana saja. Biasanya scamers menelpon dari Nigeria dengan menggunakan 070 ini. Silahkan cek http://www.scamwarners.com/forum/viewtopic.php?f=3&t=16485
Agar terhindar dari rayuan gombal scamer cinta ;
Jangan mudah percaya pada foto yang diperlihatkan hanya satu atau dua buah
Pertama chat ajak bicara cam to cam ( pasti nolak dengan banyak alasan)
Suruh telpon dan kenali logatnya, jangan asal dengar cowok pake bahasa Inggris dah dianggap bule
Jika mereka tak dapat memenuhi syarat di atas, bye…bye ajah. Untuk apa kenalan dengan manusia nggak jelas.
Memang sih tak semua pria yang dikenal lewat internet sebagai scamer cinta. Banyak wanita Indonesia yang menemukan pria baik dari berbagai bangsa lewat internet. Lalu mereka saling mengenal cukup lama, akhirnya menikah dan hidup bahagia.
Jodoh memang Allah yang menentukan, namun caranya berbeda-beda. Ada yang lewat internet, kenalan, sahabat jadi pasangan dll. Tetapi sebagai wanita kita tetap harus waspada. Jangan mudah termakan rayuan gombal dari pria dimana saja.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi agar kita semua waspada dan bisa mengingatkan keluarga dan teman-teman. Semoga manfaat.
Berita tentang scamers cinta sudah menyebar kemana-mana, tapi masih ada saja wanita yang tertipu oleh mereka. Biasanya mereka mencari korban lewat FB atau situs pertemanan dengan modal photo bule, rayuan gombal , iming-iming uang, hadiah dan masa depan bak kisah Cinderella.
Scamers cinta sangat pandai mempermainkan perasaan wanita . Jika siwanita sudah masuk perangkap cinta sang scamers , apapun yang diminta si ” bule” pasti akan dipenuhi. . Dia lupa logika dan tak peduli nasihat orang. Jika uang sudah melayang, si bule palsu menghilang, barulah korban meradang.
Sejumlah teman hampir saja menjadi korban dan sempat termakan rayuan. Biasanya mereka nggak percaya kalau kita ingatkan, alias ngeyel abis. Kadang saya ngomong sendiri, kenapa harus repot kalau yang dibilangin ngga mau. Bodo amat lah, EGP….tapi hati nurani ngga rela jika ada wanita Indonesia dipermainkan oleh scamers cinta. Maka satu satunya cara saya perlihatkan bukti bukti korban yang ada di websites seperti www.419baiter.com, www.stop-scammers.com dll
Maklum jika wanita lagi jatuh cinta sama ” bule palsu alias bule bule an” siapapun yang mengingatkan dianggap angin lalu. Gimana ngga mau klepekan, hampir tiap hari di telpon , bilang I love you, darling, baby, I miss you. Wanita mana yang tak butuh perhatian, apalagi oleh “bule” idaman. Begitu juga ketika saya berusaha mengingatkan beberapa kawan. Setelah saya kasih lihat bukti-bukti korban yang berjatuhan, baru mereka sadar, tentu dengan sedikit patah hati.
Banyak korban tak berani cerita karena malu, tapi ada juga yang mau berbagi dan berani melapor ke polisi.
Sebut saja Yani (56 th) berkenalan melalui Facebook dengan pria bule bernama James, yang mengaku komandan infantry Inggris dan sedang bertugas di Afganistan ( nggak tahunya suka muter di Roxy mencari mangsa). Rayuan maut si bule palsu membuat Yani jatuh cinta setengah mati. Apalagi ketika James berjanji akan mengirimkan uang sejumlah 5 juta dollar Amerika yang didapatnya dari Muamar Khadafy ( too good to be true, koq percaya aja.).
Suatu hari Yani diminta oleh James mengiriminya uang untuk bea masuk sebesar 5 juta dollar.. Entah sedang jatuh cinta atau tergiur pada uang sebanyak itu, Yani pun memenuhi permintaan kekasih mayanya. Lalu dikirimlah uang sebesar 30 juta rupiah. Setelah uang terkirim, Yani baru tersadar kalau dirinya ditipu. Langsung ia melapor ke polisi dan dalam waktu singkat komplotan ini tertangkap. Ternyata si James ini orang Afrika yang bekerja sama dengan pacarnya seorang wanita Indonesia.
Seorang teman sebut saja Lenny, sedang masalah dengan rumah tangganya. Ketemu scamer cinta bernama Joe yang kebetulan ada di Indonesia. Dia mengaku warga Kanada , maka jatuhlah Lenny dalam pelukannya. Mereka sering bersama dan anehnya biaya semua dari Lenny dari makan hingga sewa apt. Alasan si pria nunggu uangnya cair dari UK. Sebulan berlalu, Joe butuh uang katanya mau investasi sama temannya (ternyata komplotannya juga). Lenny minjam sana sini dan 5000 dollar pun diserahkan pada Joe. Habis terima uang, Joe mengajak anak anak Lenny belanja dan dengan bangga Lenny bilang betapa perhatiannya si Joe pada keluarganya. Ngga sadar yang dipakai uangnya juga.
Beberapa hari kemudian Joe mengajaknya menyaksikan cara membuat dollar palsu, katanya uang yang 5000 sudah diserahkan pada teman Joe, nantinya jadi 10.000. Tak lama bungkusan besar diserahkan pada Lenny , kata Joe semua berjumlah 10.000 tapi harus dibuka beberapa hari kemudian. Begitu dus di buka yang ada hanya kertas lembaran. Lenny pingsan dan Joe menghilang. Dia rugi dua kali, ibarat main catur , SKAK dan STER. Rugi sudah di apa apain plus uang pinjaman melayang.
Korban lain sebut saja Jenifer. Ia tertipu rayuan gombal pria yang dikenalnya lewat internet. Si pria mengaku tentara Amerika yang sedang bertugas di Iraq. Dia mulai membicarakan masa depan nan indah. Katanya ia ingin hidup di Indonesia bersama Jenifer. Dia ingin memberikan berlian, dan laptop. tetapi menurutnya barang-barang itu tertahan di Malaysia.
Tak lama kemudian, ada orang yang mengaku dari Custom Malaysia ( padahal komplotannya juga) yang meminta uang tebusan karena ” hadiah wah” tertahan di airport Malaysia. Demi cintanya pada si pria, Jenifer yang sudah mengkhayal bakal dapat hadiah super mewah harus kehilangan uang 700 juta rupiah yang didapatnya dari menjual perhiasan, mobil dan menggadaikan rumah. Setelah uang melayang, si pria pun menghilang.
Ciri-ciri seorang scamer cinta :
Biasa memasang foto bule yang diambil dari majalah model pria. Biasanya cuma ada satu atau dua photo yang dipajang.
Mengaku engineer, dokter, tentara, mariner, staff di UN, NATO dll, atau businessman
Sedang tugas di UK, Afrika, Malaysia atau negara lainnya biar keliatan sibuk
Baru kenal udah manggil honey, baby , super perhatian dan agresive.
Kadang kirim bunga biar wanita makin ke GR an
Omongin masa depan bersama, pengen invest, beli rumah mewah di Indonesia
Mengajak si wanita hidup di luar negeri dengan segala kemewahan yang dijanjikan biar makin klepekan
Mulai cerita yang bikin iba si wanita, mengaku duda mengurus anak dua karena istrinya selingkuh. Nanti dia pura pura nangis dan bilang anaknya masuk rumah sakit, minta kirim uang biaya rumah sakit.
Jika si wanita seorang muslim, maka ” si honey ” akan bilang bersedia menjadi muslim. Siapa yang tak bangga pujaan hati siap pindah agama demi cintanya pada si wanita.
Pura pura mau jual rumah super mewah di luar negeri, tapi ada masalah karena rebutan sama mantan bini. Mau bayar lawyer ngga ada duit, pinjam uang dulu sama si korban, dengan janji hasil penjualan rumah akan dikirim buat si wanita.
Menawarkan hadiah mewah seperti berlian, laptop, dll tapi ketika dikirim alasan barang tertahan di Malaysia dan minta si wanita kirim uang untuk mengeluarkan barang-barang mahal tsb.
Si bule palsu mengatakan akan datang ke Indonesia, lalu memperlihatkan kertas seperti tiket online. Padahal cuma booking saja. Di situ akan ada tulisan bahwa ybs belum membayar dan memperlihatkan passport.
Ngaku engineer sedang beli alat berat, uang nggak cukup dan meminta pinjaman sedikit saja agar bisnisnya lancar. Katanya demi masa depan berdua.
Untuk meyakinkan kalau uang sudah di kirim, mereka menggunakan form palsu lengkap dengan track number. Caranya gampang, cek di google pasti ketauan palsu banget.
Mereka menggunakan telpon dengan no awal +44 70 bagi yang ngga ngerti dikira benar dari UK, padahal +44 70 adalah sebuah system telekomunikasi di UK yang disebut 070 Follow me Numbers. Bisa diakses dari mana saja. Biasanya scamers menelpon dari Nigeria dengan menggunakan 070 ini. Silahkan cek http://www.scamwarners.com/forum/viewtopic.php?f=3&t=16485
Agar terhindar dari rayuan gombal scamer cinta ;
Jangan mudah percaya pada foto yang diperlihatkan hanya satu atau dua buah
Pertama chat ajak bicara cam to cam ( pasti nolak dengan banyak alasan)
Suruh telpon dan kenali logatnya, jangan asal dengar cowok pake bahasa Inggris dah dianggap bule
Jika mereka tak dapat memenuhi syarat di atas, bye…bye ajah. Untuk apa kenalan dengan manusia nggak jelas.
Memang sih tak semua pria yang dikenal lewat internet sebagai scamer cinta. Banyak wanita Indonesia yang menemukan pria baik dari berbagai bangsa lewat internet. Lalu mereka saling mengenal cukup lama, akhirnya menikah dan hidup bahagia.
Jodoh memang Allah yang menentukan, namun caranya berbeda-beda. Ada yang lewat internet, kenalan, sahabat jadi pasangan dll. Tetapi sebagai wanita kita tetap harus waspada. Jangan mudah termakan rayuan gombal dari pria dimana saja.
Tulisan ini hanya sekedar berbagi agar kita semua waspada dan bisa mengingatkan keluarga dan teman-teman. Semoga manfaat.
Labels:
Cerita,
informasi,
Lika-liku kehidupan
5.24.2012
Syarat Menikah dengan Warga Negara Asing (WNA)
Posted by
Aisyah
at
10:35:00 PM
![]() |
| Syarat menikah denganWNA |
To the point aja ya.., ketika kita akan menikah dengan warga negara asing (WNA), syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk ke KUA adalah :
1. Copy KTP dan copy Kartu Keluarga calon pengantin
2. Surat Pengantar RT/RW/Kelurahan dari wilayah setempat (di mana KTP kita terdaftar)
3. Surat Keterangan untuk menikah (N-1) dari kelurahan
4. Surat Keterangan asal-usul (N-2) dari kelurahan
5. Surat keterangan tentang orang tua (N-4) dari kelurahan
6. Pas foto 2x3= 4 lembar
7. Copy paspor dan visa
8. Surat ijin dari kepolisian setempat
9. Surat ijin menikah dari kedutaan (CNI = Certified Non Impediment- to marriage, atau surat yang menyatakan tidak keberatan atas ybs untuk menikah di Indonesia)
10. Copy Identitas diri dan akta lahir
11. Surat Lunas Pajak (bagi mereka yang bekerja di Indonesia)
12. Surat Keterangan dari dinas kependudukan (bagi mereka yang bekerja di Indonesia)
13. Sertifikat masuk islam (bagi mereka yang sebelumnya non muslim)
Keterangan tambahan:
- Penikahan kami melalui KUA karena kami berdua Alhamdulillah muslim, apabila kedua calon bukan muslim, maka dilakukan di catatan sipil dan bisa ditanyakan di catatan sipil setempat untuk syarat2nya.
- Berdasarkan pengalaman, yang pertama kali di lakukan sebaiknya meminta CNI dari kedutaan. Kalau bisa jangan lewat telpon apalagi email karena akan membutuhkan waktu lama dalam pelaksanaannya. Dulu dibilang proses CNI itu 2 bulan, tetapi setelah datang langsung ke kedutaan Canada, ternyata Alhamdulillah prosesnya hanya 5 hari kerja dan membayar 256.000 untuk adminstrasinya.
Setelah CNI selesai, foto dan dokumen lain lengkap semua, langsung minta surat pengantar ke RT --> RW --> Kelurahan --> baru ke KUA. Biasanya untuk RT, RW, kelurahan akan di charge seihlasnya (untuk KUA bergantung KUA nya :P ).
Jangan dipusingkan oleh N-1, N-2, N-4 karena itu yang ngurus kelurahan, bukan kita.
Untuk foto, Alhamdulillah bisa terpisah, dalam arti kami tidak harus datang langsung untuk berfoto bersama dalam 1 pas foto, tapi bisa terpisah-pisah, jadi lebih mudah terutama jika sang calon pengantin tinggal beda wilayah pada saat itu.
Surat Ijin dari kepolisian setempat bergantung kondisi calon pengantin. Apabila yang bersangkutan sudah ada di Indonesia, sebaiknya langsung ke kepolisian setempat dengan membawa copy visa on arrivalnya, tapi kalau masih belum di Indonesia, bilang aja ke KUA kalau dokumen tersebut akan disusulkan setelah dia datang. Insyaa Allaah untuk surat ijin dari kepolisian ini bisa ditunggu, bawa aja copy CNI, passport, ktp dan visa on arrival sebagai syaratnya. Yang penting sudah setting date dulu ke KUA bahwa kita akan menikah di tanggal sekian, jam sekian dan visa on arrival menyusul. Waktu itu aja ngurus surat ijin dari kepolisiannya pagi hari percis di hari H pernikahan (nikahnya sore) qeqeqe nekat banget. Alhamdulillah saat itu ada sahabat2ku yang membantu mengurusi surat ijin kepolisian ini, jazaakumullah khair ya teman-teman... subhaanallah... semoga Allah mereward kalian dengan yang jaaaauuuuhhh lebih baik lagi, memudahkan semua urusan kalian dan selalu memberikan yang terbaik bagi dunia akhirat kalian. Amin. Amin. Baarakallah fiikum semoga Allah selalu memberkahi kehidupan kalian. Amin. Sekali lagi terima kasih banyak telah amat sangat membantu kami, hanya Allah lah yang bisa membalas kebaikan kalian. Love you all.
Karena saat itu calon suami tidak tinggal dan tidak bekerja di Indonesia, maka mohon maaf tidak bisa sharing tentang Surat Lunas Pajak dan Surat Keterangan dari dinas kependudukan.
Bagi mereka yang berasal dari negara bukan muslim seperti Canada misalnya, KUA akan menanyakan agama calon kita karena tidak ada satupun informasi agama di seluruh dokumen yang ada. Walaupun dari namanya sudah jelas-jelas muslim tapi tetap akan dimintai keterangan kalau beliau adalah seorang muslim. Alhamdulillah pada saat itu KUA percaya kalau calon suami adalah muslim. Tapi ketika mengurus stempel buku nikah ke kemeterian agama, mereka akan tetap meminta surat keterangan kalau suami adalah muslim.
Mungkin itu dulu yang bisa di-share, semoga bermanfaat. Bagi yang akan melangsungkan pernikahan, menggenapkan setengah dari Dien ini, semoga Allah mudahkan jalannya dan Allah jadikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Amin.
Teman-teman semuanya.... dikarenakan semakin banyak yang bertanya lewat email dengan pertanyaannya hampir sama bahkan terkadang memang sama, ada juga yang sudah saya tulis di blog tapi masih ditanyakan kembali. Jadi untuk tidak mengulang jawaban yang sama ke beberapa email dan agar teman2 bisa sharing pengalaman di sini juga sehingga bisa lebih bermanfaat bagi pembaca yang lain. Oleh karena itu dimohon semua pertanyaan dituliskan di sini. Kecuali pertanyaan yang memang benar-benar sangat pribadi.
Terima kasih :) . Semoga Allaah selalu memudahkan urusan kita semua. Amin.
Labels:
Cerita,
informasi,
Lika-liku kehidupan,
Pernikahan
5.01.2010
Perbandingan Modem Internet dengan Kartu Smart, XL dan 3
Posted by
Aisyah
at
5:48:00 PM
Ini hanya sekedar berbagi pengalaman aja yaaa.. Maaf jika langsung menyebut nama brand-nya. Beberapa bulan lalu, aku adalah pengguna smart, beberapa hari yang lalu aku adalah pengguna XL unlimited Rp 150.000,- per bulan, dan kemaren aku resmi menjadi pengguna 3.
Untuk Smart dan XL, signal di kamarku ga terlalu bagus, padahal aku tinggal di daerah Sudirman, tapi yang aku rasakan setiap kali download tuh leleeeetttnyaaaa minta amppyyyuunn... (kecuali di hari-hari pertama bayar dan di waktu-waktu tertentu seperti subuh) padahal itu udah di step HSDPA tapi kecepatannya sekitar 100an Kbps, atau 200an Kbps itu jarang, tapi pernah sampai 300an Kbps juga tapi itu jarang banget banget, yang paling sering tuh 10, 30, 50an Kbps. Akhirnya ada teman kost-an yang menawarkan 3.
Kata dia signalnya bagus, lagian lebih murah pula dari XL. Akhirnya siang itu dengan sepedaku, aku langsung ke Plaza Semanggi untuk setting 3 dengan modem ZTE yang dulu biasa aku pake buat XL, ga sabar coba 3 dan coba download, wow subhanallaahhh... kecepatannya minta amppyyyuunnn jugaaa... Tau ga, sampe 600 bahkan ampe 700an Kbps, yang kecepatan ini tuh belum pernah sama sekali aku dapet di XL unlimited 150.000,- per bulan atau unlimited Smart. Padahal 3 itu lebih murah lho, aku cuma bayar Rp 105.000,- udah sekalian sama nomer 3 yang baru dan unlimited juga sebulan.
Tapi ini baru hari ke 2 aku pake ya.... dan aku coba download lagi masih sama ko kecepatannya. Memang muangtafh 3. Semoga seterusnya akan seperti ini yaaaa... ga cuma di awal-awal aja.
So, bagi kalian yang punya pengalaman yang sama dengan aku dan pengen nyoba 3. Monggo silahkan.
(Sekali lagi mohon maaf bila langsung menyebutkan brand, ini hanya sharing pengalaman dan masukan bagi sesama konsumen).
3..... Memang muangtafh. ;)
/>
Untuk Smart dan XL, signal di kamarku ga terlalu bagus, padahal aku tinggal di daerah Sudirman, tapi yang aku rasakan setiap kali download tuh leleeeetttnyaaaa minta amppyyyuunn... (kecuali di hari-hari pertama bayar dan di waktu-waktu tertentu seperti subuh) padahal itu udah di step HSDPA tapi kecepatannya sekitar 100an Kbps, atau 200an Kbps itu jarang, tapi pernah sampai 300an Kbps juga tapi itu jarang banget banget, yang paling sering tuh 10, 30, 50an Kbps. Akhirnya ada teman kost-an yang menawarkan 3.
Kata dia signalnya bagus, lagian lebih murah pula dari XL. Akhirnya siang itu dengan sepedaku, aku langsung ke Plaza Semanggi untuk setting 3 dengan modem ZTE yang dulu biasa aku pake buat XL, ga sabar coba 3 dan coba download, wow subhanallaahhh... kecepatannya minta amppyyyuunnn jugaaa... Tau ga, sampe 600 bahkan ampe 700an Kbps, yang kecepatan ini tuh belum pernah sama sekali aku dapet di XL unlimited 150.000,- per bulan atau unlimited Smart. Padahal 3 itu lebih murah lho, aku cuma bayar Rp 105.000,- udah sekalian sama nomer 3 yang baru dan unlimited juga sebulan.
Tapi ini baru hari ke 2 aku pake ya.... dan aku coba download lagi masih sama ko kecepatannya. Memang muangtafh 3. Semoga seterusnya akan seperti ini yaaaa... ga cuma di awal-awal aja.
So, bagi kalian yang punya pengalaman yang sama dengan aku dan pengen nyoba 3. Monggo silahkan.
(Sekali lagi mohon maaf bila langsung menyebutkan brand, ini hanya sharing pengalaman dan masukan bagi sesama konsumen).
3..... Memang muangtafh. ;)
Labels:
Belajar blog,
Cerita,
informasi
7.27.2009
Indonesia Besar Tapi Kecil
Posted by
Aisyah
at
5:01:00 PM
Tulisan ini membuat aku berfikir inilah Indonesiaku, bagaimanapun juga keadaannya, bagaimanapun juga sifat orang-orangnya, bagaimanapun juga situasi yang ada, inilah negeriku tercinta, Indonesia. Ayo kita sama-sama berusaha untuk memperbaiki citra buruk yang selama ini mereka pertontonkan/perkenalkan kepada fihak luar tentang Indonesia dan Ayo kita pertahankan dan tingkatkan hal baik yang sudah kita usahakan bersama.
========================================================================
Sumber: Suara pembaca detik.com
Oleh :Mukhamad Najib - suaraPembaca
Jakarta -
Mahasiswa saya bertanya, "Indonesia negara bagian ke berapa dari Amerika?"
Memang setiap kali saya menyebutkan asal saya, Indonesia, mahasiswa selalu tanya, di mana Indonesia? Beberapa mahasiswa hanya tahu nama dan beberapa lagi pernah dengar tentang Indonesia. Yang hanya tahu nama pun banyak yang tertukar dengan India.
Sebagai anak yang lahir dan tumbuh di Indonesia, menghirup udaranya Indonesia,
memakan beras petaninya Indonesia, kecintaan saya pada Indonesia tentu sangat terusik. Bagaimana tidak, seorang mahasiswa bilang "saya pernah ke Singapura, besar mana Indonesia dengan Singapura?"
Mahasiwa yang lain bilang "waktu saya ke Twins Tower di Malaysia berkenalan dengan orang Indonesia, Indonesia sebelah mana Malaysia?" Mahasiswa yang pernah homestay di New Zealand mengatakan "katanya Indonesia panas sekali ya?"
Ah, rasanya ingin sekali saya menjelaskan kepada mereka bahwa nenek moyang mereka pernah datang menjajah negeri saya. Tidakkah mereka diajarkan tentang sejarah itu oleh guru-guru mereka. Ingin sekali saya katakan pada mereka bahwa Indonesia jauh lebih besar dari Malaysia apalagi Singapura. Bahkan, Indonesia lebih besar dari negeri mereka.
Namun, saya sedar. Ketidaktahuan mereka tentang Indonesia bukanlah salah mereka. Bukan juga salah Singapura, Malaysia, atau New Zealand yang jauh lebih dikenal mereka. Tentu ini salah kita sendiri yang tak mampu mengkapitalisasi seluruh potensi yang kita miliki menjadi sesuatu yang layak dikenal dunia dan dihargai.
Saya ajak mereka mendekat komputer, saya buka internet, saya tunjukkan peta
Indonesia di antara peta dunia. Mereka terkejut melihat Indonesia yang luas dan berisi banyak pulau. Mereka lebih terkejut ketika saya katakan "di Indonesia, tidak ada panas yang terlalu seperti saat summer di Jepang, tidak juga ada dingin yang terlalu seperti saat winter."
Mereka terkejut ketika saya bercerita tentang kekayaan budaya Indonesia. Saya katakan Amerika yang besar cuma punya satu bahasa. Tapi, di Indonesia kami punya banyak sekali bahasa daerah, beragam pakaian adat, beragam warna kulit dan beragam tradisi dan budaya.
Beberapa bulan lalu, saat mengikuti kuliah keselamatan peneliti di negara asing, seorang dosen menjelaskan negara-negara yang rawan bagi peneliti, yang membutuhkan kewaspadaan tinggi bagi mereka yang mau mengunjungi. Salah satu negara yang paling sering disebut adalah Indonesia. Sang dosen menayangkan gambar lengkap dengan foto-foto tentang Indonesia. Dari mulai buruknya sanitasi sampai potensi Kriminal yang mungkin akan dihadapi.
Saya kesal, karena yang ditayangkan foto-foto kerusuhan yang terjadi lebih dari 10 tahun lalu. Foto-foto pedagang es di pinggir jalan yang tidak higienis. Foto-foto orang mandi di kali. Foto-foto penodongan, pencopetan, dan
penjambretan, sampai foto-foto daerah rawan flu burung.
Semua foto itu asli. Mereka tidak sedang mengarang-ngarang cerita karena semua
gambar yang ditayangkan saya bisa mengenalinya. Dan itu memang benar-benar gambaran Indonesia. Masalahnya, itu hanyalah sebagian kecil realitas Indonesia. Tentang kerusuhan dan flu burung sudah lama sekali terjadi.
Foto pedagang es saya yakini para peneliti takkan membeli. Tentang mandi di kali juga saya yakin tidak akan dialami. Paling mungkin soal penodongan, pencopetan, dan penjambretan yang memang masih sering terjadi. Yang saya sedihkan mengapa gambaran ini yang tertangkap kuat di benak mereka?
Saya benar-benar sedih. Indonesia tidak dikenali. Kalau pun dikenali dalam wajahnya yang buruk sekali. Walau bagaimana pun itulah kenyataanya. Meski kita berteriak kita kaya. Punya negeri yang indah menawan. Desa-desa yang menentramkan. Tidak akan mudah mengubah pandangan mereka hanya dalam satu pembicaraan. Karena mereka butuh bukti nyata dari kita semua. Bahwa Indonesia bukanlah seperti apa yang ada di kepala mereka.
Sebenarnya upaya untuk membangun citra bangsa di dunia Internasional telah banyak dilakukan. Baik secara individual maupun kolektif. Prestasi atlit kita, seperti tinju, bulu tangkis, catur dan lain-lainnya tidak bisa dibandingkan dengan Singapura atau Malaysia. Begitu juga prestasi pelajar-pelajar kita dalam lomba-lomba internasional sangat luar biasa.
Kegiatan-kegiatan promosi budaya juga sering dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia tanpa pamrih atau pun imbalan dari pemerintah. Semua dilakukan semata karena cinta Indonesia. Persoalannya prestasi atau pun kerja-kerja individual menjadi kurang kuat pengaruhnya ketika negara secara kolektif tidak mampu menampilkan wajah indahnya di dunia.
Prestasi individual anak bangsa ternegasikan oleh tingginya angka kemiskinan dan kejahatan. Gambaran Indonesia yang tentram tercerabut oleh buruknya penanganan bencana. Wajah indah Nusantara, dengan kakayaan pariwisata yang tak ada duanya, bukan hanya ternoda oleh buruknya industri penerbangan kita, tapi juga tertutup oleh kelakuan buruk sebagian kecil anak bangsa.
Mudah-mudahan pemimpin yang baru terpilih tidak hanya sibuk memanipulasi citra dirinya di mata anak bangsa. Tapi, bekerja keras melahirkan karya nyata yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa di dunia. Semoga pemimpin yang terpilih tidak asyik dengan manipulasi prestasi. Tapi, benar-benar berkorban untuk mensejahterakan rakyat secara nyata. Benar-benar berjuang menguatkan posisi tawar Indonesia diantara bangsa-bangsa di dunia, yang pada akhirnya mampu membuat kita benar-benar bangga sebagai anak bangsa. Semoga.
Mukhamad Najib
4-6-41 Shirokanedai Minato-Ku Tokyo
mnajib23@yahoo.com
+81-90-982-10-982
(msh/msh)
/>
========================================================================
Sumber: Suara pembaca detik.com
Oleh :Mukhamad Najib - suaraPembaca
Jakarta -
Mahasiswa saya bertanya, "Indonesia negara bagian ke berapa dari Amerika?"
Memang setiap kali saya menyebutkan asal saya, Indonesia, mahasiswa selalu tanya, di mana Indonesia? Beberapa mahasiswa hanya tahu nama dan beberapa lagi pernah dengar tentang Indonesia. Yang hanya tahu nama pun banyak yang tertukar dengan India.
Sebagai anak yang lahir dan tumbuh di Indonesia, menghirup udaranya Indonesia,
memakan beras petaninya Indonesia, kecintaan saya pada Indonesia tentu sangat terusik. Bagaimana tidak, seorang mahasiswa bilang "saya pernah ke Singapura, besar mana Indonesia dengan Singapura?"
Mahasiwa yang lain bilang "waktu saya ke Twins Tower di Malaysia berkenalan dengan orang Indonesia, Indonesia sebelah mana Malaysia?" Mahasiswa yang pernah homestay di New Zealand mengatakan "katanya Indonesia panas sekali ya?"
Ah, rasanya ingin sekali saya menjelaskan kepada mereka bahwa nenek moyang mereka pernah datang menjajah negeri saya. Tidakkah mereka diajarkan tentang sejarah itu oleh guru-guru mereka. Ingin sekali saya katakan pada mereka bahwa Indonesia jauh lebih besar dari Malaysia apalagi Singapura. Bahkan, Indonesia lebih besar dari negeri mereka.
Namun, saya sedar. Ketidaktahuan mereka tentang Indonesia bukanlah salah mereka. Bukan juga salah Singapura, Malaysia, atau New Zealand yang jauh lebih dikenal mereka. Tentu ini salah kita sendiri yang tak mampu mengkapitalisasi seluruh potensi yang kita miliki menjadi sesuatu yang layak dikenal dunia dan dihargai.
Saya ajak mereka mendekat komputer, saya buka internet, saya tunjukkan peta
Indonesia di antara peta dunia. Mereka terkejut melihat Indonesia yang luas dan berisi banyak pulau. Mereka lebih terkejut ketika saya katakan "di Indonesia, tidak ada panas yang terlalu seperti saat summer di Jepang, tidak juga ada dingin yang terlalu seperti saat winter."
Mereka terkejut ketika saya bercerita tentang kekayaan budaya Indonesia. Saya katakan Amerika yang besar cuma punya satu bahasa. Tapi, di Indonesia kami punya banyak sekali bahasa daerah, beragam pakaian adat, beragam warna kulit dan beragam tradisi dan budaya.
Beberapa bulan lalu, saat mengikuti kuliah keselamatan peneliti di negara asing, seorang dosen menjelaskan negara-negara yang rawan bagi peneliti, yang membutuhkan kewaspadaan tinggi bagi mereka yang mau mengunjungi. Salah satu negara yang paling sering disebut adalah Indonesia. Sang dosen menayangkan gambar lengkap dengan foto-foto tentang Indonesia. Dari mulai buruknya sanitasi sampai potensi Kriminal yang mungkin akan dihadapi.
Saya kesal, karena yang ditayangkan foto-foto kerusuhan yang terjadi lebih dari 10 tahun lalu. Foto-foto pedagang es di pinggir jalan yang tidak higienis. Foto-foto orang mandi di kali. Foto-foto penodongan, pencopetan, dan
penjambretan, sampai foto-foto daerah rawan flu burung.
Semua foto itu asli. Mereka tidak sedang mengarang-ngarang cerita karena semua
gambar yang ditayangkan saya bisa mengenalinya. Dan itu memang benar-benar gambaran Indonesia. Masalahnya, itu hanyalah sebagian kecil realitas Indonesia. Tentang kerusuhan dan flu burung sudah lama sekali terjadi.
Foto pedagang es saya yakini para peneliti takkan membeli. Tentang mandi di kali juga saya yakin tidak akan dialami. Paling mungkin soal penodongan, pencopetan, dan penjambretan yang memang masih sering terjadi. Yang saya sedihkan mengapa gambaran ini yang tertangkap kuat di benak mereka?
Saya benar-benar sedih. Indonesia tidak dikenali. Kalau pun dikenali dalam wajahnya yang buruk sekali. Walau bagaimana pun itulah kenyataanya. Meski kita berteriak kita kaya. Punya negeri yang indah menawan. Desa-desa yang menentramkan. Tidak akan mudah mengubah pandangan mereka hanya dalam satu pembicaraan. Karena mereka butuh bukti nyata dari kita semua. Bahwa Indonesia bukanlah seperti apa yang ada di kepala mereka.
Sebenarnya upaya untuk membangun citra bangsa di dunia Internasional telah banyak dilakukan. Baik secara individual maupun kolektif. Prestasi atlit kita, seperti tinju, bulu tangkis, catur dan lain-lainnya tidak bisa dibandingkan dengan Singapura atau Malaysia. Begitu juga prestasi pelajar-pelajar kita dalam lomba-lomba internasional sangat luar biasa.
Kegiatan-kegiatan promosi budaya juga sering dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia tanpa pamrih atau pun imbalan dari pemerintah. Semua dilakukan semata karena cinta Indonesia. Persoalannya prestasi atau pun kerja-kerja individual menjadi kurang kuat pengaruhnya ketika negara secara kolektif tidak mampu menampilkan wajah indahnya di dunia.
Prestasi individual anak bangsa ternegasikan oleh tingginya angka kemiskinan dan kejahatan. Gambaran Indonesia yang tentram tercerabut oleh buruknya penanganan bencana. Wajah indah Nusantara, dengan kakayaan pariwisata yang tak ada duanya, bukan hanya ternoda oleh buruknya industri penerbangan kita, tapi juga tertutup oleh kelakuan buruk sebagian kecil anak bangsa.
Mudah-mudahan pemimpin yang baru terpilih tidak hanya sibuk memanipulasi citra dirinya di mata anak bangsa. Tapi, bekerja keras melahirkan karya nyata yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa di dunia. Semoga pemimpin yang terpilih tidak asyik dengan manipulasi prestasi. Tapi, benar-benar berkorban untuk mensejahterakan rakyat secara nyata. Benar-benar berjuang menguatkan posisi tawar Indonesia diantara bangsa-bangsa di dunia, yang pada akhirnya mampu membuat kita benar-benar bangga sebagai anak bangsa. Semoga.
Mukhamad Najib
4-6-41 Shirokanedai Minato-Ku Tokyo
mnajib23@yahoo.com
+81-90-982-10-982
(msh/msh)
7.09.2009
Ihlas dan Sabar
Posted by
Aisyah
at
7:35:00 AM
Innalillah wainna Ilayhi raaji'uun..
Segalanya datang dari Allah dan segalanya akan kembali kepadanya. Kalimat inilah yang sering kita ucapkan ketika ada orang yang meninggal. Sering kita mengucapkan sesuatu, sehingga saking seringnya, saking umumnya, sampai terkadang kita lupa akan makna dari kalimat itu sendiri.
Tulisan ini untuk mengingatkan diriku sendiri tentang makna dari "Innalillah wainna Ilayhi raaji'uun". Ketika ayahanda tercintaku meninggal, aku adalah satu-satunya anak yang berada di luar kota dan tidak sempat melihat wajahnya yang terakhir kali, tidak sempat memandikan dan segalanya, karena semuanya telah usai ketika kudatang. Aku sempat pingsan saat berada di halaman rumah dan digotong banyak orang ke dalam. Saat itu aku belum terlalu dalam memaknai kata "Ihlas", Ihlas kalau segalanya adalah milik Allah, Allah hanya menitipkan semuanya kepada kita dan kalau Allah akan mengambil titipan Nya, maka itu adalah hak prerogatif Allah, sama sekali bukan milik kita sehingga kita harus IHLAS merelakan kepergian seseorang yang kita cintai atau kehilangan sesuatu yang kita sukai.
Setelah ihlas, aku mencoba untuk bersabar. Sabar akan semua keadaanku, sabar akan segala apa yang terjadi padaku apapun itu. Semuanya harus kuserahkan Ihlas kepada Allah, biarlah Allah yang maha tau yang terbaik yang menentukan yang apa dan siapa yang terbaik untukku, untuk dunia akhiratku, tugasku hanyalah berusaha, berusaha, berusaha dan berdoa, dan kembali lagi, serahkan semuanya kepada Allah, dan bersabar atas semua ketentuan-Nya.
Ada satu pelajaran yang bisa aku petik. Ternyata, kehidupan manusia dijalankan dengan sesuatu yang simple saja. Semuanya tinggal kita lakukan saja apa yang kita bisa, apa yang kita mampu dan jangan terlalu terfokus oleh suatu "target" dan "keinginan yang besar". Walaupun memang kita butuh target untuk mensupport diri kita, tapi ternyata ada keterkaitan yang besar yang aku rasakan antara "target" dan "ihlas", semakin aku mencoba untuk menargetkan sesuatu, semakin aku tidak bisa mencapai target yang aku inginkan, semakin rasa ihlasku menurun. Padahal saat aku tidak menargetkan sesuatu, aku sering mendapatkan hal yang lebih besar yang Allah berikan dan membuatku sangat bersyukur. Tapi di sisi lain, di saat target itu tidak tercapai walau dengan usaha maksimal yang telah kita lakukan, yang ada dalam diri ini hanyalah suatu kehampaan dan ketidakihlasan menerima suatu keadaan, dan inilah ternyata yang berdampak besar menyakiti dan membebani diri kita sendiri.
Aku sangat terkesan dengan seorang sahabat yang bernama Ummu Sulaim yang pernah aku ceritakan di sini, subhanallah... betapa tegarnya beliau dan betapa ihlasnya melepas kepergian anaknya dan Allah gantikan dengan anak-anak lain yang lebih baik. Subhanallah.. itulah hikmah dari suatu kesabaran. Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita bila kita ihlas dan sabar dengan segala ketentuan-Nya. Tentunya dengan satu kunci utama "Innalillah wainna Ilayhi raaji'uun" tidak ada yang kita bawa saat kita lahir dan tidak ada yang kita bawa pada saat kita meninggal. Semua orang dan barang yang kita miliki hanyalah titipan Allah yang suatu saat akan Allah ambil kembali dan tentunya "akan dimintai pertanggungjawaban" masing-masing. So, beruntunglah bagi mereka yang tidak terlalu banyak harta karena pertanggungjawaban harta mereka sedikit dan lebih beruntunglah mereka yang mempunyai harta yang selalu digunakan untuk kebaikan. Janganlah berburuk sangka kepada Allah dan yakinlah apa yang Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik bagi kita menurut Allah.
Tulisan ini hanya sekedar perenungan dan nasihat diri.
Segalanya datang dari Allah dan segalanya akan kembali kepadanya. Kalimat inilah yang sering kita ucapkan ketika ada orang yang meninggal. Sering kita mengucapkan sesuatu, sehingga saking seringnya, saking umumnya, sampai terkadang kita lupa akan makna dari kalimat itu sendiri.
Tulisan ini untuk mengingatkan diriku sendiri tentang makna dari "Innalillah wainna Ilayhi raaji'uun". Ketika ayahanda tercintaku meninggal, aku adalah satu-satunya anak yang berada di luar kota dan tidak sempat melihat wajahnya yang terakhir kali, tidak sempat memandikan dan segalanya, karena semuanya telah usai ketika kudatang. Aku sempat pingsan saat berada di halaman rumah dan digotong banyak orang ke dalam. Saat itu aku belum terlalu dalam memaknai kata "Ihlas", Ihlas kalau segalanya adalah milik Allah, Allah hanya menitipkan semuanya kepada kita dan kalau Allah akan mengambil titipan Nya, maka itu adalah hak prerogatif Allah, sama sekali bukan milik kita sehingga kita harus IHLAS merelakan kepergian seseorang yang kita cintai atau kehilangan sesuatu yang kita sukai.
Setelah ihlas, aku mencoba untuk bersabar. Sabar akan semua keadaanku, sabar akan segala apa yang terjadi padaku apapun itu. Semuanya harus kuserahkan Ihlas kepada Allah, biarlah Allah yang maha tau yang terbaik yang menentukan yang apa dan siapa yang terbaik untukku, untuk dunia akhiratku, tugasku hanyalah berusaha, berusaha, berusaha dan berdoa, dan kembali lagi, serahkan semuanya kepada Allah, dan bersabar atas semua ketentuan-Nya.
Ada satu pelajaran yang bisa aku petik. Ternyata, kehidupan manusia dijalankan dengan sesuatu yang simple saja. Semuanya tinggal kita lakukan saja apa yang kita bisa, apa yang kita mampu dan jangan terlalu terfokus oleh suatu "target" dan "keinginan yang besar". Walaupun memang kita butuh target untuk mensupport diri kita, tapi ternyata ada keterkaitan yang besar yang aku rasakan antara "target" dan "ihlas", semakin aku mencoba untuk menargetkan sesuatu, semakin aku tidak bisa mencapai target yang aku inginkan, semakin rasa ihlasku menurun. Padahal saat aku tidak menargetkan sesuatu, aku sering mendapatkan hal yang lebih besar yang Allah berikan dan membuatku sangat bersyukur. Tapi di sisi lain, di saat target itu tidak tercapai walau dengan usaha maksimal yang telah kita lakukan, yang ada dalam diri ini hanyalah suatu kehampaan dan ketidakihlasan menerima suatu keadaan, dan inilah ternyata yang berdampak besar menyakiti dan membebani diri kita sendiri.
Aku sangat terkesan dengan seorang sahabat yang bernama Ummu Sulaim yang pernah aku ceritakan di sini, subhanallah... betapa tegarnya beliau dan betapa ihlasnya melepas kepergian anaknya dan Allah gantikan dengan anak-anak lain yang lebih baik. Subhanallah.. itulah hikmah dari suatu kesabaran. Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita bila kita ihlas dan sabar dengan segala ketentuan-Nya. Tentunya dengan satu kunci utama "Innalillah wainna Ilayhi raaji'uun" tidak ada yang kita bawa saat kita lahir dan tidak ada yang kita bawa pada saat kita meninggal. Semua orang dan barang yang kita miliki hanyalah titipan Allah yang suatu saat akan Allah ambil kembali dan tentunya "akan dimintai pertanggungjawaban" masing-masing. So, beruntunglah bagi mereka yang tidak terlalu banyak harta karena pertanggungjawaban harta mereka sedikit dan lebih beruntunglah mereka yang mempunyai harta yang selalu digunakan untuk kebaikan. Janganlah berburuk sangka kepada Allah dan yakinlah apa yang Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik bagi kita menurut Allah.
Tulisan ini hanya sekedar perenungan dan nasihat diri.
Labels:
Cerita
5.11.2009
Sinyal Kuat, Indosat?
Posted by
Aisyah
at
4:31:00 AM
Aku adalah salah satu pengguna setia kartu Indosat, IM3 tepatnya, sudah beberapa hari atau mungkin hitungan minggu HP ku ini selalu eror, tidak bisa menerima pesan sms tepat waktu, sms baru diterima sehari kemudian bahkan kadang tidak bisa dihubungi padahal HP dalam keadaan aktif. Sebenernya ada dua kemungkinan dari eror itu, yang pertama mungkin HP ku yang udah jebot, (maklum HP lama hehehe.. tapi Alhamdulillah masih berfungsi), yang kedua mungkin karena sinyalnya yang lemah.
Untuk memastikan eror yang pertama, aku udah tau sendiri jawabnya (lembiru alias lempar beli yang baru hehehe becanda ding), tapi sayang ada yang tidak mengizinkan namannya dana dan HP ku belum mau jadi barang koleksi seperti perangkoku, so aku coba berlanjut ke kemungkinan eror yang kedua yaitu kartu IM3 yang kupakai. Setelah mencoba bertanya pada para pengguna Indosat yang lain, ternyata memang benar, mereka mengalami hal yang sama padahal HP mereka tergolong baru dengan kata lain tidak ada masalah dengan produk handphone yang mereka gunakan. Jadi bisa dipastikan bahwa kemungkinan eror dan lambat menerima sms bukan karna HP ku yang udah tua dan jebot, tapi karena sinyal Indosat yang kalo ga salah di iklannya itu kuat ya? hehe.
Alhamdulillah ada satu teman yang memberikan resep menghindari ke-eroran yang sering terjadi, yaitu dengan mengganti settingan "network" di HP. Untuk informasi, HP yang aku pakai adalah produk Nokia, jadi selain Nokia mohon cari sendiri letak tepatnya settingan. Caranya:
1. Masuk ke Menu Utama
2. Pilih "tools"
3. klik network atau jaringan dalam bahasa Indonesia
4. Di sana ada 3 network mode, 1. Dual Mode, 2. UMTS, 3. GSM, nah... kita pilih yang GSM, jangan dual mode.
5. Klik OK
Sebenernya ada kelemahannya juga pakai opsi GSM pada saat kita memakai HP untuk internetan, mungkin akan sedikit lemot, tapi kalau kita jarang internetan kayak aku (makanya sekarang gaptek hehehe), alangkah lebih baiknya mengganti network mode menjadi GSM agar tidak ada atau kecil kemungkinannya untuk terjadi eror atau tidak bisa dihubungi.
Semoga bermanfaat.
/>
Untuk memastikan eror yang pertama, aku udah tau sendiri jawabnya (lembiru alias lempar beli yang baru hehehe becanda ding), tapi sayang ada yang tidak mengizinkan namannya dana dan HP ku belum mau jadi barang koleksi seperti perangkoku, so aku coba berlanjut ke kemungkinan eror yang kedua yaitu kartu IM3 yang kupakai. Setelah mencoba bertanya pada para pengguna Indosat yang lain, ternyata memang benar, mereka mengalami hal yang sama padahal HP mereka tergolong baru dengan kata lain tidak ada masalah dengan produk handphone yang mereka gunakan. Jadi bisa dipastikan bahwa kemungkinan eror dan lambat menerima sms bukan karna HP ku yang udah tua dan jebot, tapi karena sinyal Indosat yang kalo ga salah di iklannya itu kuat ya? hehe.
Alhamdulillah ada satu teman yang memberikan resep menghindari ke-eroran yang sering terjadi, yaitu dengan mengganti settingan "network" di HP. Untuk informasi, HP yang aku pakai adalah produk Nokia, jadi selain Nokia mohon cari sendiri letak tepatnya settingan. Caranya:
1. Masuk ke Menu Utama
2. Pilih "tools"
3. klik network atau jaringan dalam bahasa Indonesia
4. Di sana ada 3 network mode, 1. Dual Mode, 2. UMTS, 3. GSM, nah... kita pilih yang GSM, jangan dual mode.
5. Klik OK
Sebenernya ada kelemahannya juga pakai opsi GSM pada saat kita memakai HP untuk internetan, mungkin akan sedikit lemot, tapi kalau kita jarang internetan kayak aku (makanya sekarang gaptek hehehe), alangkah lebih baiknya mengganti network mode menjadi GSM agar tidak ada atau kecil kemungkinannya untuk terjadi eror atau tidak bisa dihubungi.
Semoga bermanfaat.
Labels:
Cerita
2.26.2009
Ketahuan Deh Penipu
Posted by
Aisyah
at
5:35:00 AM
Pernah baca postinganku tentang scammer dan lanjutannya yang menceritakan banyak pengalaman mereka yang kena penipuan lewat internetdi sini dan hari ini aku mau sharing tentang scamming the scammer. Ini lanjutan dari ceritaku yang dulu di sini. Jadi singkat cerita, hari ini aku pengen ngabisin ni scammer dengan cara langsung manggil dia scammer!! hahahah puas banget aku hari itu. Ceritanya dia pake nama cewe, ID yahoo nya sincerityandlogic@yahoo.com trus nama yang dia pake tu Emilie Lopez.
Hari itu aku to the point langsung telpon dia lewat YM, trus dia suruh ngomong tapi dia tutup telponnya, yang kedua kalinya dia angkat, aku bilang please ngomong", dia bilang "ga punya mic dan ga boleh karena dalam keadaan kerja". Padahal aku denger jelas suara berisik di ruangan dia. Trus aku bilang "Kamu kan orang kaya banget, uang ga jadi masalah buat kamu, pastinya kamu punya kamera dong di laptopmu....aku mau kamu on cam" dia bilang "ga bisa, nanti aja pulang kerja beberapa jam lagi". Nah.. karna dalam keadaan dia terima telpon aku lewat YM kan aku tau tuh suasana di sana dari berisiknya termasuk berisik ngetiknya. Aku bisa dengar jelas dia tuh pake PC bukan laptop (seperti yang dulu dia pernah bilang), karena Aku dulu pake PC, bukan laptop dan aku tau jelas, bisa ngerasain bedanya suara menulis di PC dan menulis di laptop. Menulis di laptop suaranya akan terdengar lebih lembut. Pokoknya beda banget deh.
Dia ampe marah karena aku to the point bilang "Aku tau kamu tuh pake PC bukan laptop, Scammer!!, dan aku juga tau kamu tuh cowo, bukan cewe!", trus aku ngetawain dan nyudutin dia abis-abisan dan bener-bener bikin dia kesel. Tapi weish.. dia tuh bener-bener sabar banget, sampai akhirnya aku bilang ke dia cuma nge-test doang, nge test kamu tuh sebagai temen yang jujur atau ga dan apakah kamu tuh suka aku sebagai sahabat ataukah kamu tuh lesbong? hahaha dia ga terima dibilang lesbong padahal suka ngerayu aku (huuwwweeekkk), setelah itu dia tutup telponku. Karena dia sabar dan telaten jawabnya, akhirnya aku minta maaf ke dia karena udah "pura-pura nge-test kejujuran dia dengan mencap langsung dia scammer" dan cairlah kembali ketegangan itu.
Abis tu kita ngobrol biasa lagi dan aku minta dia kirim foto dia yang biasa, bukan seperti foto sexy yang pernah dia kirim, trus dia tanya ma aku untuk apa? aku bilang aku masih ragu ma kamu karna kamu tuh dari pertama kali chatting terasa aneh. Eh..dia tetep keukeuh ga mau, aku bilang lagi "ya udah kalo ga mau kirim foto, pasang aja foto kamu yang jelas di yahoo untuk buktikan kalo kamu tuh ga bohong". Hehehe tetep aja dia ga mau (ya iyyah lah.. foto yang pertama kali dia kirim kan bukan fotonya dia, itu foto model Perancis yang aku ga tau siapa).
Nah.. trus ada kesempatan bagus saat dia bilang "wait please, on phone" wahh.. aku langsung fikir ini kesempatan emas neh buat langsung buktikan kebenaran dia cowo apa cewe dari suaranya. Akhirnya langsung aku telpon dari komputer ke komputer, kebetulan pas aku minta dia "please accept my call" dia langsung accept dan ternyata booooo yang ada tuh suara cowo.. tadinya dia ngejauh dari komputernya, suaranya sedikit ga jelas, trus lama-lama jelas banget suaranya (aku yakin saat itu dia lagi ngomongin hal serius dan lupa kalo dia masih dalam keadaan bertepon di yahoo ma aku dan aku bisa dengar jelas suara dia). Dia reply gini waktu di telpon "Please honey, not now, yeah.. yeah.. i know but not now, please call me again later okay? click, suara hp dimatiin.
Trus kita sambung lagi chat yang tadi sambil aku bilang "hmmm suramu cantik dan ganteng ya? suaranya gentle". Trus aku bilang ma dia "boleh aku kasih saran, Scammer?!, kalo kamu mo nye-cam, hati-hati terima telpon di yahoo kalo kamu lagi chatting dan ngaku cewe," trus aku lanjutin "karna kamu akan langsung ketahuan kalo kamu tuh bohongin temen chat kamu"hahaha dia marah. Tanpa peduli aku lanjutin lagi "trus kalo kamu ngasih identitas tuh yang sama, jangan beda-beda... nanti orang tuh curiga dan gampang ngedeteksi kamu sebagai scammer!!", aku bilang gitu karena dulu dia ngasih identitas yang berbeda antara aku dan temenku.
Masih aku lanjutin lagi "kamu mau nasehatku yang lain biar kamu ga gampang terdeteksi kalo kamu tuh scammer?" Wah langsung dah dia marah abis dengan mengunakan icon kaget gitu sambil bilang "oh goddd why you dont believe me?", trus aku langsung cecer lagi dia dengan bilang, "kenapa kaget? kamu kaget ya identitas kamu sebagai scammer udah diketahui sebelum kamu benar-benar melakukan aksi?" hahaha dia lebih marah lagi. Semua urutan percakapan itu ngacak, tapi intinya seperti itu.
So, ati-ati ya kalo chat ma orang, terlebih lagi kalo dia tuh baiiikkk banget ampe mo kirim-kirim barang segala, apalagi kirim uang dan minta nomor rekening kita dll dll, intinya ati-ati aja karena banyak sekali scammer berkeliaran di jagat maya ini. Be careful.
Hari itu aku to the point langsung telpon dia lewat YM, trus dia suruh ngomong tapi dia tutup telponnya, yang kedua kalinya dia angkat, aku bilang please ngomong", dia bilang "ga punya mic dan ga boleh karena dalam keadaan kerja". Padahal aku denger jelas suara berisik di ruangan dia. Trus aku bilang "Kamu kan orang kaya banget, uang ga jadi masalah buat kamu, pastinya kamu punya kamera dong di laptopmu....aku mau kamu on cam" dia bilang "ga bisa, nanti aja pulang kerja beberapa jam lagi". Nah.. karna dalam keadaan dia terima telpon aku lewat YM kan aku tau tuh suasana di sana dari berisiknya termasuk berisik ngetiknya. Aku bisa dengar jelas dia tuh pake PC bukan laptop (seperti yang dulu dia pernah bilang), karena Aku dulu pake PC, bukan laptop dan aku tau jelas, bisa ngerasain bedanya suara menulis di PC dan menulis di laptop. Menulis di laptop suaranya akan terdengar lebih lembut. Pokoknya beda banget deh.
Dia ampe marah karena aku to the point bilang "Aku tau kamu tuh pake PC bukan laptop, Scammer!!, dan aku juga tau kamu tuh cowo, bukan cewe!", trus aku ngetawain dan nyudutin dia abis-abisan dan bener-bener bikin dia kesel. Tapi weish.. dia tuh bener-bener sabar banget, sampai akhirnya aku bilang ke dia cuma nge-test doang, nge test kamu tuh sebagai temen yang jujur atau ga dan apakah kamu tuh suka aku sebagai sahabat ataukah kamu tuh lesbong? hahaha dia ga terima dibilang lesbong padahal suka ngerayu aku (huuwwweeekkk), setelah itu dia tutup telponku. Karena dia sabar dan telaten jawabnya, akhirnya aku minta maaf ke dia karena udah "pura-pura nge-test kejujuran dia dengan mencap langsung dia scammer" dan cairlah kembali ketegangan itu.
Abis tu kita ngobrol biasa lagi dan aku minta dia kirim foto dia yang biasa, bukan seperti foto sexy yang pernah dia kirim, trus dia tanya ma aku untuk apa? aku bilang aku masih ragu ma kamu karna kamu tuh dari pertama kali chatting terasa aneh. Eh..dia tetep keukeuh ga mau, aku bilang lagi "ya udah kalo ga mau kirim foto, pasang aja foto kamu yang jelas di yahoo untuk buktikan kalo kamu tuh ga bohong". Hehehe tetep aja dia ga mau (ya iyyah lah.. foto yang pertama kali dia kirim kan bukan fotonya dia, itu foto model Perancis yang aku ga tau siapa).
Nah.. trus ada kesempatan bagus saat dia bilang "wait please, on phone" wahh.. aku langsung fikir ini kesempatan emas neh buat langsung buktikan kebenaran dia cowo apa cewe dari suaranya. Akhirnya langsung aku telpon dari komputer ke komputer, kebetulan pas aku minta dia "please accept my call" dia langsung accept dan ternyata booooo yang ada tuh suara cowo.. tadinya dia ngejauh dari komputernya, suaranya sedikit ga jelas, trus lama-lama jelas banget suaranya (aku yakin saat itu dia lagi ngomongin hal serius dan lupa kalo dia masih dalam keadaan bertepon di yahoo ma aku dan aku bisa dengar jelas suara dia). Dia reply gini waktu di telpon "Please honey, not now, yeah.. yeah.. i know but not now, please call me again later okay? click, suara hp dimatiin.
Trus kita sambung lagi chat yang tadi sambil aku bilang "hmmm suramu cantik dan ganteng ya? suaranya gentle". Trus aku bilang ma dia "boleh aku kasih saran, Scammer?!, kalo kamu mo nye-cam, hati-hati terima telpon di yahoo kalo kamu lagi chatting dan ngaku cewe," trus aku lanjutin "karna kamu akan langsung ketahuan kalo kamu tuh bohongin temen chat kamu"hahaha dia marah. Tanpa peduli aku lanjutin lagi "trus kalo kamu ngasih identitas tuh yang sama, jangan beda-beda... nanti orang tuh curiga dan gampang ngedeteksi kamu sebagai scammer!!", aku bilang gitu karena dulu dia ngasih identitas yang berbeda antara aku dan temenku.
Masih aku lanjutin lagi "kamu mau nasehatku yang lain biar kamu ga gampang terdeteksi kalo kamu tuh scammer?" Wah langsung dah dia marah abis dengan mengunakan icon kaget gitu sambil bilang "oh goddd why you dont believe me?", trus aku langsung cecer lagi dia dengan bilang, "kenapa kaget? kamu kaget ya identitas kamu sebagai scammer udah diketahui sebelum kamu benar-benar melakukan aksi?" hahaha dia lebih marah lagi. Semua urutan percakapan itu ngacak, tapi intinya seperti itu.
So, ati-ati ya kalo chat ma orang, terlebih lagi kalo dia tuh baiiikkk banget ampe mo kirim-kirim barang segala, apalagi kirim uang dan minta nomor rekening kita dll dll, intinya ati-ati aja karena banyak sekali scammer berkeliaran di jagat maya ini. Be careful.
Labels:
Cerita
1.18.2009
Anjing oh Anjing...
Posted by
Aisyah
at
5:20:00 AM
Haaaaaaaaaaaaa!!!!.... ga mauuuuu itu ada anjiiiiiiiiiinnggg... hukuhukhuk.. aku takuuuuutttt... (cepat-cepat aku lepaskan sepedaku dan berlindung dibalik pengendara motor. :( Itu pengalamanku tadi pagi di depan sebuah rumah yang di dalamnya ada jasa membersihkan motor dan makhluk itu.
Pagi minggu ini, aku gowes (bersepeda) mengitari Sudirman, dari Karet belok dari ratu plaza trus ke monas, dari monas balik lagi belokan ratu plaza, makan bubur bentar di mang "Kelingan Bae" yang ke arah Tanah Abang hmmm buburnya muantap lho.. maknyus, trus balik lagi ke HI trus pulang deh hehehe bolak-balik sendirian cape juga, tapi asyik. Puas!. Seneng liat banyaaak banget sepeda bertebaran di jalan Sudirman karena ada acara funbike Indosiar, Puas juga karena aku bawa sesuatu yang harus aku kembalikan ke temenku yang aku fikir lebih baik untuk tidak di gantungkan di sepeda, jadi aku bawa dengan tangan kanan dengan mendekapnya di depan dan bersepeda dengan satu tangan kiri, kecuali satu saat ketika bener-bener mepet banget di antara dua mobil, akhirnya aku pake dua tangan. wwwoooww puas bangeeeeeeeeeettt aku bener-bener seneng bisa sepedahan hanya pake tangan kiri dari karet ampe belokan ratu plaza ampe monas lagi tetap dengan satu tangan kiri sambil melewati banyak sepeda wow Subhanallah... puas bangggeeett.. asik. Aku seneng hehe (preman banget ya.. malu deh!).
Trus pas balik, aku liat ada tempat pencucian sepeda motor, aku fikir kan bisa juga sekalian nyuci sepeda karena emang udah lama sepedaku gak aku bersiin dan pengen tau gimana si hasilnya kalo dibersiin di situ. karena masih jam 9, aku fikir mungkin orangnya masih di dalem dan bentar lagi buka, jadi lebih baik aku tanya ke yang punya. Eeeeeeeeeeeeeehhh baru ampe depan pagarnya yang punya.. ada anjing menggonggong dan nyamperin aku, aku kan fobia banget ma anjing karena pengalamanku yang dulu dengan adikku. Ya udah deh otomatis aku ketakutan banget dan memasukkan sepedaku ke pintu gerbang supaya anjing itu gak bisa keluar. Eeeeeehhh ternyata pagarnya tuh gak tinggi-tinggi amat jadi ada kemungkinan si anjing akan langsung menerkamku dengan melewati pagar itu. Trus ada bapak-bapak bilang "jangan bergerak!, jangan gerak Mba.. diem aja di situ!.. Waduh, gimana bisa diem, yang ada malah ketakutan yang berlebih kalo tetep diem disitu deket banget sama anjingnya (sebenernya aku tau kalo dikejer anjing jangan lari, harus diem, tapi aku bener-bener takuuuttt.. takut bangeeett) spontanlah aku menjerit seeeee jerit-jeritnya trus ada beberapa mas-mas yang bantu nolongin, sementara aku tetap berlindung di samping mas-mas yang bawa motor dan ternyata dia mau bersiin motornya juga. Masya Allahhhhh malu banget akuu.. aku sampe mau nangis... karena ketakutan!!. Air mataku sedikit keluar dan yang keluar dari mulutku cuma kata-kata ketakutan "Ya Allah... aku takuuuuutttt... aku takuuuuuuuuuuttt.. Astaghfirullah.. aku takuuuuuutttt... aku takut bangeeeeettttt.. hukhukhuk.. aku takuuuuuttt" cuma itu yang terucap dari mulutku. Mas-mas disampingku berusaha nenangin aku dengan bilang "Mba.. tarik nafas panjang.. tarik nafas.. tenang.. tenang..." trus aku tetep dengan ketakutanku, dan sadar air mataku sedikit keluar, aku ganti kaca mataku dengan yang hitam (Alhamdulillah aku bawa kaca mata hitam saat itu). Setelah itu aku langsung pulang menenangkan diri. Masya Allah.... trauma banget aku sama makhluk Allah yang satu ini. Ampuni aku ya Allah...Ampuni akuuu...
/>
Pagi minggu ini, aku gowes (bersepeda) mengitari Sudirman, dari Karet belok dari ratu plaza trus ke monas, dari monas balik lagi belokan ratu plaza, makan bubur bentar di mang "Kelingan Bae" yang ke arah Tanah Abang hmmm buburnya muantap lho.. maknyus, trus balik lagi ke HI trus pulang deh hehehe bolak-balik sendirian cape juga, tapi asyik. Puas!. Seneng liat banyaaak banget sepeda bertebaran di jalan Sudirman karena ada acara funbike Indosiar, Puas juga karena aku bawa sesuatu yang harus aku kembalikan ke temenku yang aku fikir lebih baik untuk tidak di gantungkan di sepeda, jadi aku bawa dengan tangan kanan dengan mendekapnya di depan dan bersepeda dengan satu tangan kiri, kecuali satu saat ketika bener-bener mepet banget di antara dua mobil, akhirnya aku pake dua tangan. wwwoooww puas bangeeeeeeeeeettt aku bener-bener seneng bisa sepedahan hanya pake tangan kiri dari karet ampe belokan ratu plaza ampe monas lagi tetap dengan satu tangan kiri sambil melewati banyak sepeda wow Subhanallah... puas bangggeeett.. asik. Aku seneng hehe (preman banget ya.. malu deh!).
Trus pas balik, aku liat ada tempat pencucian sepeda motor, aku fikir kan bisa juga sekalian nyuci sepeda karena emang udah lama sepedaku gak aku bersiin dan pengen tau gimana si hasilnya kalo dibersiin di situ. karena masih jam 9, aku fikir mungkin orangnya masih di dalem dan bentar lagi buka, jadi lebih baik aku tanya ke yang punya. Eeeeeeeeeeeeeehhh baru ampe depan pagarnya yang punya.. ada anjing menggonggong dan nyamperin aku, aku kan fobia banget ma anjing karena pengalamanku yang dulu dengan adikku. Ya udah deh otomatis aku ketakutan banget dan memasukkan sepedaku ke pintu gerbang supaya anjing itu gak bisa keluar. Eeeeeehhh ternyata pagarnya tuh gak tinggi-tinggi amat jadi ada kemungkinan si anjing akan langsung menerkamku dengan melewati pagar itu. Trus ada bapak-bapak bilang "jangan bergerak!, jangan gerak Mba.. diem aja di situ!.. Waduh, gimana bisa diem, yang ada malah ketakutan yang berlebih kalo tetep diem disitu deket banget sama anjingnya (sebenernya aku tau kalo dikejer anjing jangan lari, harus diem, tapi aku bener-bener takuuuttt.. takut bangeeett) spontanlah aku menjerit seeeee jerit-jeritnya trus ada beberapa mas-mas yang bantu nolongin, sementara aku tetap berlindung di samping mas-mas yang bawa motor dan ternyata dia mau bersiin motornya juga. Masya Allahhhhh malu banget akuu.. aku sampe mau nangis... karena ketakutan!!. Air mataku sedikit keluar dan yang keluar dari mulutku cuma kata-kata ketakutan "Ya Allah... aku takuuuuutttt... aku takuuuuuuuuuuttt.. Astaghfirullah.. aku takuuuuuutttt... aku takut bangeeeeettttt.. hukhukhuk.. aku takuuuuuttt" cuma itu yang terucap dari mulutku. Mas-mas disampingku berusaha nenangin aku dengan bilang "Mba.. tarik nafas panjang.. tarik nafas.. tenang.. tenang..." trus aku tetep dengan ketakutanku, dan sadar air mataku sedikit keluar, aku ganti kaca mataku dengan yang hitam (Alhamdulillah aku bawa kaca mata hitam saat itu). Setelah itu aku langsung pulang menenangkan diri. Masya Allah.... trauma banget aku sama makhluk Allah yang satu ini. Ampuni aku ya Allah...Ampuni akuuu...
Labels:
Cerita
1.01.2009
Koleksi Perangko
Posted by
Aisyah
at
10:07:00 PM
Horee.... Libur panjang lagi... hmm asyiknya....
Liburan gini waktunya liat barang-barang di kamar yang dimuseum-kan hehe dan ternyata aku menemukan barang berharga berupa koleksi perangko beberapa tahun yang lalu. Mau lihat? ini dia.. jeng jeng....... lumayan banyak kan?

Setelah kulihat ternyata perangkoku masih acak adul alias masih banyak kertas yang menempel di bawahnya karena waktu kita beli, kita tempelkan kemaf map yang akan dikirim dengan menggunakan lem dan pastinya lem itu akan tetap menempel diantara kertas dan perangko kan? . Nah... untuk menghilangkan lem yang menempel diantara kertas dan perangko itu, kita gunakan air, rendam aja perangko di wadah (seadanya) seperti ini:

kemudian setelah mengelupas sendiri kertasnya, keringkan perangko yang masih basah itu di mana aja dan biarkan sampai kering, ohya, jangan ditaroh di atas kertas lagi ya.. karena kemungkinan besar lem sisa yang masih menempel di basahan air itu akan melekat lagi di kertas yang kita pakai untuk mengeringkan perangko. Waduhh.. percuma dong nantinya. Kalo bisa, jemur di atas kayu atau plastik atau pinggir piring atau apapun yang sekiranya lem basah tadi gak bakal nempel lagi. Kalo aku mah, aku taroh di papan seperti ini:


nah.. setelah itu perangko bisa dimasukkan ke tempatnya yaitu stamp album contohnya seperti ini:

Udah deh selesai. Wah.. ngerjain itu bisa seharian penuh lho di kamar dan membuat punggung pegel hehe, tapi.. asik juga kok. Memang, mengerjakan apapun yang kita suka akan selalu menyenangkan. So, lakukan apa yang kita suka (dan berguna tentunya) untuk mengisi hari. Peace!!!!.
/>
Liburan gini waktunya liat barang-barang di kamar yang dimuseum-kan hehe dan ternyata aku menemukan barang berharga berupa koleksi perangko beberapa tahun yang lalu. Mau lihat? ini dia.. jeng jeng....... lumayan banyak kan?

Setelah kulihat ternyata perangkoku masih acak adul alias masih banyak kertas yang menempel di bawahnya karena waktu kita beli, kita tempelkan ke

kemudian setelah mengelupas sendiri kertasnya, keringkan perangko yang masih basah itu di mana aja dan biarkan sampai kering, ohya, jangan ditaroh di atas kertas lagi ya.. karena kemungkinan besar lem sisa yang masih menempel di basahan air itu akan melekat lagi di kertas yang kita pakai untuk mengeringkan perangko. Waduhh.. percuma dong nantinya. Kalo bisa, jemur di atas kayu atau plastik atau pinggir piring atau apapun yang sekiranya lem basah tadi gak bakal nempel lagi. Kalo aku mah, aku taroh di papan seperti ini:


nah.. setelah itu perangko bisa dimasukkan ke tempatnya yaitu stamp album contohnya seperti ini:

Udah deh selesai. Wah.. ngerjain itu bisa seharian penuh lho di kamar dan membuat punggung pegel hehe, tapi.. asik juga kok. Memang, mengerjakan apapun yang kita suka akan selalu menyenangkan. So, lakukan apa yang kita suka (dan berguna tentunya) untuk mengisi hari. Peace!!!!.
11.13.2008
Takbir Cinta Zahrana
Posted by
Aisyah
at
9:01:00 AM
Aku biasanya paling gak suka baca novel apalagi bukunya yang tebel-tebel gitu. haddduuuhhh males banget dah. Beberapa hari lalu aku dikirimin file judulnya "Takbir Cinta Zahrana", aku buka filenya trus cuma liat gambarnya doang, abis tu aku tutup lagi karena aku tau itu novel, males bacanya. Nah.. pas kebetulan gak da kerjaan iseng-iseng buka file itu, pengen tau ntu apaan, ternyata isinya hampir mirip dengan kisah.... hukhukhuk..
ok, langsung aja baca cerita karangan Habiburrahman El Shirarazy ini.
Takbir Cinta Zahrana
(Sebuah Novelet Pembangun Jiwa)
Matanya berkaca-kaca. Kalau tidak ada kekuatan iman dalam dada ia mungkin telah memilih sirna dari dunia. Ujian yang ia derita sangat berbeda dengan orangorang seusianya. Banyak yang memandangnya sukses. Hidup berkecukupan. Punya pekerjaan yang terhormat dan bisa dibanggakan. Bagaimana tidak, ia mampu meraih gelar master teknik dari sebuah institut teknologi bergengsi di negeri ini. Dan kini ia dipercaya duduk dalam jajaran pengajar tetap di universitas swasta terkemuka di ibukota Propinsi Jawa Tengah: Semarang.
Satu
Tidak hanya itu, ia juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai dosen paling berdedikasi di kampusnya. Ia sangat disegani oleh sesama dosen dan dicintai oleh mahasiswanya. Ia juga disayang oleh keluarga dan para tetangganya. Bagi perempuan
seusianya, nyaris tidak ada yang kurang pada dirinya. Sudah berapa kali ia mendengar pujian tentang kesuksesannya. Hanya ia seorang yang tahu bahwa sejatinya ia sangat menderita. Ada satu hal yang ia tangisi setiap malam. Setiap kali bermunajat kepada Sang Pencipta siang dan malam. Ia menangisi takdirnya yang belum juga berubah. Takdir sebagai perawan tua yang belum juga menemukan jodohnya. Dalam keseharian ia tampak biasa dan ceria. Ia bisa menyembunyikan derita dan sedihnya dengan sikap tenangnya. Ia terkadang menyalahkan dirinya sendir kenapa tidak menikah sejak masih duduk di S.l dahulu? Kenapa tidak berani menikah ketika si Gugun yang mati-matian
mencintainya sejak duduk di bangku kuliah itu mengajaknya menikah? Ia dulu memandang remeh Gugun. Ia menganggap Gugun itu tidak cerdas dan tipe lelaki kerdil. Sekarang si Gugun itu sudah sukses jadi pengusaha cor logam dan baja di Klaten. Karyawannya banyak dan anaknya sudah tiga. Gugun sekarang juga punya usaha Travel Umroh di Jakarta. Setiap kali bertemu, nyaris ia tidak berani mengangkat muka.
Kenapa juga ketika selesai S.l ia tidak langsung menikah? Kenapa ia lebih tertantang masuk S.2 di ITB Bandung? Padahal saat itu, temannya satu angkatan si Yuyun menawarkan kakaknya yang sudah buka kios pakaian dalam di Pasar Bringharjo Jogja. Saat itu kenapa ia begitu tinggi hati. Ia masih memandang rendah pekerjaan jualan pakaian dalam. Sekarang kakaknya Yuyun sudah punya toko pakaian dan sepatu
yang lumayan besar di Jogja. Akhirnya ia menikah dengan seorang santriwati dari Pesantren Al Munawwir, Krapyak. Dan sekarang telah membuka SDIT di Sleman. Apa
sebetulnya yang ia kejar? Kenapa waktu itu ia tidak juga cepat dewasa dan menyadari bahwa hidup ini berproses. Ia meneteskan airmata. Dulu banyak mutiara yang datang kepadanya ia tolak tanpa pertimbangan. Dan kini mutiara itu tidak lagi datang. Kalau pun ada seolah-olah sudah tidak lagi tersedia untuknya. Hanya bebatuan dan sampah yang kini banyak datang dan membuatnya menderita batin yang cukup dalam. Matanya berkaca-kaca. Ketika ia sadar harus rendah hati. Ketika ia sadar prestasi sejati tidaklah sematamata prestasi akademik. Ketika ia sadar dan ingin mencari pendamping hidup yang baik. Baik bagi dirinya dan juga bagi anak-anaknya kelak. Ketika ia sadar dan ingin menjadi Muslimah seutuhnya. Ketika ia menyadari, semua yang ia temui kini, adalah jalan terjal yang panjang yang menguji kesabarannya.
Umurnya sudah tidak muda lagi. Tiga puluh empat tahun. Teman-teman seusianya sudah ada yang memiliki anak dua, tiga, empat, bahkan ada yang lima. Adik-adik
tingkatnya, bahkan mahasiswi yang ia bimbing skripsinya sudah banyak yang nikah. Sudah tidak terhitung berapa kali ia menghadiri pernikahan mahasiswinya. Dan ia selalu hanya bisa menangis iri menyaksikan mereka berhasil menyempurnakan separo
agamanya.
Hari ini ia kembali diuji. Seseorang akan datang. Datang kepada orangtuanya untuk meminangnya. Ia masih bimbang harus memutuskan apa nanti. Ia sudah sangat tahu siapa yang akan datang. Dan sebenarnya ia juga sudah tahu apa yang harus ia putuskan. Meskipun pahit ia merasa masih akan bersabar meniti jalan terjal dan panjang sampai ia menemukan mutiara yang ia harapkan. Tapi bagaimana ia harus kembali memberikan pemahaman kepada ayah-ibunya yang sudah mulai renta?
Hand phone-nya berdering. Dengan berat ia angkat,
"Zahrana?" Suara yang sangat ia kenal. Suara Bu Merlin, atasannya di kampus. Bu Merlin, ataulengkapnya Ir. Merlin Siregar M.T., adalah Pembantu Dekan I. Ia orang kepercayaan Pak Karman. Sejak SMA ia di Semarang, jadi logat Bataknya nyaris hilang. Bahasa Jawanya bisa dibilang halus.
"Iya Bu Merlin." Jawabnya dengan airmata menetes di pipinya.
"Saya dan rombongan Pak Karman sudah sampai Pedurungan. Dua puluh menit lagi sampai."
"Iya Bu Merlin." Jawabnya hambar, dengan suara serak.
"Suaramu kok sepertinya serak. Sudahlah Rana, bukalah hatimu kali ini. Pak Karman memiliki apa yang diinginkan perempuan. Dia sungguh-sungguh berkenan menginginkanmu."
"Iya Bu Merlin, semoga keputusan yang terbaik nanti bisa saya berikan."
"Baguslah kalau begitu. Gitu dulu ya. O ya jangan lupa dandan yang cantik." Klik. Tanpa salam.
Kali ini yang datang melamarnya bukan orang sembarangan. Pak H. Sukarman, M.Sc., Dekan Fakultas Teknik, orang nomor satu di fakultas tempat dia mengajar. Duda berumur lima puluh lima tahun. Status dan umur baginya tidak masalah. Sudah bertitel haji. Kredibilitas intelektualnya tidak diragukan. Materi tak usah ditanyakan. Di Semarang saja ia punya tiga pom bensin. Namun soal kredibilitas moralnya, susah Zahrana untuk memaafkannya. Repotnya, jika ia menolak ia sangat susah untuk menjelaskan. Ia harus berkata bagaimana.
Ia telah membicarakan hal ini pada kedua sahabat karibnya. Si Lina, yang kini jualan buku-buku Islami di Tembalang. Dan si Wati yang kini jadi isteri lurah Tlogosari Kulon. Lina berpendapat untuk tidak mengambil risiko dengan menerima orang amoral seperti Pak Karman itu. Apapun titel dan jabatannya. Moral adalah nyawa orang hidup. Jika moral itu hilang dari seseorang, ia ibarat mayat yang bergentayangan. Itu pendapat Lina.
Sedangkan Wati lain lagi, menurutnya sudah saatnya ia tidak melangit. Mencari manusia setengah malaikat itu hal yang mustahil. Selama Pak Karman masih shalat dan
puasa ya terima saja. Apalagi ia orang terpandang. Dan juga kesempatan seperti ini tidak selalu datang. Terakhir Wati bilang, "Siapa tahu dengan menikah denganmu, Pak Karman berubah. Dan di hari tuanya ia sepenuhnya membaktikan umurnya untuk kebaikan. Bukankah itu bagian dari dakwah yang agung pahalanya?" Ia belum bisa mengambil keputusan. Kata-kata Wati selalu terngiang-ngiang di telinganya. Ia nyaris
memutuskan untuk menerima saja lamaran Pak Karman.
Namun jika ia teringat apa yang dilakukan Pak Karman pada beberapa mahasiswi yang dikencaninya diam-diam, ia tak mungkin memaafkan. Jika sudah demikian tibatiba wajah keriput kedua orangtuanya muncul dengan sebuah pertanyaan, "Kowe mikir opo Nduk?
Kowe ngenteni opo? Dadine kapan kowe kawin, Nduk?"1
***
Lima menit sebelum rombongan Pak Karman datang, Zahrana berbicara kepada kedua orangtuanya. Ia minta kepada mereka pengertiannya jika ia nanti mengambil keputusan yang mungkin tidak melegakan mereka berdua. Diberitahu seperti itu kedua orangtuanya menangkap apa yang akan terjadi. Dan mereka kembali pasrah dalam kekecewaan. Namun mereka tetap berharap akan terjadi hal yang membahagiakan.
Mereka berdoa, kali ini semoga keputusan putri semata wayang mereka lain dari sebelum-sebelumnya. Semoga
hatinya terbuka. Segera menikah. Dan segera lahir cucu yang jadi penerus keturunan.
Kamu mikir apa, Anakku? Kamu menunggu apa? Kapan kamu menikah, Anakku?
la meneguhkan jiwa, menata hati. la juga memprediksi gaya bahasa yang akan disampaikan pihak Pak Karman.
Dan menyiapkan bahasa yang tepat untuk menjawab. Ia juga tidak lupa menyiapkan hidangan yang pantas untuk menghormati tamu. Ruang tamu telah ia rapikan. Bungabunga ia tata, dan sarung bantal ia ganti dengan yang baru. Tuan rumah harus bisa menjaga kehormatan. Dan ia kembali meneguhkan prinsipnya dalam menghadapi
siapapun: harus tenang, bicara yang tepat, rendah hati dan santun. Itulah senjata para pemenang. Dan ia harus menang. Ia teringat perkataan Napoleon Hill, "Kebijakan yang sesungguhnya, biasanya tampak melalui kerendahan hati dan tidak banyak cakap."
Ia kini tampak tegar. Tak ada lagi airmata. Mental yang ia siapkan adalah mental seorang dosen pembimbing yang siap maju sidang membela mahasiswanya mempertahankan skripsinya. Ia sangat yakin akan kekuatannya. Ia berdandan secukupnya. Ia pakai jilbab hijau muda kesayangannya. Sangat serasi dengan gamis bordir hijau tua bermotif bunga melati putih kecil-kecil. Hanya dirinya dan kedua orangtuanya yang akan menyambut. Ia merasa tak perlu mengundang para kerabat. Sebab seperti yang telah lalu, jika terjadi hal yang tidak memuaskan hanya akan jadi gunjingan panjang tak berkesudahan. Ia tak ingin itu terjadi lagi.
Ia ingin para kerabat diundang hanya untuk yang sudah jadi. Yang tak ada ruang bagi mereka berbincang kecuali kebaikan. Kali ini yang ia undang justru dua orang ibu-ibu yang biasa membantu keluarganya selama ini.
Rombongan Pak Karman datang tepat jam setengah lima sore. Tidak main-main. Empat mobil. la harus mengakui kehebatan Bu Merlin mengorganisir ini semua. Juga keberhasilan Bu Merlin memprovokasi Pak Karman untuk nekat seperti ini. Ayah ibunya tampak kaget. Tidak menduga yang datang akan sebanyak ini dan seserius ini. Untung ruang tamu rumah orangtuanya cukup luas.
Hanya tiga orang yang tidak dapat tempat duduk. Terpaksa duduk di beranda. la yakin tujuan Bu Merlin baik, hanya saja Bu Merlin tidak tahu visi hidupnya saat ini. Bukan sekadar materi dan kedudukan yang ia harapkan dari calon suaminya. la mencari calon suami yang bisa dijadikan imam. Imam yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam ibadahnya kala mengarungi kehidupan. Karena itulah posisinya benar-benar sulit
kali ini. Bu Merlinlah yang selama ini banyak membantunya di kampus. Dia jugalah yang dulu memberi bocoran adanya lowongan dosen di kampusnya. Rombongan telah duduk tenang. Pak Karman menyukur bersih kumis dan cambangnya. Ia tampak lebih muda
dari biasanya. Koko biru muda dan peci hitam membuatnya tampak alim. Seorang lelaki setengah baya, mengaku sebagai adiknya Pak Karman, namanya Pak Darmanto mengawali pembicaraan. Unggah-ungguh
dan basa-basi berjalan. Ia sendiri lebih banyak diam. Tak bicara jika tidak perlu bicara. Ibunya yang biasanya memang cerewet yang banyak mengimbangi bicara. Sesekali ada lelucon-lelucon yang menghangatkan suasana. Makanan dan minuman dikeluarkan oleh dua orang ibu-ibu yang rapi berkerudung. "Tape ketan ini dibuat oleh anakku, si Zahrana ini dengan penuh cinta. Siapa yang memakannya insya Allah awet muda." Ibunya melucu sambil mempersilakan tamu-tamunya menikmati hidangan seadanya.
Mendengar hal itu spontan Pak Karman berkomentar dengan gaya lucu, "Sebelum yang lain mengambil saya dulu yang harus mencicipi. Agar awet muda dan bisa menyunting
bidadari." Spontan perkataan itu disambut tertawa semua yang hadir, kecuali dirinya. Entah kenapa perkataan itu menurutnya tidak lucu. Perkataan itu seperti sampah yang hendak dijejalkan ke telinganya. Bagaimana mungkin ia hidup bersama orang yang suaranya saja tidak mau ia dengar. Lima belas menit basa-basi akhirnya Pak Darmanto,
juru bicara Pak Karman, masuk pada inti kedatangan, "...dan maksud kedatangan kami adalah untuk menyambung persaudaraan dan kekeluargaan dengan keluarga Bapak Munajat. Kami bermaksud menyunting putri Bapak Munajat, yaitu Dewi Zahrana untuk
saudara kami Bapak H. Sukarman, M.Sc. Alangkah bahagianya jika maksud dan tujuan kami dikabulkan."
Ayahnya menjawab dengan suara rentanya yang terbata-bata, "Pertama....tama, ka...kami sekeluarga menyampaikan rasa terima kasih atas silaturrahminya. Kami juga
bahagia. Bagi ka..kami lamaran ini adalah suatu bentuk penghormatan. Dan jika bisa kami akan membalasnya dengan penghormatan yang le..lebih baik. Namun
masalah jodoh hanya Allahlah yang mengatur. Putri kami sudah sangat dewasa. Dia lebih berpendidikan daripada kami berdua. Dia bisa memutuskan sendiri mana yang baik baginya. Itu yang bisa kami sampaikan."
Masalah sudah jelas. Semua tamu melihat ke arahnya. la tahu bola sekarang ada di tangannya. Dialah sekarang yang paling berkuasa di majelis itu. la berusaha untuk
tenang. Setenang ketika ia membantu argumen mahasiswa yang dibelanya dalam sidang skripsi,
"Saya pernah mendengar Baginda Nabi Muhammad Saw., pernah bersabda, 'Al 'ajalatu minasy syaithan. Tergesa-gesa itu datangnya dari setanl' Saya tidak mau tergesa-gesa. Saya tidak mau mengecewakan siapapun. Termasuk diri saya sendiri. Maka perkenankan saya untuk menjawabnya tiga hari ke depan. Saya akan langsung sampaikan kepada Pak Karman yang saya hormati. Maafkan jika saya tidak bisa menjawab sekarang."
Ada sedikit gurat kekecewaan di wajah Pak Darmanto dan Pak Karman. Namun keduanya tidak bisa bersikap apapun kecuali setuju. Bu Merlin tersenyum tanda
setuju. Yang lain bisa memahami dan memaklumi.
Hanya Pak Munajat, ayahnya yang meneteskan airmata mendengar jawaban putrinya itu. Ia sudah tahu ke mana arah perkataan putrinya itu. Menjelang Maghrib rombongan itu pamit. Zahrana langsung ke kamarnya mengatur kata yang tepat untuk disampaikan pada Pak Karman. Ia tersenyum, dengan senyum yang susah diartikan.
* * *
"Kamu masih nunggu yang bagaimana lagi, Nduk? Pak Karman memang agak tua, tapi ia berpendidikan dan kaya. Dia juga bisa tampak muda." Kata ibunya yang sudah tahu keputusannya.
"Saya tidak menunggu yang bagaimana-bagaimana Bu. Saya menunggu lelaki saleh yang pas di hati saya. Itu saja." Jawab Zahrana.
"Lha Pak Karman itu apa masih kurang saleh. Dia sudah haji. Sudah menyempurnakan rukun Islam. Kita saja belum." Bantah ibunya.
Ia merasa, memang agak susah memahamkan ibunya bahwa kesalehan tidak dilihat dari sudah haji atau belum. Tidak dilihat dari pakai baju koko atau tidak. Tidak bisa dilihat dari pakai peci putih atau peci yang lainnya. Betapa banyak penjahat di negeri ini yang bertitel haji. Setiap tahun haji justru untuk menutupi kejahatannya. Atau malah berhaji untuk melakukan kejahatan di musim haji. Ibunya tidak akan nyambung dia ajak dialog masalah itu.
"Pokoknya menurutku Pak Karman masih kurang. Saya sangat tahu siapa dia, soalnya saya satu kampus dengannya. Nanti kalau ada yang cocok pasti saya menikah Bu."
Begitu mendengar dari jawabannya ada perkataan "pokoknya", sang ibu langsung diam dengan raut muka sedih. Dalam hati ia istighfar jika telah melukai ibunya. Tapi ia tidak mau asal menikah. Menikah adalah ibadah, tidak boleh asal-asalan. Harus dikuati benar syarat rukunnya. Meskipun ia tahu ia sudah jadi perawan tua yang sangat terlambat menikah, namun ia tidak mau gegabah dalam memilih ayah untuk anak-anaknya kelak.
Zahrana masuk kamar dan menulis surat jawaban untuk Pak Karman dengan
komputernya. Bahasanya tegas dan lugas:
Kepada
Yth. Bpk. H. Sukarman, M.S.c
Di Semarang
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Semoga Bapak senantiasa sehat dan berada dalam naungan hidayah-Nya. To the point saja, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak, saya ingin menyampaikan bahwa saya belum bisa menerima pinangan Bapak. Semoga Bapak mendapatkan yang lebih baik dari saya. Mohon maklum dan mohon maaf jika tidak berkenan.
Wassalam,
Dewi Zahrana
la lalu menge-print surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop putih. Ia akan minta bantuan seorang
mahasiswanya untuk menyampaikan hal itu kepada Pak Karman besok pagi. Dan ia sudah berketetapan akan mengambil cuti satu minggu. Sebab jawaban itu pasti tidak diinginkan oleh Pak Karman. Bahkan pasti sangat mengecewakan Pak Karman. Untuk menjaga hal yang tidak baik, lebih baik ia tidak masuk kampus. Dan kembali masuk jika suasana kembali seperti sediakala.
Apa yang ia rencanakan berjalan. Dan apa yang ia prediksi terjadi. Dua hari kemudian ia mendapatkan SMS dari Pak Karman:
"Suratmu sudah aku terima. Kamu pasti tahu bahwa jawabanmu sangat mengecewakan aku!"
Ia membaca jawaban itu dengan hati tidak enak. Entah kenapa ia merasakan ada aroma jahat dalam setiap huruf-hurufnya dan susunan kalimatnya. Lalu ia mendapat SMS dari Bu Merlin:
"Hari ini saya dicacimaki Pak Karman gara-gara jawabanmu. Saya sungguh kecewa dengan kamu!" Airmatanya meleleh.
"Maafkan aku Bu Merlin," lirihnya dengan hati perih. Ia merasakan dunia ini begitu sempit. Dinding-dinding kamarnya seakan hendak menggenjetnya. Atap kamarnya seakan mau rubuh menimpanya. Ia hanya bisa pasrah kepada-Nya dan memohon kekuatan untuk tetap kuat dan tegar di jalan-Nya.
* * *
Dua
Firasatnya benar. Lima hari setelah ia mengirim jawaban itu, Bu Merlin datang ke rumahnya. Saat itu ia masih mengambil cuti. Bu Merlin datang dengan mimik serius. Mimik yang ditakuti oleh para bawahannya, apalagi para mahasiswa. Pembantu Dekan I di kampusnya itu berkata, "Zahrana, kamu memang bebas menentukan pilihanmu. Namun terus terang saya tidak mengerti apa maumu. Saya tak perlu berdusta padamu,
saya sangat kecewa padamu. Padahal saya telah berusaha melakukan yang terbaik, untukmu dan juga untuk Pak Karman. Namun agaknya ini semua berantakan karena keangkuhanmu."
"Bu tolong ibu juga mengerti saya. Saya telah berusaha menata hati dan jiwa untuk menerima Pak Karman. Saya tidak mau karena saya sudah terlambat menikah, lantas
saya menikah untuk seolah-olah bahagia. Saya tidak mau batin saya justru menderita. Karena saya benarbenar tidak bisa menerima Pak Karman. Saya tidak mau, setelah menikah sosok Pak Karman justru jadi monster yang menghantui saya setiap saat. Saya sama sekali tidak bisa mencintainya Bu. Meskipun sebutir zarrah. Ibu kan juga seorang perempuan. Saya mohon ibu bisa memaklumi." Zahrana menjawab panjang lebar
dengan mengajak bicara dari hati ke hati. "Kalau masalahnya sudah cinta. Tak ada orang di muka bumi ini yang bisa memaksa. Meskipun saya kecewa saya tetap menginginkan yang terbaik untukmu. Sejak mengenalmu aku tahu kau orang baik. Begini Zahrana, saya lihat gelagat Pak Karman berniat memecatmu dengan satu tuduhan serius yang akan sangat mempermalukanmu. Ia mengisyaratkan hal itu kemarin setelah membaca suratmu. Sekadar saran dariku lebih baik kau mundur dengan terhormat daripada dipecat!
Jika marah Pak Karman bisa lupa bumi di mana ia berpijak."
"Apa Bu? Mundur?" Jawab Zahrana dengan nada kaget. "Iya Zahrana. Sebaiknya kau mengundurkan diri saja. Itu saranku sebagai orang yang sangat paham peta politik di kampus."
"Tidak Bu. Jika terjadi ketidakadilan, akan saya lawan sampai titik darah penghabisan!"
"Zahrana, kamu ternyata tidak tahu benar peta politik kampus. Tidak tahu benar siapa Pak Karman. Jika kau nekat itu ibarat ulo marani gitik. Ibarat ular mendekat untuk dipukul sampai mati. Mundurlah dulu. Bertiaraplah sementara waktu. Ini yang kulihat baik untukmu. Saya berjanji suatu saat nanti jika saya ada kemampuan, kamu akan saya tarik lagi ke kampus. Kali ini percayalah padaku. Saya tidak rela orang sebaik
kamu jadi bulan-bulanan kesewenang-wenangan yang sudah saya cium dari sekarang."
Zahrana akhirnya paham dengan apa yang disampaikan Bu Merlin. Dari nada dan tuturkata yang disampaikan ia melihat ada kesungguhan dan ketulusan. Namun ia belum bisa mengambil sikap dengan cepat. Sekali lagi ia harus tenang dan tidak gegabah, "Baiklah Bu. Saya mengerti. Akan saya pikirkan matang-matang saran Ibu. Saya sangat berterima kasih."
"Saya harap begitu. Kalau begitu saya pamit dulu. Masih ada urusan yang harus saya kerjakan." Kata Bu Merlin.
* * *
Zahrana sadar Bu Merlin masih tetap menyimpan rasa sayang padanya, meskipun ia telah mengecewakannya. Bu Merlin juga tetap setia pada prinsip hidupnya:
Memaksimalkan manfaat meminimalisir konflik. Jika masih ada jalan menghindari konflik, maka jalan itulah yang harus ditempuh. Setelah Bu Merlin pergi Zahrana langsung mengendarai sepeda motornya ke rumah Lina, temannya paling akrab
sejak di SMP sampai Perguruan Tinggi. la perlu orang yang bisa diajak bicara memutuskan masalahnya.
"Apa sejahat itu Pak Karman?" tanya Lina pada Zahrana.
"Aku tak ingin membicarakan kejahatannya. Yang jelas apa yang sebaiknya kulakukan setelah mendengar saran Bu Merlin."
"Yang paling penting menurutku adalah, apa kaupercaya dengan apa yang disampaikan Bu Merlin?" Zahrana menjawab dengan memandang lekat-lekat teman karibnya itu,
"Sampai saat ini saya belum pernah dibohongi Bu Merlin. Saya percaya padanya."
"Kalau begitu masalahnya jelas. Pak Karman itu sedang sangat tersinggung dan marah besar karena kamu tolak. Dia merasa tidak nyaman berada satu atap denganmu di kampus. Dan Bu Merlin melihat dia akan membuat perhitungan denganmu."
"Jadi?"
"Kalau aku jadi kau, aku memilih mengundurkan diri dengan baik-baik, daripada dipecat dengan membawa nama tercemar. Pak Karman tentu lebih kuat posisinya daripada kamu. Ingat dia orang nomor satu di Fakultas tempat kamu mengajar."
"Aku tahu. Tetapi jika aku keluar, lantas nanti apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibu?"
"Kau kayak anak kecil aja. Cari pekerjaan baru. Dengan begitu kau bisa berdalih degan seribu alasan yang menyejukkan mereka. Bisa kaukatakan tidak kerasan lagi di kampus. Cari pengalaman baru dan lain sebagainya." Akhirnya ia mantap untuk mengundurkan
diri.
"Kau benar Lin. Besok aku akan mengundurkan diri."
"Nanti kubantu cari pekerjaan yang cocok untukmu."
"Kau memang sahabatku yang baik Lin."
***
Pagi itu Zahrana datang ke kampus dengan membawa dua pucuk surat pengunduran dirinya. Satu untuk rektor dan satu untuk dekan. Pak Karman sedang rapat dengan rektor. Itu kesempatan baginya untuk mengemasi barang-barangnya. Teman-temannya sesama dosen banyak yang kaget.
"Kami tahu dari Ibu Merlin bahwa kamu menolak lamaran Pak Karman. Apa karena itu terus kamu juga harus mundur dari kampus?" tanya Pak Didik, dosen mata kuliah struktur beton yang meja kerjanya paling dekat dengannya.
"Saya hanya ingin cari suasana baru dan pengalaman baru. Mungkin saya akan mencoba kerja di sebuah perusahaan." Jawab Zahrana sekenanya sambil merapikan berkas-berkasnya.
"Apa ini benar-benar sudah keputusan final?"
"Ya. Final."
"Kami tak berhak menahanmu. Meskipun kami sangat kehilangan kamu jika kamu keluar. Tidak banyak pengajar yang seahli kamu. Jika nanti kamu ingin kembali ke kampus ini jangan segan-segan. Kami para dosen akan men-support-mu."
"Terima kasih Pak Didik. Maafkan saya jika selama ini banyak berbuat salah."
"Sama-sama."
Setelah barang-barangnya rapi. la meletakkan surat pengunduran dirinya di meja kerja Pak Karman. Lalu mencari mahasiswi yang bisa membantunya mengangkat barang. Di koridor ia bertemu dengan mahasiswi berjilbab hitam.
"Nina!"
"Ya Bu Rana."
"Bisa bantu saya sebentar?"
"Bisa Bu."
"Kalau begitu cari tiga teman, dan segera ke ruang kerja saya. Saya minta bantuannya sedikit."
"Baik Bu." Ia lalu balik ke ruang kerjanya.
"Pak Didik?"
"Ya Bu Rana."
"Saya minta tolong, surat pengunduran ini disampaikan ke Pak Rektor begitu saya pergi. Data-data saya di komputer ini nanti diselamatkan ya Pak. Trus sayaminta tolong dicarikan taksi."
"O bisa Bu."
Lima menit kemudian tiga orang mahasiswi berjilbab, dan dua orang mahasiswa datang. Kepada mereka Zahrana menjelaskan bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari kampus itu.
"Kenapa Bu?" tanya Nina, mahasiswinya yang aktif di Lembaga Pers Kampus.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin cari suasana baru saja."
"Tidak karena tekanan seseorang kan Bu?" tanya mahasiswa berbaju biru tua kotak-kotak.
"Tidak. Ini murni keinginan Ibu. Mana ada yang berani menekan Ibu tho San." Jawab Zahrana pada mahasiswa bernama Hasan.
"Kalau ibu mundur, skripsi saya bagaimana Bu?" tanya mahasiswa itu lagi.
"O tenang San. Nanti kamu menghubungi Bu Merlin dan Pak Didik ya. Mereka akan membantumu, insya Allah."
"Saya masih boleh konsultasi pada ibu tho. Meskipun ibu tidak di kampus ini lagi?"
"Boleh San. Kalian semua ibu persilakan dolan ke rumah ibu kapan saja." Kata Zahrana sambil memandang wajah mahasiswanya satu per satu. Zahrana lalu meminta mereka mengangkat barangbarangnya ke luar gedung. Tak lama taksi datang. Zahrana pun meninggalkan kampus itu dengan membawa seluruh barangbarangnya. Begitu selesai rapat, Pak Karman kembali ke ruang kerjanya. Keputusannya sudah mantap yaitu memecat Zahrana dengan beberapa tuduhan serius, di antaranya: tidak disiplin. "Perawan tua itu harus diberi pelajaran!" Geramnya dalam hati. Ketika ia duduk di kursinya ia menangkap sepucuk surat tergeletak di atas meja kerjanya. Ia baca surat itu. Kemarahannya seketika meluap,
"Kurang ajar!" Ia seperti petinju yang nyaris meng-KO lawan, tibatiba malah dipukul KO. Ia sama sekali tidak memperhitungkan Zahrana akan membuat keputusan nekat itu.
Namun ia tetap akan membuat perhitungan dengan satusatunya dosen Fakultas Teknik yang masih gadis itu.
* * *
Tak perlu waktu lama bagi Zahrana untuk mendapatkan pekerjaan baru. Dari seorang teman ia mendapatkan informasi bahwa STM Al Fatah Mranggen, Demak, sedang membutuhkan seorang guru baru yang profesional untuk mendongkrak prestasi. STM Al Fatah berada di payung Yayasan Pesantran Al Fatah. Pesantren besar yang terkenal di Mranggen. Ia mengajukan lamaran dan hari itu juga ia diterima. Kepala sekolahnya yang masih keturunan pendiri Pesantren Al Fatah sangat senang. Pengalaman mengajar Zahrana ketika mengajar di FT universitas swasta terkemuka di Semarang adalah jaminan kualitas. Sejak hari itu Zahrana mengajar siswa-siswa yang sebagian besar adalah santri. Ia berusaha mendalami kultur dan budaya santri. Sebab sejak kecil ia belum pernah menjadi santri sama sekali. Ia merasakan nuansa yang berbeda antara mengajar santri dan mengajar mahasiswa. Ada tantangan tersendiri mengajar santri yang masih banyak menganggap ilmu eksak tidak penting, yang menganggap "ilmu umum" lainnya juga tidak penting.
Dianggap tidak penting, karena para santri berpikiran bahwa ilmu eksak dan "ilmu umum", kelak tidak akan ditanyakan di akhirat. Bagi mereka, yang terpenting adalah "ilmu agama", karena ilmu itulah yang akan dibawa hingga akhirat nanti. Pikiran yang perlu diluruskan.
Dan Zahrana tertantang untuk meluruskannya. La merasa mengajar di lingkungan pesantren lebih menenteramkan. Entah kenapa? Apa karena dekat dengan banyak ulama? Atau karena memang di pesantren tempat ia mengajar tidak ada manusia
seperti Pak Karman yang dalam pandangannya sangatsangat durjana. Hari-harinya ia lalui dengan lebih tenang dan tenteram. Ilmu S.2-nya ia rasa tidak benarbenar hilang tanpa guna. Sebab ia juga diterima sebagai konsultan sebuah perusahaan properti. Ia juga masih sering didatangi mahasiswanya. Yang masih sering datang adalah mahasiswanya yang bernama Hasan. Tugas Akhir Hasan memang di bawah bimbingannya. Namun setelah ia keluar, tugas pembimbingan diambil alih oleh Bu
Merlin. Hasan dan teman-temannya masih suka datang untuk konsultasi dan meminjam referensi. Ia merasa senang dengan kedatangan mereka. Ia merasa mereka seperti adiknya sendiri.
Suatu siang ayahnya bertanya, mengapa ia meninggalkan kampus dan memilih mengajar di STM Al Fatah yang gajinya jauh lebih kecil. Ia menjawab, "Ingin mencari ketenangan dengan dekat kiai dan para santri." Ayahnya hanya mendesah tanda
tidak setuju.
Namun ia kemudian berusaha menghibur, "Yang kedua Yah, Zahrana berharap mengajar di lingkungan pesantren jadi jalan bagi Zahrana menemukan jodoh Zahrana. Bertahun-tahun di kampus jodoh yang Zahrana harap tidak juga datang."
Wajah ayahnya itu sedikit cerah, "Semoga harapanmu terkabul. Kalau perlu kamu harus berani minta tolong pada Pak Kiai. Siapa tahu beliau bisa membantu menemukan jodohmu."
"Iya Yah. Mohon doanya terus."
"Tanpa kamu minta pun kami terus mendoakanmu siang dan malam, Anakku."
"Terima kasih Ayah."
***
Malam itu setelah memeriksa tugas-tugas anak didiknya Zahrana membuka komputer. Ia hendak berselancar di dunia maya internet. Ia ingin melihat apakah ada email yang masuk. Apakah ada berita yang menarik. Dan ia mau membuat blog. Siapa tahu dengan
membuat blog ia bisa menemukan jodohnya. Baru saja menyalakan komputer hp-nya berdering beberapa kali. Ada tiga SMS yang masuk. Ia membukanya:
"Sedang apa perawan tua?"
"Ternyata jadi perawan tua itu indah."
"Jangan-jangan jilbabmu itu kedok untuk menutupi daging tuamu yang sudah busuk di kerubung lalat!"
Zahrana tersentak dan geram. Sebuah teror. Teror paling primitif, dengan kata-kata yang merendahkan dan menyakitkan. la periksa nomornya. Nomor yang tidak ia kenal. la nyaris membalas SMS itu dengan kata-kata yang sama pedasnya. Tapi ia urungkan. Ia sudah bisa menduga kira-kira dan mana SMS itu berasal. Akhirnya ia memilih diam. Diam tanpa pernah menganggap SMS itu ada. Ia merasa diam adalah senjata paling ampuh.
Menanggapi omongan orang gila berarti ikut jadi gila. Menanggapi sikap orang dungu berarti ikut jadi dungu. Internetnya sudah konek. Lima email dari temantemannya sesama dosen. Semuanya menyayangkan keputusannya meninggalkan kampus. Dan
semuanya mendoakan semoga sukses dengan pilihannya. Hp-nya kembali berdering. Dua kali. Ia buka, "Apa kabar Perawan Tua?"
"Kelapa itu semakin tua semakin banyak santannya. Banggalah jadi perawan tua!"
Ia meneteskan airmata. Tubuhnya bergetar. Hatinya sakit. Tapi ia harus menang. Diam adalah senjata pamungkasnya untuk menang. Ia tidak akan meladeni kata-kata yang tidak mencerminkan datang dari orang terdidik itu. Akhirnya, ia matikan hp-nya. Ia memilih asyik berselancar di dunia maya. Ia buka alamat emailnya yang lain. Ada dua email. Yang satu dari sebuah komunitas milis, memanggilnya untuk ikut milis. Dan satunya dari Pak Didik. Ia jadi bertanya ada apa dengan Pak Didik. Baru kali ini Pak Didik mengirim email kepadanya.
la buka email itu: Subjeknya: SEBUAH TAWARAN, JIKA BERKENAN. Baru dikirim beberapa jam yang lalu. la lalu membacanya dengan sedikit rasa penasaran. Tawaran apa yang dimaksud Pak Didik, yang celananya selalu di atas mata kaki itu?
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Semoga Ibu Zahrana sukses dan berbahagia selalu. Amin. Sebelumnya mohon maaf jika email saya ini mengganggu. Sebenarnya sudah lama saya ingin mengirim email ini tapi terhambat karena beberapa sebab. Hari ini saya merasa hari yang tepat saya mengirim email ini untuk memberikan sebuah tawaran kepada Ibu Zahrana. Maaf terpaksa saya sampaikan lewat email, sebab jika saya sampaikan langsung secara lisan
takut terjadi salah paham. Karena bahasa tulisan bisa diedit sementara bahasa lisan tidak.
Bu Zahrana, setelah mengetahui lebih detil tentang Ibu. Juga apa yang Ibu cari selama ini saya memberanikan diri mengajukan diri. Mengajukan diri untuk menjadi suami ibu. Maaf, to the point saja Bu. Saya menawarkan kepada ibu, sekali lagi maaf jika dianggap lancang, untuk menjadi isteri kedua saya. Saya yakin isteri saya bisa menerimanya nanti.
Saya akan berusaha adil sebagai suami. Terus terang sebenarnya yang saya harapkan adalah seorang isteri yang educated dan cerdas seperti Bu Zahrana. Bukan yang bisanya cuma arisan seperti isteri saya saat ini. Tapi karena sudah punya dua anak, tidak mungkin saya meninggalkan dia.
Saya yakin dengan kita membina rumah tangga bersama, kita bisa bersinergi. Kita bisa saling memberi dan memaksimalkan potensi. Ini harapan saya. Semoga ibu berkenan dengan harapan ini.
Saya kira cukup sekian dulu surat ini. Jika ada salah kata motion maaf. Tawaran saya ini mohon tidak diartikan sebagai pelecehan. Sama sekali saya tidak bermaksud seperti itu. Saya bermaksud kita saling memberi manfaat. Itu saja. Akhirul kalam,
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Hormat saya,
Didik Hamdani, M.T.
Zahrana membaca email itu dengan tubuh bergetar, mata berkaca-kaca. la tidak tahu apa yang ia rasakan. Yang jelas bukan bahagia. Ia merasa betapa tidak mudah menjadi gadis yang terlambat menikah. Dan betapa susah menjadi wanita. Jika Pak Didik itu tidak memiliki isteri, katakanlah duda sekalipun, tawaran itu mungkin akan sedikit menjadi jendela harapan di hatinya. Tapi ia harus dijadikan yang kedua. Ia tidak tega. Ia tidak tega pada perasaan yang akan dialami isteri Pak Didik. Dan ia juga tidak tega pada perasaan kedua orangtuanya. Mereka semua tidak siap untuk itu. Bahkan jika mau jujur, ia sendiri "belum siap", atau lebih tegasnya "tidak siap" menjadi isteri kedua. Sakit rasanya. Bagaimanapun ia adalah wanita biasa. Ia adalah perempuan Jawa pada
umumnya, yang benar-benar "tidak siap", atau lebih tepatnya "tidak mau" dijadikan istri kedua. Atau "tidak mau" dimadu.
la membayangkan, alangkah tersiksanya, misalnya, bila ia menerima tawaran Pak Didik itu, ternyata isterinya tidak setuju. Isterinya itu lantas melabraknya dan mengatakan kepadanya, "Hai perawan tua tengik, memang di dunia ini sudah tidak ada lelaki sehingga kamu tega merampas suami orang! Dasar perawan tua! Suka merusak pager ayu orang saja!"
Ia tidak tahu akan menjawab apa.
Maka begitu ia selesai membaca email itu, yang ia lakukan adalah men-delete-nya tanpa me-reply sama sekali. Ia menganggap email itu tak pernah ada. Matanya masih berkaca-kaca.
* * *
Tiga
Bumi terus berputar pada porosnya. Detik berkumpul menjadi menit. Menit berkumpul menjadi jam. Jam berkumpul menjadi hari. Minggu berkumpul menjadi bulan. Ternyata sudah enam bulan Zahrana mengajar di STM. Namun masalah utamanya belum juga selesai. la belum juga mendapatkan jodohnya. Setelah mendapat tawaran dari Pak Didik, sudah ada dua orang yang maju.
Tapi entah kenapa ia tidak sreg. Hatinya belum cocok. Yang pertama dibawa oleh teman ayahnya. Seorang satpam di sebuah Bank BUMN. Ia tidak lagi melihat status. Satpam atau apapun tak jadi masalah. la tidak sreg karena satpam itu tidak bisa membaca Al-Quran sama sekali. Sekali lagi, tidak bisa membaca Al-Quran sama sekali. Shalat juga dengan jujur diakuinya tidak pernah lengkap. la hanya membayangkan akan jadi apa anak-anaknya kelak jika ayahnya sama sekali tidak mengenal Al-Quran. Dalam bahasa dia, buta Al-Quran. Dan alangkah beratnya mengajari ngaji suaminya dari
nol. Juga mendisiplinkan shalatnya dari nol. Akhirnya tanpa berpikir panjang ia lebih memilih menunggu yang lain.
Orang yang kedua, yang maju melamarnya dibawa oleh temannya sendiri, Wati. Seorang pemilik bengkel sepeda motor. Duda beranak tiga. Status duda dengan
berapa anak juga sebenarnya tidak masalah baginya. Ia tidak mungkin cocok dengan duda itu, karena ia telah kawin cerai sebanyak tiga kali dalam waktu tiga tahun.
Tiga anak itu adalah hasil kawin cerainya dengan tiga perempuan berbeda. Ia tidak mau jadi korban yang keempat. Meskipun Wati mengatakan bahwa lelaki itu telah insyaf. Ia ingin menikahi Zahrana sebagai isteri yang terakhir. Karena ia tidak juga bisa menenangkan batinya. Akhirnya ia tolak juga pemilik bengkel itu. Datangnya lamaran silih berganti yang semuanya ditolak oleh Zahrana itu membuat ibunya sempat marah.
"Kamu itu masih tinggi hati Rana! Perempuan tinggi hati tak akan mendapatkan jodohnya!"
Ia menangis dimarahi ibunya begitu. Ia merasa penolakannya itu ada landasan logika dan syariatnya yang kuat. Ia menangis di pangkuan ibunya, dan minta maaf jika belum bisa menjadi anak yang membahagiakan orangtua. Ibunya, akhirnya luluh dalam
tangis. Ayahnya yang melihat hal itu juga menangis. Sang ayah berkata sambil terisak, "Saat pindah ke STM Al Fatah kamu bilang siapa tahu jodohmu di pesantren. Coba datanglah ke Pak Kiai. Coba kamu minta pada Pak Kiai untuk membantu mencarikan.
Mungkin kamu akan ditemukan dengan santrinya!"
"Baiklah ayah, tak kurang ikhtiar saya. Untuk menemukan yang saya idamkan baiklah saya akan sowan ke tempat Bu Nyai dan Pak Kiai secepatnya." Jawab Zahrana sambil mengusap airmatanya.
Esoknya ia nekat mengajak Lina, menghadap Bu Nyai dan Pak Kiai. Ia mengajak Lina sahabatnya itu, karena Lina dulu pernah nyatri di Pesantren ARIS Kaliwungu selama satu bulan saja, yaitu selama bulan Ramadhan.
Lina tentu lebih tahu berdiplomasi dengan Bu Nyai daripada dirinya yang sama sekali tidak pernah nyantri. Kedatangannya diterima Bu Nyai dengan wajah menyejukkan. Bu Nyai Sa'adah Al Hafidhah adalah isteri K.H. Amir Arselan, pengasuh utama Pesantren Al
Fatah. Bu Nyai ini umurnya lima puluhan tahun. Dulu menghafal Al-Quran di Kudus. Dan di tangannya kini telah lahir ratusan santriwati yang hafal Al-Quran. Saat itu kebetulan Pak Kiai sedang pergi ke Rembang. Hanya Bu Nyai yang menemui.
'Apa yang bisa Ummi bantu, Anakku? Oh ya siapa namamu, Anakku?" tanya Bu Nyai.
"Nama saya Rana, Ummi. Lengkapnya Dewi Zahrana. Kedatangan saya ke sini pertama untuk silaturrahmi.
Kedua untuk mohon tambahan doa dari Ummi.
Kebetulan saya ikut mengajar di STM Al Fatah. Baru enam bulan ini Ummi." Terang Zahrana dengan kepala menunduk.
"O begitu. Ya. Jadi kau guru baru di STM Al Fatah?"
"Iya, Ummi."
"Dulu nyantri di mana?"
Belum sempat Zahrana menjawab, Lina memotong,
"Zahrana ini belum pernah nyantri, Ummi. Tapi dia hariannya seperti santri. Zahrana ini dari SMA. Terus kuliah S.l di UGM dan S.2 di ITB Bandung, Ummi."
"Kalau begitu kamu hebat ya Zahrana. Bisa S.2 di ITB.
Jurusan apa?"
"Teknik Sipil, Ummi."
Bu Nyai hanya manggut-manggut. Lina tahu bahwa Zahrana tidak berani mengungkapkan maksud sebenarnya. Maka dengan tanpa diminta ia lalu menjelaskan dengan sehalus mungkin maksud utama kedatangan Zahrana ke pesantren. Bu Nyai menjawab, "Saya yakin tidak mudah mencari yang selevel denganmu, Anakku. Jujur saja kalau misalnya ada yang selesai S.2 umurnya sama denganmu dia akan memilih yang lebih muda darimu. Lelaki itu umumnya punya ego, tidak mau isterinya lebih pinter dan lebih tua darinya. Tapi ya tidak semua lelaki lho. Sekali lagi tidak mudah mencarikan jodoh yang pendidikannya harus tinggi seperti kamu juga saleh. Kalau boleh tahu,
kalau strata pendidikannya tidak setinggi kamu bagaimana?"
Zahrana mengerti maksud Bu Nyai. Segera ia menjawab, "Saat ini status, strata, kedudukan sosial, pendidikan dan lain sebagainya tidak jadi pertimbangan
saya Bu Nyai. Saya hanya ingin suami yang baik agamanya. Baik imannya dan bisa jadi teladan untuk anak-anak kelak. Itu saja."
"Oo, baiklah kalau begitu. Besok kautelpon aku ya. Nanti malam aku akan rembugan dengan Pak Kiai.
“Semoga ada pandangan."
"Baik Bu Nyai."
Keduanya lalu pamitan setelah dipaksa Bu Nyai menghabiskan minuman yang ada di gelas.
"Harus dihabiskan. Kalau tidak habis itu namanya mubazir. Dan orang yang suka mubazir itu teman akrabnya setan." Kata Bu Nyai serius.
Rana dan Lina hanya bisa manut saja. Mereka pulang dengan hati diliputi rasa gembira. Bu Nyai Dah, atau Ummi Dah, begitu para santri memanggilnya, ternyata sangat halus tuturbahasanya, begitu perhatian dan begitu menyenangkan. Wajar jika banyak santri yang mencintainya. Pak Kiai pasti bahagia punya isteri sebaik dia.
* * *
Zahrana baru saja masuk kelas, ketika kepala sekolah memanggilnya. Ia bertanya-tanya dalam hati, "Ada apa sepagi ini kepala sekolah memanggilnya." Ia bergegas ke ruang kepala sekolah dengan kepala berisi tanda tanya.
"Bu Rana, saya baru saja ditelpon sama Bu Nyai Dah. Beliau minta kau menghadap beliau sekarang juga."
Begitu kata kepala sekolah begitu ia sampai di ruang kerja beliau. Zahrana langsung tahu kenapa Bu Nyai memanggilnya. Ia langsung bergegas ke ndalem Bu Nyai Dah. Bu Nyai Dah ternyata sudah menunggunya sambil membaca Al-Quran. Begitu Zahrana sampai beliau menghentikan bacaannya.
"Duduklah, Anakku." Ia duduk dengan kepala menunduk.
"Begini, Anakku. Pak Kiai punya seorang santri yang sudah tiga tahun ini meninggalkan pesantren. Dia santri yang dulu sangat diandalkan Pak Kiai. Namanya Rahmad.
Pendidikannya tidak tinggi. Ia hanya tamat Madrasah Aliyah. Tidak kuliah. Karena setelah itu dia mengabdi di pesantren ini. Baik akhlak dan ibadahnya. Tanggung
jawabnya bisa diandalkan. Ia dari keluarga pas-pasan. Anak kedua dari tujuh bersaudara. Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk keliling. Dia duda tanpa anak.
Isterinya meninggal satu tahun yang lalu karena demam berdarah. Itulah informasi yang bisa aku berikan. Musyawarahkanlah dengan kedua orangtuamu dan kerjakanlah shalat Istikharah. Jika kamu ingin dan tertarik, beritahukan Ummi. Nanti kita carikan jalan
terbaik."
"Baiklah, Ummi. Terima kasih. Saya akan musyawarah dan Istikharah dulu. Saya pamit dulu Ummi, karena tadi kelas saya tinggalkan." Jawab Zahrana.
"Ya. Semoga barakah, Anakku!"
Zahrana berjalan ke kelas dengan telinga yang mendengungkan apa yang disampaikan Bu Nyai:
"...Ia dari keluarga pas-pasan. Anak kedua dari tujuh bersaudara. Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk keliling. Dia duda tanpa anak. Isterinya meninggal satu tahun yang lalu karena demam berdarah...!" Sambil berjalan ia menirukan ucapan Bu Nyai,
"Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk keliling. Dia duda tanpa anak. Isterinya meninggal satu tahun!" "Hmm penjual kerupuk keliling. Apakah memang takdirku jadi isteri seorang penjual kerupuk keliling?" gumamnya sendiri. Ada dialog yang cukup serius dalam dirinya.
"Tapi meskipun penjual kerupuk keliling. Ia adalah orang yang baik akhlak dan ibadahnya. Tanggung jawabnya bisa diandalkan. Toh aku sudah bilang pada Bu Nyai bahwa status, strata, kedudukan sosial, pendidikan dan lain sebagainya tidak jadi pertimbangan lagi. Yang aku inginkan adalah suami yang baik agamanya. Baik imannya dan bisa jadi teladan untuk anak-anak kelak. Apakah aku harus mempersoalkan pekerjaannya yang cuma penjual kerupuk keliling?"
Sampai di kelas ia tidak konsentrasi mengajar. Akhirnya ia memberi pekerjaan kepada para siswa. Jam ketiga ia ijin pulang ke rumah dengan alasan ada kepentingan yang sangat penting berkaitan dengan permintaan Bu Nyai. Jika alasannya Bu Nyai, tidak ada yang berani membantah.
Sampai di rumah ia mengajak musyawarah ayah dan ibunya. Keduanya mendorongnya untuk maju. "Kemuliaan hidup seseorang itu tidak karena pendidikannya atau pekerjaannya. Seseorang jika dimuliakan oleh Allah akan juga mulia di mata manusia."
Demikian kata ibunya.
Ia mulai mantap. Namun merasa masih belum cukup. Ia lalu menelpon Lina. Dari jauh Lina menjawab,
"Dia kan lulusan aliyah. Nanti jika kalian sudah menikah dan hidup mapan. Minta saja dia kuliah. Dengan begitu dia akan selesai S.l dan jarak pendidikan tidak terlalu jauh. Dan sebenarnya dengan dia mengabdi di Pesantren bertahun-tahun dia telah mendapatkan pelajaran hidup yang lebih matang dari mata kuliah di Program Pascasarjana sekalipun. Sudah mantaplah Ran. Pak Kiai dan Bu Nyai pasti berusaha mengarahkan yang terbaik."
Mantap sudah hatinya. Niatnya sudah bulat. Untuk semakin memantapkan ia pun Istikharah. Setelah Istikharah rasa mantapnya semakin besar. Hari itu juga ia menelpon Bu Nyai dan menjelaskan kemantapannya. Bu Nyai menjawab,
"Baiklah coba jelaskan alamat rumahmu!"
"Saya tinggal di Perumahan Klipang Asri. Jalan Madukara B-15."
"Besok satu hari penuh jangan ke mana-mana. Pak Kiai akan meminta si Rahmad itu berjualan ke perumahan di mana kau tinggal. Kau belilah kerupuk darinya, dan kau
boleh bertanya apa saja padanya. Biasa saja. Dia tidak tahu apa-apa masalah ini. Dengan begitu kau bisa tahu dengan jelas calon suamimu itu. Jika kau masih
jugamantap, maka bisa diteruskan. Jika tidak ya tidak apaapa."
"Baik Bu Nyai." Jawabnya.
Dari situ ia tahu betapa demokratisnya Bu Nyai. Betapa bijaksananya Bu Nyai. Betapa Bu Nyai memang tidak mau memaksa. Ia kemudian jadi takut. Janganjangan ia yang nanti mau, tapi si penjual kerupuk itu justru yang tidak mau dengan alasan minder dan lain sebagainya. Ia mendesah nafas panjang. Biarlah waktu yang menjawabnya, desahnya.
* * *
Hari berikutnya Zahrana benar-benar tidak ke manamana sejak pagi. Hari itu ia ijin tidak mengajar demi mengejar takdir. Ia menunggu di ruang tamu. Terkadang juga di beranda. Sesekali ke jalan. Penjual kerupuk itutidak juga datang. Jam sebelas siang seorang penjual kerupuk datang. "Puk Kerupuk! Puk Kerupuk!" Suara penjual kerupuk itu membahana. Hari Zahrana sedikit lega. Ia menunggu. Suara itu semakin mendekat. Semakin mendekat. Ia keluar ke beranda. Begitu penjual kerupuk sampai di depannya, ia berteriak,
"Kerupuk Pak!"
Penjual kerupuk itu menghentikan langkah. Tempat kerupuk yang dipikulnya ia turunkan. Zahrana terperanjat. Sudah tua. Ia memperkirakan umurnya mendekati lima puluh tahun. Kulitnya hitam legam tersengat matahari. la hampir menangis.
"Iya Bu, beli berapa?"
"Tiga ribu Pak."
"Baik Bu."
Penjual kerupuk itu mengambil kerupuk dan memasukkan ke dalam plastik lalu menyerahkan kepada Zahrana. Zahrana mengeluarkan uang dua puluh ribu.
"Ada yang kecil Bu?"
"Aduh tak ada Pak."
"Aduh gimana ya Bu. Saya tak ada kembalian. Udah ibu bawa dulu saja kerupuknya. Kapan-kapan kalau saya lewat ibu bayar."
"E jangan Pak. Udah bapak bawa saja. Itu sedekah saya untuk Bapak."
"Baik Bu kalau begitu. Matur nuwun ya Bu. Semoga keinginan ibu dikabulkan Allah."
"Amin." Dalam hati Zahrana berdoa ingin suami yang saleh dan pantas bagi dirinya.
Begitu penjual kerupuk itu pergi, Zahrana langsung menghubungi Lina sambil menangis. la menceritakan penjual kerupuk yang baru ditemuinya.
"Apakah dalam pandangan Pak Kiai dan Bu Nyai saya memang pantasnya untuk penjual kerupuk yang tua itu?" Nada Zahrana terdengar sedih.
"Tenanglah Rana. Kau sudah tanya sama Pak Tua itu siapa namanya?"
"Tidak terpikir Lin. Sama sekali tidak terpikir bertanya namanya tadi. Aku sudah shock duluan tahu penjual itu sudah tua. Tidak seperti yang aku bayangkan."
"Ya sudah. Kalau begitu kau sabar saja. Yang jelas, tidak mungkin Pak Kiai dan Bu Nyai tega menjerumuskanmu. Ini kan masih siang. Kau tunggu saja. Aku yakin yang dikirim Pak Kiai pasti baik. Pokoknya kamu jangan ke mana-mana ya. Tunggu sampai malam datang. Mau dapat suami saleh harus sabar ya." Lina berusaha menenangkan dan menguatkan.
"Terima kasih Lin. Semoga yang kaukatakan benar."
Zahrana kembali menunggu. Nyaris satu hari penuh Zahrana menunggu dengan perasaan sedih, jengkel, marah juga berharap. Belum pernah ia sepegal itu. La yang dulu pernah mendapatkan predikat mahasiswa teladan UGM kini menunggu datangnya seorang penjual kerupuk keliling. Begitu pentingnya penjual kerupuk itu. Tapi inilah takdir hidupnya. Ia merasa ia harus sabar. Sampai senja tiba, tukang kerupuk selain yang pertama belum datang. Ia menangis. Jika benar, yang dikirim Pak Kiai adalah Pak Tua tadi, maka ia merasa menjadi perempuan paling menderita di dunia. Sampai Pak Kiai dan Bu Nyai yang dia anggap orang yang sangat arif pun, berpendapat bahwa ia pantasnya dengan lelaki berkepala lima. Sudah sedemikian tidak berharganya
dirinya. Ia masuk rumah. Lima belas menit lagi azan Maghrib berkumandang. Ia cemas dan galau. Tak ada penjual kerupuk yang datang kecuali Pak Tua tadi. Ia bingung.
Ia lemas. Ia keluar lagi. Berharap ada penjual kerupuk lain yang datang. Penjual kerupuk seperti yang ia bayangkan. Ia duduk di kursi beranda. Airmatanya
bercucuran,
"Ya Ilahi jika aku punya dosa, ampunilah dosaku. Cukupkanlah ujian-Mu. Aku mohon mudahkanlah jalanku menyempurnakan separo agamaku sesuai syariat-Mu. Mudahkan diriku menyempurnakan ibadah kepada-Mu."
Ia lalu bangkit masuk rumah lagi. Tak ada siapasiapa di rumah. Ayah dan ibunya sedang ke rumah sepupunya yang memiliki hajat sunatan di Pucang Gading.
Baru saja masuk, ia mendengar suara nyaring,
"Kerupuk-kerupuk! Kerupuk Paak! Kerupuk Buu!"
Ia terperanjat dan bergegas keluar. Suaranya lebih tegas dan lantang. Ia lari. Penjual kerupuk itu telah melewati rumahnya. Ia melongok dari pagar. Penjual kerupuk itu hanya tampak punggungnya. Ia naik sepeda dan mengayuh sepedanya dengan cukup kencang.
Zahrana jadi penasaran. Dengan cepat ia nyalakan sepeda motornya yang berdiri di beranda. Lalu melesat mengejar. Tak perlu waktu lama agar penjual kerupuk itu terkejar. Apa susahnya bagi sepeda motor untuk mengejar sepeda. Ketika sudah dekat ia berteriak,
"Kerupuk, Mas!"
Penjual kerupuk itu menepi menghentikan sepedanya. Ia melakukan hal yang sama. Penjual kerupuk itu membuka topi lebarnya dan mengipas-ngipaskannya ke tubuhnya. Semarang memang panas, meskipun haritelah senja. Zahrana terperanjat. Masih muda dan ganteng. Keringat yang mengalir, lengan yang kekar terbakar matahari menambah pesona tersendiri.
Sesaat lamanya ia memandangi penjual kerupuk itu.
"Iya Bu, beli berapa?" Ia tersadar.
"E...lima ribu."
Penjual kerupuk itu mengambil plastik hitam besar dan memenuhinya dengan kerupuk.
"Ini Bu"
Ia mengambil kerupuk dan mengulurkan uang lima puluh ribu. Penjual kerupuk itu menerima uang itu dan menghitung uang kembalinya.
"Ini kembalinya Bu. Empat puluh lima ribu rupiah."
Zahrana menerima dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang kantong plastik berisi kerupuk. Penjual bersiap melanjutkan perjalanan.
"E, Sebentar, Mas." Zahrana menghentikan.
"Ya Bu, ada apa? Apa uang kembalinya kurang?"
"Tidak kok Mas. Mau tanya, sudah lama jualan kerupuk ya Mas? Kok kayaknya baru ke daerah ini."
"Iya Bu. Sudah lama. Saya memang baru kali ini ke daerah ini. Biasanya saya beroperasi di daerah Mranggen, Plamongan Indah, Pucang Gading dan Penggaron saja,"
"O. Ini cari langganan baru ya?"
"Bisa ya, bisa tidak."
"Kok begitu."
"Biasanya dagangan saya sudah laku di timur, tidak perlu sampai ke kampung ini. Saya jualan ke sini hanya karena sendiko dawuh saja sama Pak Kiai. Pak Kiai saya itu aneh, tiba-tiba saya diminta jualan di daerah ini, di perumahan ini. Dan anehnya Pak Kiai bilang hari ini saja.
Besok-besok terserah."
Jantung Zahrana berdegup kencang. Azan Maghrib mengalun.
"Boleh tahu, siapa nama Mas?"
"Nama saya Rahmad Bu. Sudah ya Bu saya jalan dulu. Sudah Maghrib, saya harus cari masjid."
Penjual kerupuk itu mengayuh sepedanya ke arah suara azan berkumandang. Zahrana memandang punggungnya sampai hilang di kejauhan.
"Diakah jodoh yang ditakdirkan Allah untukku?"
tanyanya dalam hari.
Ia lalu kembali ke rumahnya. Sampai di rumah ayah ibunya sudah ad a di rumah. "Dari mana Rana? Ini rumah ditinggal pergi tapi pintu terbuka tak dikunci? Jangan sembrono kamu!" tegur ibunya serius.
"Dari mengejar penjual kerupuk Bu. Wong cuma sebentar kok." Jawab Zahrana tenang.
"Penjual kerupuk yang dikirim Bu Nyai itu?" tanya ibunya dengan mata berbinar.
"Iya Bu."
"Bagaimana orangnya? Ganteng? Kau cocok?"
"Ah ibu itu lho semangat banget. Yang jelas orangnya baik. Yang lain nanti kita musyawarahkan!"
"Iya. Iya. Baik."
Zahrana lalu masuk kamarnya untuk siap-siap shalat Maghrib. Sebelum ia mengambil air wudhu hpnya berdering. Sebuah SMS masuk. Ia buka,
"Ass wr wb. Bu ini Hasan. Alhmdulillah tadi sy sdh wisuda. Dan alhmdulillah sy dinobatkan sbg mhsw terbaik. Ini jg berkat doa dan bimbingan Ibu. Trm ksh sdh mmnjami referensi dll. Mhn doanya. Wassalam."
Ia tersenyum. Ia bahagia membaca SMS itu. Bagaimana tidak bahagia jika ada seorang murid yang berhasil tidak lupa pada gurunya. Ia teringat saat dulu diwisuda di UGM dan menjadi lulusan terbaik di Fakultasnya.
Saat itu ia sangat bahagia. Dan itu pula yang saat ini sedang dirasakan mahasiswanya, Hasan. Ia teringat Nina. Bagaimana dengan Nina? Nina tak kalah hebatnya dengan Hasan. Tiba-tiba ia tersenyum simpul. Hasan dan Nina itu cocok. Kalau mereka menikah itu pas. Hasan ganteng, Nina cantik. Samasama aktivis. Sama-sama cerdas dan bisa diandalkan.
* * *
Setelah Zahrana melakukan kroscek pada Bu Nyai, memang penjual kerupuk yang masih muda itulah yang dimaksud Pak Kiai. Umurnya 29 tahun. Jadi lebih muda
empat tahun dari Zahrana. Setelah memikir dan menimbang tiga hari lamanya Zahrana merasa cocok. Ayah dan ibu Zahrana pun cocok. Barulah setelah itu Pak Kiai dan Bu Nyai mempertemukan dua keluarga. Mulanya si Rahmad merasa minder. Tapi Pak Kiai
berhasil meyakinkan Rahmad untuk tidak minder. Pada Rahmad Pak Kiai berkata,
"Zahrana ini, meskipun berpendidikan tinggi tapi ia rendah hati. Yang jadi pertimbangan Zahrana dalam mencari suami bukan materi, status, strata, kedudukan sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Yang jadi pertimbangan Zahrana adalah agama, iman dan akhlak. Insya Allah, ia gadis salehah yang mampu menghormati suaminya. Jadi kamu jangan minder!"
Akhirnya Rahmad juga menyatakan cocok. Jadilah dua keluarga itu cocok. Saat musyawarah dua keluarga itu, Zahrana mengutarakan keinginannya untuk mempercepat pernikahannya. Usul Zahrana diterima dengan penuh semangat oleh dua keluarga.
"Semakin cepat semakin baik. Insya Allah semakin cepat juga semakin barakah!" Demikian Pak Kiai berkomentar.
Dan ditetapkanlah hari H pernikahan Rahmad dengan Zahrana dua minggu setelah pertemuan itu. Dua keluarga itu langsung didera kesibukan menyiapkan pesta pernikahan itu. Karena Zahrana anak tunggal, Pak Munajat ingin semua teman lama dan saudara diundang. Dengan kerja keras, dalam waktu relatif singkat undangan pernikahan tersebar. Zahrana mengundang semua temannya. Yang tidak bisa dikirimi undangan diberitahu lewat email dan SMS . Ia juga mengundang mahasiswanya yang ia kenal. Mereka ia undang lewat SMS. Para mahasiswanya mengirim balasan dengan nada sangat gembira dan memastikan mereka datang. Namun dua orang mahasiswa yang ia harapkan datang, yaitu Nina dan Hasan malah tidak bisa datang.
Nina mengirim balasan:
"Trm ksh Bu atas undangannya. Smg prnikhnnya barakah. Maaf sy tdak bisa datang sbb pada hari yang sama saya jg akan melangsungkn akad nikah di Jkt. Saling mendoakan ya Bu. Nina."
Ia bahagia, Nina langsung menikah begitu selesai S.l. Tapi sedikit kecewa karena Nina tidak menikah dengan Hasan. Seperti yang ia idealkan. Ia langsung sadar, ideal di mata manusia itu berbeda dengan ideal di mata Allah Swt.
Sementara Hasan mengirim balasan, "Smg prnkhan Ibu pnh barakah. Maaf sy tdk bs datang Bu. Sbb hari itu saya hams mengurus beasiswa S.2 USM (Universiti Sains Malaysia). Motion doanya."
Kabar yang membuatnya bahagia. Mahasiswa penuh dedikasi seperti Hasan memang pantas mendapatkan beasiswa. Dalam hati ia berdoa semoga semua mahasiswanya berhasil dan sukses. Tak ketinggalan ia juga mengundang teman temannya sesama dosen waktu mengajar di kampus Fakultas Teknik. Semua ia undang termasuk Bu Merlin.
Hanya Pak Karman yang tidak. Ia tak ingin hari bahagianya rusak dengan melihat bandot tua yang tidak ia suka itu.
Namun mau tidak mau Pak Karman tahu juga kabar itu. Dan ia juga tahu bahwa hanya ia seorang di kampus yang tidak diundang. Hal itu membuatnya marah dan geram.
"Jangan sebut aku ini Karman jika tidak bisa memberi pelajaran pahit pada perempuan tengik itu!"
Geramnya sambil memukul meja di ruang kerjanya. Empat Hari pernikahan Zahrana semakin dekat. Zahrana telah memilih gaun pengantinnya. Gaun pengantin Muslimah
hijau muda yang sangat anggun. la memang suka warna hijau muda. Gaun pengantin itu ia beli dari butik Muslimah terkemuka di Solo. Sore itu, ia mencoba gaun itu di kamarnya. Sambil memandang wajahnya ke cermin ia berkata,
"Akhirnya aku akan jadi pengantin juga. Aku akan punya suami. Aku akan hidup membina rumah tangga layaknya yang lain."
Hatinya berbunga-bunga. la bahagia. Jika boleh meminta ia masih ingin meminta akad nikah dan walimatul ursy-nya. dipercepat lagi saja. Ia ingin segera mengatakan pada dunia bahwa ia juga berhak hidup wajar seperti yang lainnya. Hidup berkeluarga.
Memiliki suami yang baik dan setia. Dan kelak memiliki anakanak yang menjadi penyejuk jiwa.
Tiba-tiba hp-nya. berdering. Satu SMS masuk,
"Apa kabar perawan tua? Jika kau telah beli gaun pengantin. Sebaiknya kaukembalikan saja. Kau tak akan memakainya di hari pernikahan yang telah kautentukan. Kau masih akan lama menyandang statusmu sebagai perawan tua. Bukankah jadi perawan tua itu indah. Tiap saat dilamar banyak orang dan bisa dengan semenamena menolaknya. Kenapa kau tidak menikmatinya saja? Kenapa tergesa-gesa? Demi kebaikanmu sendiri, sebaiknya kaukembalikan saja gaun pengantinmu itu. Jadilah perawan tua selamanya."
Ia kaget. SMS berisi kata-kata teror itu muncul lagi. Entah kenapa, kali ini ia tidak setenang dulu menghadapai SMS teror itu. Kali ini ia sangat marah. Rasanya ia ingin membunuh orang yang mengirim SMS kurang ajar itu. Dengan sangat geram ia membalas,
"Semoga laknat Allah mengenaimu hai iblis tua! Semoga kau menemui ajalmu dalam keadaan hina di mata manusia!"
* * *
Persiapan perhelatan akad nikah dan walimatul ursy di rumah Zahrana nyaris sempurna. Besok acara pernikahan itu akan berlangsung. Rumah itu kini ramai dengan orang. Anak-anak kecil berlarian main kejarkejaran. Pengeras suara telah dipasang. Lagu-lagu khas pesta pernikahan dinyalakan. Sore itu syair lagu dari group kasidah Nasyida Ria berkumandang, Duhai senangnya pengantin baru. Duduk bersanding bersenda gurau. Zahrana tersenyum. Besok ia akan mengalaminya. Duduk bersanding dengan suaminya. Zahrana ingin membantu kaum ibu di dapur menyiapkan segala
sesuatu. Tapi mereka meminta Zahrana istirahat saja. Maka setelah shalat Isya ia langsung tidur, agar besok ia benar-benar fresh dan segar. Lagu-lagu bahagia masih mengalun. Di luar kamarnya kesibukan terus berjalan sebagaimana mestinya. Anakanak
kecil tertawa-tertawa bahagia. Mereka berlarian sambil memegang kue di tangannya. Zahrana tidur dalam kebahagiaan tiada terkira. Lagu yang terakhir ia dengar adalah alunan suara Nasyida Ria,
Duhai senangnya pengantin baru.
Duduk bersanding bersenda gurau.
Ia benar-benar tidur pulas dan nyenyak. Jam setengah tiga malam ia dibangunkan. Tidur bahagianya hilang. Ia kaget ada keributan. Ibunya menangis menjerit-jerit seperti orang kesurupan. Bapaknya terpekur di kursi seperti patung. Linalah yang membangunkannya.
"Ada apa ini Lin?" tanyanya heran. Ada kecemasan luar biasa yang tiba-tiba masuk dalam hatinya. Lina yang ia tanya malah menangis.
"Rahmad Rana? Rahmad calon suamimu Rana!"
"Ada apa dengan Rahmad?"
Lina tidak menjawab malah semakin keras terisakisak. Paman Rahmad yang ternyata ada di situ menjawab,
"Rahmad telah tiada, Anakku! Rahmad meninggal dunia!"
"Apa!!?" Ia kaget bagai tersengat listrik beribu-ribu volt.
"Rahmad mati tertabrak kereta api!" lanjut Paman Rahmad.
"Oh tidak! Tidak! Tidaaak!" Zahrana menjerit histeris.
Jeritannya menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Setelah itu ia pingsan seketika. Semua yang ada di rumah itu terpukul. Para tetangga Zahrana yang mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi ikut sedih dan meneteskan airmata.
Para tetangga itu lalu bertanya satu-sama-lain,
"Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana Rahmad bisa tertabrak kereta api? Di malam menjelang akad nikah, bukankah sebaiknya ia di rumah saja istirahat? Kenapa
bisa sampai tertabrak kereta api? Apa yang ia lakukan sebenarnya?"
Paman Rahmad menjelaskan,
"Habis shalat Maghrib tadi ada yang menelpon hpnya. Katanya teman lama ingin bertemu di Pasar Mranggen. Rahmad minta temannya itu datang ke rumah saja. Tapi
temannya itu mengatakan tidak bisa. Temannya itu memaksa Rahmad pergi menemuinya. Karena berkaitan dengan bisnis yang sangat pen ting. Dan Rahmad akan
diajak sedikit mengetahui prospeknya. Akhirnya Rahmad pergi. Sekalian beli peci baru. Sebenarnya keluarga melarang, tapi Rahmad memaksa pergi. Ia memaksa pergi sendirian. Saudara sepupunya mau ikut bersamanya tapi dilarangnya dengan alasan tenaga saudara sepupunya itu sangat dibutuhkan di rumah. Sampai jam sepuluh malam Rahmad belum juga pulang. Sebagian orang cemas, sebagian yang lain marah, Rahmad tidak segera pulang malah begadang dengan temannya yang tak dijelaskan siapa. Tepat tengah malam tadi dua orang polisi datang. Mereka memberitahu ada mayat tertabrak kereta api, dan dari KTP di dompetnya diketahui bernama Rahmad.
Sebagian orang memastikan ke tempat kecelakaan. Dan benar mayat yang berlumuran darah itu memang Rahmad."
Mendengar cerita itu semua diam. Semua membisu. Semua larut dalam kesedihan yang dalam. Zahrana masih pingsan.
***
Pagi harinya bukan pesta pernikahan yang digelar tapi upacara belasungkawa kematian. Tak ada lagu bahagia. Tak ada senyum dan canda. Tak ada gelak tawa. Yang
ada adalah mata yang berkaca-kaca dan rinai tangis dalam jiwa. Zahrana belum bisa menerima apa yang terjadi. La masih pingsan berkali-kali. Lina berinisiatif membawa Zahrana ke rumah sakit. Zahrana harus dijauhkan dari suasana yang masih diselimuti sedih itu. Zahrana harus dijauhkan dari rumahnya, di mana ia siap melangsungkan akad nikah, namun tiba-tiba menciptakan trauma baginya.
Lina membawa Zahrana yang masih pingsan ke RS. Roemani. Lina memilihkan kamar VIP agar Zahrana bisa beristirahat dengan nyaman. Menjelang Zuhur Zahrana siuman. Lina ada di sampingnya menenangkan. Setelah minum air putih tiga teguk Zahrana menangis.
"Lebih baik aku mati saja Lin. Aku nyaris tidak kuat!" katanya dalam pelukan Lina dengan terisak-isak.
"Sebut nama Allah ya Rana! Sebut nama Allah! Ingatlah Allah! Bersabarlah! Mintalah kepada Allah agar musibah ini diberi ganti yang lebih baik." Lina mencoba menguatkan.
"Tapi aku bisa gila Lin. Aku bisa gila! Aku shock! Daripada aku gila lebih baik aku mati saja!"
"Tidak, kau tidak akan gila. Kau akan baik-baik saja. Percayalah ini ujian dari Allah untuk memilihmu menjadi kekasih-Nya."
"Tak tahu aku harus bagaimana Lin."
"Sudahlah kau istirahat dulu. Tubuhmu sangat lemah. Banyaklah berzikir. Dengan banyak berzikir hati akan tenang!"
Dengan setia Lina menemani Zahrana. Segala usaha ia kerahkan untuk menghibur teman karibnya itu.
"Anakmu bagaimana Lin, kalau kau di sini?" tanya Zahrana.
"Tenang sudah ada yang mengurus. Anakku sedang bersama kakek dan neneknya di Ungaran."
Tiba-tiba airmata Zahrana kembali keluar.
"Bahagianya punya anak. Kau beruntung Lin. Punya suami baik. Anak lucu-lucu. Keluarga besar yang penuh kasih sayang. Sementara aku. Jangankan anak. Suami
saja tidak punya. Baru mau punya sudah pergi...."
Kata Zahrana sambil menangis memandang langit-langit kamar rumah sakit. "Sudahlah Rana. Sudahlah. Hanya belum tiba saatnya saja. Nanti kalau tiba saatnya kau insya Allah akan memiliki yang lebih baik dari yang aku miliki."
"Entahlah Lin, harapanku sudah pupus. Aku merasa tidak bergairah hidup lagi."
"Tidak Rana. Kau tidak boleh pupus harapan. Ingatlah Allah Mahaluas kasih sayang-Nya. Percayalah ini cuma ujian kecil. Masih banyak hamba Allah di muka bumi ini
yang diuji dengan ujian yang jauh lebih besar dari yang kaualami. Ayolah Rana, kau harus tabah! Kau harus tegar! Kau harus kuat! Kau harus terus maju! Kau tak
boleh menyerah. Putus asa berarti kau menyerahkan dirimu dalam perangkap setan!"
"Yah doakan aku ya Lin. Semoga aku kuat. Tapi bagiku ini sangat berat!"
"Aku tahu ini berat, tapi aku yakin kau mampu menghadapinya Rana. Aku yakin."
"Aku beruntung punya teman sepertimu Lina. Terima kasih ya Lin...Kau baik sekali!" Lirih Zahrana dengan mata berlinang-linang.
"Aku juga sangat beruntung punya teman sepertimu Rana. Aku banyak belajar kesabaran dan ketegaran justru darimu. Aku selalu berdoa agar kau bahagia."
Pintu diketuk. Seorang dokter berjilbab masuk. Dengan ramah dokter setengah baya itu memeriksa kondisi Zahrana. Semua keluhan Zahrana ia dengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali dokter itu menghiburnya dengan perkataan yang lembut dan menyejukkan. Senyumnya mengalirkan kesembuhan.
"Jadi, ibu ini Ibu Zahrana yang pengajar di Fakultas Teknik Universitas Mangunkarsa itu?"
Zahrana mengangguk.
"Berarti ibu kenal dengan anak saya ya?"
"Siapa nama anak Bu Dokter?"
"Namanya Hasan. Hasan Baktinusa."
"O kenal. Bahkan sangat kenal. Selamat ya Bu atas diwisudanya Hasan sebagai wisudawan terbaik. Salam buat Hasan. Semoga urusan beasiswanya lancar."
"Ya nanti saya sampaikan. Hasan sering sekali cerita tentang Bu Zahrana. Terima kasih telah banyak membantu anak saya."
"Sama-sama, Bu."
Pertemuan dengan dokter berjilbab yang ternyata ibundanya Hasan itu membuatnya seolah bisa bernafas. Dokter berjilbab itu juga bisa menyegarkannya dengan sedikit cerita masa mudanya yang sebenarnya mirip dengan Zahrana. Bu dokter bernama Zulaikha, biasa dipanggil Bu Dokter Zul itu ternyata juga menikah dalam usia yang sangat terlambat.
"Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi seperti apapun tak akan kembali. Jodoh itu terkadang dikejarkejar tidak tertangkap. Tapi terkadang tanpa dikejar datang sendiri. Yang paling penting adalah dekat dengan Allah dalam keadaan susah dan bahagia.
Senang dan sedih."
Zahrana seperti mendapatkan suntikan darah segar. Daya hidupnya tumbuh kembali. Dalam hati dia berkata,
“Ya benar. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi seperti apapun tak akan kembali."
Sebelum pergi Bu Dokter itu berkata, "Ada nasihat sangat bagus sekali dari Anton Chekov."
"Apa itu Bu?" tanya Zahrana pelan.
"Anton Chekov pernah menulis, 'Suatu saat kamu perlu untuk tidak memikirkan kesuksesan dan kegagalan. Jangan biarkan hal itu mengganggu dirimu!' ."
"Nasihat yang baik sekali Bu."
"Ya. Tidak ada salahnya untuk memperkaya jiwa kaubaca juga karya-karya sastra."
"Terima kasih Bu atas semuanya."
* * *
Derita Zahrana ternyata tidak cukup sampai di situ. Tanpa sepengetahuannya, di rumahnya terjadi musibah kedua. Pak Munajat, ayahnya, yang memang telah renta
tidak kuat menahan tekanan batin. Ia terkena serangan jantung. Dengan cepat ia dilarikan ke rumah sakit. Namun tak tertolong. Nyawanya melayang di perjalanan. Hari itu ia meninggal menyusul calon menantunya. Berita kematian Pak Munajat tidak disampaikan kepada Zahrana. Zahrana baru tahu setelah ia pulang dari rumah sakit dengan jiwa yang telah kukuh. Mengetahui ayahnya telah tiada ia menangis, namun
tidak sampai pingsan. Lengkap sudah penderitaan Zahrana.
Berita pernikahan yang tidak jadi karena pengantin lelakinya tertabrak kereta api itu dimuat koran terkemuka Jawa Tengah, Suara Mahardika. Kematian Rahmad yang mengenaskan masih diselidiki polisi. Polisi menyelidiki saksi-saksi. Polisi mencurigai orang yang menelpon Rahmad. Orang itu belum juga ditemukan dan masih dalam pencarian.
Beberapa hari setelah itu teman-temannya berdatangan mengucapkan bela sungkawa. Juga temanteman dosen Fakultas Teknik. Hampir semuanya datang. Termasuk Bu Merlin dan Pak Karman. Zahrana sangat kaget ketika Pak Karman datang. Di hadapan Zahrana Pak Karman berkata pelan sekali,
"Saya ikut berduka. Semoga almarhum berdua diterima di sisi-Nya. Saya berharap semoga gaun pengantinmu benar-benar telah kaukembalikan ke Solo!"
Zahrana tersentak. Kata-kata Pak Karman bagai aliran listrik yang menyengatnya. Kata-kata itu menguatkan keyakinannya bahwa yang menterornya selama ini adalah Pak Karman. Dan bagaimana bisa Pak Karman tahu ia membeli gaun pengantin itu dari Solo. Tiba-tiba firasatnya mengatakan kematian calon suaminya ada hubunganya dengan SMS terakhir Pak Karman. Dan pada hakikatnya, kata-kata Pak Karman
yang baru saja ia dengar adalah satu bentuk teror dahsyat yang hendak melumpuhkannya saat itu. Tibatiba kekuatannya bangkit. Ia merasa tidak boleh
terpancing. Ia harus bisa mengendalikan diri. Ia harus menang. Ia harus tenang.
"Terima kasih berkenan datang Pak." Jawabnya dengan pura-pura tidak memperhatikan perkataan Pak Karman.
Lima
Entah kenapa firasat Zahrana terus mengatakan bahwa Pak Karman ada di balik kematian calon suaminya. La ingin lapor polisi, jangan-jangan orang misterius yang
menelpon calon suaminya sebelum kecelakaan itu adalah Pak Karman, atau suruhannya.
Tapi ia tidak punya bukti. la bingung harus berbuat apa. la diskusikan kebingungannya itu pada Lina. Hanya Lina yang kini bisa diajaknya bicara.
"Aku yakin sekali Lin. Iblis tua itu ada di balik kematian Mas Rahmad. Aku yakin!" kata Zahrana berapi-api. Lantas ia menunjukkan data-data yang menguatkan dugaannya itu. Lina menanggapinya dengan kepala dingin,
"Sudahlah Rana. Jangan menambah rumit masalah. Jangan merepotkan diri sendiri. Jangan menuduh tanpa bukti! Salah-salah kau sendiri yang tertuduh nanti!"
"Data-data tadi. SMS saat aku mencoba gaun pengantin. Perkataannya saat mengucapkan bela sungkawa. Dan dendamnya kepadaku sehingga ingin memecatku, tidak bisa dianggap sebagai bukti?" seru Zahrana.
"Aku bukan pakar hukum Rana. Tapi sebaiknya kau fokus pada yang lain saja. Diikhlaskan saja. Orang yang ikhlas itu pasti menang. Karena orang yang ikhlas itu
selalu disertai Allah." Sahut Lina pelan. Ia lalumengambil koran dari tasnya.
"Apalagi polisi sudah mengumumkan bahwa kematian Rahmad murni karena kecelakaan. Coba kaubaca ini baca!" lanjut Lina sambil menyodorkan koran Suara
Mahardika.
Zahrana mengambil koran dari tangan Lina. Dan membaca berita yang dimaksud Lina. Ia menghela nafas panjang. Ada rasa kecewa dalam tarikan nafasnya. Lina
menangkapnya. Lina berusaha menghibur,
"Sudahlah Rana, sabarkan dirimu. Kuatkan imanmu. Ini ujian bagimu dari Allah, apakah kau jadi hamba-Nya yang pilihan apa tidak. Kata Rasulullah, semua perkara bagi orang Mukmin itu baik. Jika dapat nikmat bersyukur, dan jika dapat musibah bersabar. Semoga musibah ini jadi pahala." Lanjut Lina.
"Sebaiknya kautenangkan diri. Nanti ikhtiar lagi."
Zahrana mengangguk. Dalam hati Zahrana bertekad untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Ia teringat perkataan Bu Nyai saat memberikan ucapan bela sungkawa,
"Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita semua tunduk pada takdir-Nya. Yang Paling berkuasa di atas segalanya adalah Allah Swt."
Sejak itu, Zahrana nyaris tidak pernah meninggalkan shalat malam. Ia labuhkan segala keluhkesah dan deritanya kepada Yang Maha Menciptakan. Ia pasrahkan dirinya secara total kepada Allah. Dalam keheningan malam ia berdoa,
"Ya Rabbi, ikhtiar sudah hamba lakukan, sekarang kepada-Mu hamba kembalikan semua urusan. Ya Rabbi, aku berlindung kepada-Mu dari semua jenis kejahatan yang terjadi di atas muka bumi ini. Ya Rabbi, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala hal buruk yang Engkau ketahui."
* * *
Bulan Ramadhan datang. Zahrana semakin menikmati ibadahnya. Selesai Tahajjud, Zahrana menyiapkan sahur. Ibunya masih tidur. Begitu semua siap, Zahrana membangunkan ibunya dengan penuh kelembutan. Sang ibu lalu cuci muka, kemudian makan sahur. Rumah itu terasa begitu sunyi. Hanya Zahrana dan ibunya yang
duduk di meja makan itu.
"Ramadhan tahun lalu, kita masih makan sahur bersama ayahmu ya Nak."
"Iya Bu. Sudahlah Bu jangan diingat itu lagi."
"Apakah aku masih berkesampatan melihat kau duduk di pelaminan ya Nak."
"Sudahlah Bu. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Jika Allah menghendaki apapun bisa terjadi."
Selesai sahur Zahrana membaca Al-Quran sementara ibunya shalat. Begitu azan Subuh berkumandang mereka berdua pergi ke masjid. Selain untuk shalat Subuh berjamaah mereka juga ingin mendengarkan Kuliah Subuh yang diadakan selama Bulan Suci
Ramadhan. Habis dari masjid Zahrana mengajak ibunya berjalanjalan menghirup udara pagi keliling komplek perumahan. Mereka berdua masuk rumah ketika matahari sudah
terang bersinar di ufuk. Zahrana langsung mandi dan bersiap-siap mengajar. Jam tujuh kurang sepuluh menit ia sudah sampai di kantor STM Al Fatah. Waktu sepuluh menit sebelum bel berbunyi ia gunakan untuk membaca koran. Ia penasaran pada sebuah judul berita:
KARENABERBUAT CABUL, SEORANG DEKAN MATI
DIBUNUH DI RUANG KERJANYA.
"Semarang - Sepandai-pandai orang menyimpan bangkai, akhirnya kecium juga. Peribahasa ini agaknya layak untuk S (55 tahun), Dekan Fakultas Teknik Universitas Mangunkarsa Semarang. Perilaku cabulnya kepada mahasiswi yang selama ini disembunyikannya akhirnya terkuak. Ia tewas mengenaskan di ruang kerjanya ditikam oleh H (26 tahun) mahasiswa Fakultas Teknik yang marah karena isterinya bernama M (24tahun) diperlakukan tidak senonoh oleh dekan jebolan universitas terkemuka dari Amerika Serikat itu. Dua mahasiswa suami isteri itu, H dan M kini ditahan pihak
berwajib untuk penyelidikan lebih lanjut...."
Zahrana berkata pelan dalam hati, "Becik ketitik olo kethoro!" (Peribahasa Jawa, artinya: perbuatan baik akan diketahui,perbuatan buruk juga akan tampak.)Ia lalu bertakbir dalam hati. Ia merasa doanya dikabulkan oleh Allah. Yang jahat itu akhirnya mendapatkan balasannya sendiri.
Setelah itu ia masuk kelas dengan penuh semangat. Anak-anak didiknya ia ajak ke perpustakaan. Ia menugaskan kepada mereka untuk membaca buku yang berkenaan dengan puasa. Puasa dan hubungannyadengan kesabaran. Seorang siswa yang kritis protes,
"Kok tugasnya membaca buku tentang puasa Bu. Memang pelajaran kita ini pelajaran agama. Pelajaran kita kan tentang menggambar teknik listrik Bu?"
Dengan tersenyum Zahrana menjawab,
"Justru itulah karena dalam menggambar teknik listrik memerlukan kesabaran yang tinggi. Maka ibu ingin kalian memiliki ruh kesabaran itu. Mumpung kita masuk bulan puasa. Ayo kita kaji hubungan puasa dengan kesabaran. Dan hubungan puasa dengan penghematan. Dan juga hubungan puasa dengan prestasi umat Islam. Kita ke perpustakaan selama dua jam pelajaran. Kalian membaca yang serius. Hasil bacaan kalian, kalian presentasikan satu per satu minggu depan."
Anak-anak siswa kelas satu itu sangat gembira. Sebab diajak oleh guru masuk ke perpustakaan yang jarang mereka dapatkan. Bagi mereka, cara Bu Zahrana mengajar itu berbeda dengan guru-guru yang lain. Selalu ada hal yang baru. Mata pelajaran menggambar teknik listrik di tangan Bu Zahrana jadi pelajaran yang sangat mengasyikkan. Bisa masuk ke banyak hal tanpa kehilangan fokus utama pelajaran.
Sore itu setelah shalat Ashar Zahrana pergi ke warung untuk membeli kelapa, gula merah, dan tepung terigu. La ingin membuat kolak untuk buka puasa. Juga membuat
mendoan dan bakwan. Ibunya ternyata sudah menyiapkan es degan. Sudah dimasukkan di lemari es sejak siang. Pulang dari warung ia agak terkejut, sebab ada mobil sedan tepat di depan rumahnya. Ia menduga-duga siapa yang datang. Setelah masuk ia tahu kalau yang datang ternyata Bu Dokter Zulaikha, ibundanya Hasan.
"Dari mana Bu Zahrana?" tanya Bu Zul.
"Dari warung Bu Zul, ini beli bahan-bahan untuk bikin kolak. Sendirian ya Bu?"
Iya.
"Hasan apa kabarnya? Urusan beasiswanya ke Malaysia beres semua?"
"Alhamdulillah Hasan baik-baik saja. Dia titip salam. Dia tadi masih sibuk nulis-nulis entah nulis apa."
"Senang ibu berkenan dolan ke sini. Ini mampir atau memang menyengaja ke sini?" tanya Zahrana santai.
"Menyengaja ke sini em..." Ibunda Zahrana yang sedari tadi diam menyela,
"Nak, Bu Zul ini datang karena ada keperluan penting denganmu. Katanya ada hal serius yang ingin beliau konsultasikan denganmu. Sini biar ibu yang bikin kolak,
kau bisa bincang-bincang dengan beliau."
Bu Zul langsung menimpal, "Maaf jika kedatangan saya mengganggu."
"O nggak apa-apa Bu," sahut Ibunda Zahrana cepat,
"saya tinggal ke belakang dulu ya Bu. Silakan bicara dengan Zahrana," lanjutnya lalu pergi ke arah dapur.
Zahrana diam, Bu Zul pun diam. Suasana hening sesaat.
"Eh..konsultasi apa ya Bu?" Zahrana memecah keheningan.
"Eh ini. Tentang Hasan, anak saya."
"Ada apa dengan Hasan, Bu?"
"Sebelumnya maaf ya Bu, saya tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa lho. Karena saya tahu, ibu termasuk yang didengar omongannya oleh Hasan, maka saya konsultasi sama Bu Zahrana. Begini, dua hari yang lalu Hasan minta nikah Bu. Menurut ibu bagaimana? Padahal dia kan mau kuliah di Malaysia Bu." Zahrana mengerutkan dahi,
"Kalau menurut saya pribadi tidak ada salahnya Hasan menikah baru ke Malaysia. Kalau bisa isterinya dibawa, kalau tidak bisa ya tidak apa-apa isterinya ditinggal di
Indonesia. Toh Malaysia-Indonesia itu dekat. Sekarang tiket pesawat juga murah."
"Apa menurut Ibu, Hasan sudah layak menikah? Sudah layak punya isteri? Dan bisa bertanggung jawab menghidupi anak jika punya anak?"
"Pendapat saya ini sangat subjektif dari saya Bu. Menurut saya Hasan sudah sangat layak menikah. Selama saya tahu dia di kampus, dia bisa diandalkan tanggung jawab dan kepemimpinannya. Kenapa Ibu masih ragu dengan anak sendiri?"
"Saya tidak ragu Bu. Tapi saya mencari kemantapan. Biar mantap jika saya melepas Hasan ke dunia baru yang penuh perjuangan dan aral melintang."
"Mantap saja Bu. Menikah dini bagi orang seperti Hasan itu baik. Saya saja menyesal tidak menikah dini dulu."
"Itulah kenapa saya kemari. Selain tentang diri Hasan, saya ingin berdiskusi pada ibu tentang calon yang diajukan Hasan."
"Semoga saja saya kenal dengan calon Hasan itu. Dia kuliah sama dengan Hasan di Fakultas Teknik?"
"Tidak Bu. Saya langsung saja ya Bu. Maaf sebelumnya, Hasan meminta kepada saya untuk melamar Bu Zahrana. Calon yang diajukan Hasan, anak saya itu Ibu." Zahrana kaget bagai disambar Halilintar.
"S...saya Bu?!"
"Iya. Ibu. Anak saya ingin menikahi ibu!"
"Maaf, Bu. Mungkin Hasan cuma bercanda. Saya tidak pernah berlaku yang tidak-tidak sama Hasan Bu, sungguh." Jawab Zahrana dengan nada takut dan kuatir. la kuatir jika Bu Zul itu datang untuk membuat perhitungan dengannya. Takut kalau ia dianggap
berhubungan dengan Hasan.
"Nggak Bu, Hasan tidak bercanda. Anakku sangat serius dalam hal ini."
"Kalau begitu Hasan salah pilih, Bu." Bu Zul malah tersenyum,
"Bu Zahrana kok kelihatannya takut ada apa tho, Bu?"
"Ibu harus percaya pada saya Bu. Saya tidak punya hubungan apapun dengan Hasan kecuali dosen dengan muridnya Bu. Sungguh Bu!?"
Bu Dokter Zul itu geleng-geleng kepala dan tersenyum. Dia langsung paham maksud Zahrana.
"Bu Zahrana, saya tidak pernah menuduh begitu. Saya percaya pada ibu. Juga percaya pada anak saya. Saya datang kemari untuk menunaikan janji saya pada anak saya itu. Saya berjanji akan membantunya menyunting gadis manapun yang ingin dinikahinya selama akhlak dan agamanya bagus. Dan ketika Hasan ingin menyunting Bu Zahrana, saya langsung setuju. Sebab saya sudah tahu semuanya tentang ibu dari teman ibu, yaitu Bu Lina. Saya berharap. Dan sangat berharap Bu Zahrana tidak menolak pinangan ini. Ini pinangan serius tapi belum resmi. Jika Bu Zahrana serius nanti saya akan meminang secara resmi dengan membawa Hasan dan ayahnya juga beberapa anggota keluarga."
Zahrana tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang disampaikan Bu Zul itu sangat jelas ia dengar dan sangat jelas maksudnya. Tak ada yang tersembunyi lagi.
"Ibu sudah tahu say a tapi Hasan belum tahu saya Bu."
"Dia lebih tahu dari saya tentang diri Bu Zahrana. Apa yang masih membuat Bu Zahrana ragu."
"Saya masih belum bisa percaya Bu. Ini hal gila. Mahasiswa melamar dosennya. Apa kata dunia?"
"Harus bagaimana saya agar ibu percaya. Tidak Bu, tidak gila. Melangkah untuk mengikuti sunah Rasul itu bukan ide gila. Itu ide baik. Dan mahasiswa meminang dosen, apakah ada dalil yang mengharamkannya?"
"Saya tidak tahu harus bicara apa lagi."
"Berarti menerima. Tidak bicara berarti diam. Diam tanda menerima."
"Saya ini lebih tua dari Hasan Bu. Dia cocoknya jadi adik saya."
"Syariat tidak menentukan batasan umur. Ibu memang lebih tua. Tapi tidak terpaut jauh. Cuma empat tahun. Hasan umurnya 29. Mukanya memang baby face. Bagi saya sendiri tidak masalah. Toh suami saya juga lebih muda dua tahun dari saya."
"Saya belum bisa menerima Bu?"
"Kenapa? Kata ibu tadi Hasan sudah pantas menikah dan memiliki isteri. Apa lagi? Apa ada dalam diri Hasan suatu cacat yang menurut ibu layak ditolak lamarannya?"
Zahrana diam. la tidak tahu harus bagaimana. la masih belum tahu apa yang terjadi. Hasan melamarnya? Bagaimana mungkin? Tapi ibunya sedemikian serius. Apa
yang harus ia putuskan. Zahrana tetap diam.
"Diam berarti menerima. Saya pamit Bu, mana ibunda tadi?"
Zahrana tersentak mendengar Bu Zul mau pamit. Ia berdiri mengikuti Bu Zul yang sudah berdiri.
"Ibu benar-benar serius?"
"Iya."
"Hasan juga benar-benar serius?"
"Iya."
"Kalian sudah tahu kekuranganku dan maumenerimaku?"
"Iya. Tak ada manusia yang sempurna."
"Kalau begitu saya terima, tapi dengan syarat."
"Apa syaratnya?"
"Akad nikahnya nanti malam bakda shalat Tarawih di masjid. Biar disaksikan oleh seluruh jamaah masjid. Maharnya seadanya saja."
Kini gantian Bu Zul yang tersentak kaget. Ia tidak menduga Bu Zahrana akan mensyaratkan begitu.
"Apa nggak sebaiknya akadnya setelah Idul Fitri saja."
"Tidak. Ibu sudah tahu kan cerita saya selama ini. Apa ibu ingin saya mati kaku gara-gara saya tidak jadi nikah lagi. Saya tidak ragu dengan keseriusan ini. Saya hanya
kuatir ada hal-hal di luar kekuasaan kita yang membatalkan rencana itu. Bagi saya lebih baik ya nanti malam, atau tidak sama sekali."
Bu Zulaikha memandang wajah Zahrana lekat-lekat. Wajah yang teduh, namun sangat berkarakter.
"Baiklah. Dalam hal ini saya tidak memutuskan sendiri. Saya akan bicara sama anak dan keluarga. Saya pamit dulu. Setelah Maghrib nanti saya telpon."
Dokter berjilbab itu pulang setelah bersalaman dengan Zahrana dan ibunya. Zahrana memandang sedan dokter itu hingga hilang di tikungan. Ada kebahagiaan menyusup dalam hatinya. Tapi juga ada kecemasan. La memang lagi bahagia. Namun untuk membentengi diri agar tidak kecewa lagi setelah kebahagiaan di depan mata, ia menganggap dialognya dengan Bu Zul tadi hanya main-main. Dialog latihan orang bermain drama atau sandiwara.
* * *
Azan Maghrib berkumandang. Tanda waktu buka puasa tiba. Zahrana meneguk kolak dan makan mendoan. Ada kenikmatan luar biasa saat buka. Kenikmatan yang susah diungkapkan dengan kata-kata. Hanya orang-orang yang berpuasa saja yang bisa
merasakannya. Pembicaraan dengan Bu Zul itu tidak Zahrana sampaikan kepada ibunya. Ia tak ingin ibunya kecewa jika yang diharapkan tak terjadi lagi. Setelah shalat Maghrib Zahrana mendapat telpon dari Bu Zul,
"Bu Zahrana. Mengenai keputusan syarat yang Bu Zahrana ajukan, ini ibu langsung dengar sendiri suara Hasan ya.."
Suara di hand phone Zahrana lalu berubah,
"Bu Zahrana ini Hasan. Saya setuju dengan syarat ibu. Ibu siapkan wali dan saksinya saya akan siapkan maharnya dan penghulunya. Kami sekeluarga insya Allah berangkat sekarang, dan kami shalat Isya di masjid dekat rumah Ibu."
"Kau serius Hasan?"
"Iya Bu."
"Kau bisa mencintaiku?"
"Iya Bu."
"Kalau begitu jangan lagi kaupanggil aku Ibu. Panggil aku, Dik. Dik Zahrana. Coba kau bisa nggak?" Zahrana merasa tak perlu malu.
"Saya coba...Dik Zahrana, tunggu aku di masjid." Mata Zahrana berkaca-kaca mendengarnya. Ribuan hamdalah menyesak dalam dada.
"Te..terima kasih. Kita bertemu di masjid, insya Allah."
Sambungan ditutup. Zahrana menangis tersedu-sedu. Melihat hal itu sang ibu bingung dan bertanya-tanya pada Zahrana. Dengan terisak-isak Zahrana menjelaskan apa yang terjadi. Sang ibu turut menangis. Zahrana lalu sujud syukur. Dalam sujudnya Zahrana memohon kepada Allah agar akad nikah itu benar-benar terjadi. Tidak sekadar angan-angan dan mimpi. Dan pada malam kedua di Bulan Suci Ramadhan itu, apa yang diharapkan Zahrana terjadi. Akad nikah setelah shalat tarawih disaksikan oleh jamaah yang membludak. Sebagian besar adalah tetangga Zahrana. Mereka turut terharu. Saat akad nikah ibu Zahrana menangis tersedu-sedu. Beberapa ibu-ibu juga menangis.
Malam itu Zahrana sangat bahagia. Hasan juga merasakan hal yang sama. Usai akad nikah Hasan mengajak Zahrana naik mobilnya menuju hotel termewah di tengah Kota Semarang. Di dalam hotel, dengan penuh kekhusyukan Zahrana menunaikan ibadahnya sebagai seorang isteri. Ibadah yang sudah lama ia tunggu-tunggu bersama seorang suami.
Di mata Hasan, Zahrana yang tampak manis dengan jilbab putihnya ternyata jauh lebih manis ketika rambutnya terurai. Hanya dia yang tahu seperti apa manisnya Zahrana. Mereka berdua saling mengagumi, saling mencintai dan saling menghormati. Kebahagiaan Zahrana malam itu menghapus semua derita yang dialaminya. Tasbih selalu mengiringi tarikan nafasnya. Ia semakin yakin, bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar dan ihsan.
Malam itu, benar-benar malam kesaksian Zahrana atas Tasbih, Tahmid dan Takbir Cinta yang didendangkan Allah 'Azza wa Jalla kepadanya.
Subhaanallaah wal hamdulillaah, wa laailaahaillallaahu
wallaahu akbar!
Candiwesi-Salatiga-Pesantren Basmala-Semarang,
Ahad 30 Juli 2006 Pukul 15:51
/>
ok, langsung aja baca cerita karangan Habiburrahman El Shirarazy ini.
Takbir Cinta Zahrana
(Sebuah Novelet Pembangun Jiwa)
Matanya berkaca-kaca. Kalau tidak ada kekuatan iman dalam dada ia mungkin telah memilih sirna dari dunia. Ujian yang ia derita sangat berbeda dengan orangorang seusianya. Banyak yang memandangnya sukses. Hidup berkecukupan. Punya pekerjaan yang terhormat dan bisa dibanggakan. Bagaimana tidak, ia mampu meraih gelar master teknik dari sebuah institut teknologi bergengsi di negeri ini. Dan kini ia dipercaya duduk dalam jajaran pengajar tetap di universitas swasta terkemuka di ibukota Propinsi Jawa Tengah: Semarang.
Satu
Tidak hanya itu, ia juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai dosen paling berdedikasi di kampusnya. Ia sangat disegani oleh sesama dosen dan dicintai oleh mahasiswanya. Ia juga disayang oleh keluarga dan para tetangganya. Bagi perempuan
seusianya, nyaris tidak ada yang kurang pada dirinya. Sudah berapa kali ia mendengar pujian tentang kesuksesannya. Hanya ia seorang yang tahu bahwa sejatinya ia sangat menderita. Ada satu hal yang ia tangisi setiap malam. Setiap kali bermunajat kepada Sang Pencipta siang dan malam. Ia menangisi takdirnya yang belum juga berubah. Takdir sebagai perawan tua yang belum juga menemukan jodohnya. Dalam keseharian ia tampak biasa dan ceria. Ia bisa menyembunyikan derita dan sedihnya dengan sikap tenangnya. Ia terkadang menyalahkan dirinya sendir kenapa tidak menikah sejak masih duduk di S.l dahulu? Kenapa tidak berani menikah ketika si Gugun yang mati-matian
mencintainya sejak duduk di bangku kuliah itu mengajaknya menikah? Ia dulu memandang remeh Gugun. Ia menganggap Gugun itu tidak cerdas dan tipe lelaki kerdil. Sekarang si Gugun itu sudah sukses jadi pengusaha cor logam dan baja di Klaten. Karyawannya banyak dan anaknya sudah tiga. Gugun sekarang juga punya usaha Travel Umroh di Jakarta. Setiap kali bertemu, nyaris ia tidak berani mengangkat muka.
Kenapa juga ketika selesai S.l ia tidak langsung menikah? Kenapa ia lebih tertantang masuk S.2 di ITB Bandung? Padahal saat itu, temannya satu angkatan si Yuyun menawarkan kakaknya yang sudah buka kios pakaian dalam di Pasar Bringharjo Jogja. Saat itu kenapa ia begitu tinggi hati. Ia masih memandang rendah pekerjaan jualan pakaian dalam. Sekarang kakaknya Yuyun sudah punya toko pakaian dan sepatu
yang lumayan besar di Jogja. Akhirnya ia menikah dengan seorang santriwati dari Pesantren Al Munawwir, Krapyak. Dan sekarang telah membuka SDIT di Sleman. Apa
sebetulnya yang ia kejar? Kenapa waktu itu ia tidak juga cepat dewasa dan menyadari bahwa hidup ini berproses. Ia meneteskan airmata. Dulu banyak mutiara yang datang kepadanya ia tolak tanpa pertimbangan. Dan kini mutiara itu tidak lagi datang. Kalau pun ada seolah-olah sudah tidak lagi tersedia untuknya. Hanya bebatuan dan sampah yang kini banyak datang dan membuatnya menderita batin yang cukup dalam. Matanya berkaca-kaca. Ketika ia sadar harus rendah hati. Ketika ia sadar prestasi sejati tidaklah sematamata prestasi akademik. Ketika ia sadar dan ingin mencari pendamping hidup yang baik. Baik bagi dirinya dan juga bagi anak-anaknya kelak. Ketika ia sadar dan ingin menjadi Muslimah seutuhnya. Ketika ia menyadari, semua yang ia temui kini, adalah jalan terjal yang panjang yang menguji kesabarannya.
Umurnya sudah tidak muda lagi. Tiga puluh empat tahun. Teman-teman seusianya sudah ada yang memiliki anak dua, tiga, empat, bahkan ada yang lima. Adik-adik
tingkatnya, bahkan mahasiswi yang ia bimbing skripsinya sudah banyak yang nikah. Sudah tidak terhitung berapa kali ia menghadiri pernikahan mahasiswinya. Dan ia selalu hanya bisa menangis iri menyaksikan mereka berhasil menyempurnakan separo
agamanya.
Hari ini ia kembali diuji. Seseorang akan datang. Datang kepada orangtuanya untuk meminangnya. Ia masih bimbang harus memutuskan apa nanti. Ia sudah sangat tahu siapa yang akan datang. Dan sebenarnya ia juga sudah tahu apa yang harus ia putuskan. Meskipun pahit ia merasa masih akan bersabar meniti jalan terjal dan panjang sampai ia menemukan mutiara yang ia harapkan. Tapi bagaimana ia harus kembali memberikan pemahaman kepada ayah-ibunya yang sudah mulai renta?
Hand phone-nya berdering. Dengan berat ia angkat,
"Zahrana?" Suara yang sangat ia kenal. Suara Bu Merlin, atasannya di kampus. Bu Merlin, ataulengkapnya Ir. Merlin Siregar M.T., adalah Pembantu Dekan I. Ia orang kepercayaan Pak Karman. Sejak SMA ia di Semarang, jadi logat Bataknya nyaris hilang. Bahasa Jawanya bisa dibilang halus.
"Iya Bu Merlin." Jawabnya dengan airmata menetes di pipinya.
"Saya dan rombongan Pak Karman sudah sampai Pedurungan. Dua puluh menit lagi sampai."
"Iya Bu Merlin." Jawabnya hambar, dengan suara serak.
"Suaramu kok sepertinya serak. Sudahlah Rana, bukalah hatimu kali ini. Pak Karman memiliki apa yang diinginkan perempuan. Dia sungguh-sungguh berkenan menginginkanmu."
"Iya Bu Merlin, semoga keputusan yang terbaik nanti bisa saya berikan."
"Baguslah kalau begitu. Gitu dulu ya. O ya jangan lupa dandan yang cantik." Klik. Tanpa salam.
Kali ini yang datang melamarnya bukan orang sembarangan. Pak H. Sukarman, M.Sc., Dekan Fakultas Teknik, orang nomor satu di fakultas tempat dia mengajar. Duda berumur lima puluh lima tahun. Status dan umur baginya tidak masalah. Sudah bertitel haji. Kredibilitas intelektualnya tidak diragukan. Materi tak usah ditanyakan. Di Semarang saja ia punya tiga pom bensin. Namun soal kredibilitas moralnya, susah Zahrana untuk memaafkannya. Repotnya, jika ia menolak ia sangat susah untuk menjelaskan. Ia harus berkata bagaimana.
Ia telah membicarakan hal ini pada kedua sahabat karibnya. Si Lina, yang kini jualan buku-buku Islami di Tembalang. Dan si Wati yang kini jadi isteri lurah Tlogosari Kulon. Lina berpendapat untuk tidak mengambil risiko dengan menerima orang amoral seperti Pak Karman itu. Apapun titel dan jabatannya. Moral adalah nyawa orang hidup. Jika moral itu hilang dari seseorang, ia ibarat mayat yang bergentayangan. Itu pendapat Lina.
Sedangkan Wati lain lagi, menurutnya sudah saatnya ia tidak melangit. Mencari manusia setengah malaikat itu hal yang mustahil. Selama Pak Karman masih shalat dan
puasa ya terima saja. Apalagi ia orang terpandang. Dan juga kesempatan seperti ini tidak selalu datang. Terakhir Wati bilang, "Siapa tahu dengan menikah denganmu, Pak Karman berubah. Dan di hari tuanya ia sepenuhnya membaktikan umurnya untuk kebaikan. Bukankah itu bagian dari dakwah yang agung pahalanya?" Ia belum bisa mengambil keputusan. Kata-kata Wati selalu terngiang-ngiang di telinganya. Ia nyaris
memutuskan untuk menerima saja lamaran Pak Karman.
Namun jika ia teringat apa yang dilakukan Pak Karman pada beberapa mahasiswi yang dikencaninya diam-diam, ia tak mungkin memaafkan. Jika sudah demikian tibatiba wajah keriput kedua orangtuanya muncul dengan sebuah pertanyaan, "Kowe mikir opo Nduk?
Kowe ngenteni opo? Dadine kapan kowe kawin, Nduk?"1
***
Lima menit sebelum rombongan Pak Karman datang, Zahrana berbicara kepada kedua orangtuanya. Ia minta kepada mereka pengertiannya jika ia nanti mengambil keputusan yang mungkin tidak melegakan mereka berdua. Diberitahu seperti itu kedua orangtuanya menangkap apa yang akan terjadi. Dan mereka kembali pasrah dalam kekecewaan. Namun mereka tetap berharap akan terjadi hal yang membahagiakan.
Mereka berdoa, kali ini semoga keputusan putri semata wayang mereka lain dari sebelum-sebelumnya. Semoga
hatinya terbuka. Segera menikah. Dan segera lahir cucu yang jadi penerus keturunan.
Kamu mikir apa, Anakku? Kamu menunggu apa? Kapan kamu menikah, Anakku?
la meneguhkan jiwa, menata hati. la juga memprediksi gaya bahasa yang akan disampaikan pihak Pak Karman.
Dan menyiapkan bahasa yang tepat untuk menjawab. Ia juga tidak lupa menyiapkan hidangan yang pantas untuk menghormati tamu. Ruang tamu telah ia rapikan. Bungabunga ia tata, dan sarung bantal ia ganti dengan yang baru. Tuan rumah harus bisa menjaga kehormatan. Dan ia kembali meneguhkan prinsipnya dalam menghadapi
siapapun: harus tenang, bicara yang tepat, rendah hati dan santun. Itulah senjata para pemenang. Dan ia harus menang. Ia teringat perkataan Napoleon Hill, "Kebijakan yang sesungguhnya, biasanya tampak melalui kerendahan hati dan tidak banyak cakap."
Ia kini tampak tegar. Tak ada lagi airmata. Mental yang ia siapkan adalah mental seorang dosen pembimbing yang siap maju sidang membela mahasiswanya mempertahankan skripsinya. Ia sangat yakin akan kekuatannya. Ia berdandan secukupnya. Ia pakai jilbab hijau muda kesayangannya. Sangat serasi dengan gamis bordir hijau tua bermotif bunga melati putih kecil-kecil. Hanya dirinya dan kedua orangtuanya yang akan menyambut. Ia merasa tak perlu mengundang para kerabat. Sebab seperti yang telah lalu, jika terjadi hal yang tidak memuaskan hanya akan jadi gunjingan panjang tak berkesudahan. Ia tak ingin itu terjadi lagi.
Ia ingin para kerabat diundang hanya untuk yang sudah jadi. Yang tak ada ruang bagi mereka berbincang kecuali kebaikan. Kali ini yang ia undang justru dua orang ibu-ibu yang biasa membantu keluarganya selama ini.
Rombongan Pak Karman datang tepat jam setengah lima sore. Tidak main-main. Empat mobil. la harus mengakui kehebatan Bu Merlin mengorganisir ini semua. Juga keberhasilan Bu Merlin memprovokasi Pak Karman untuk nekat seperti ini. Ayah ibunya tampak kaget. Tidak menduga yang datang akan sebanyak ini dan seserius ini. Untung ruang tamu rumah orangtuanya cukup luas.
Hanya tiga orang yang tidak dapat tempat duduk. Terpaksa duduk di beranda. la yakin tujuan Bu Merlin baik, hanya saja Bu Merlin tidak tahu visi hidupnya saat ini. Bukan sekadar materi dan kedudukan yang ia harapkan dari calon suaminya. la mencari calon suami yang bisa dijadikan imam. Imam yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam ibadahnya kala mengarungi kehidupan. Karena itulah posisinya benar-benar sulit
kali ini. Bu Merlinlah yang selama ini banyak membantunya di kampus. Dia jugalah yang dulu memberi bocoran adanya lowongan dosen di kampusnya. Rombongan telah duduk tenang. Pak Karman menyukur bersih kumis dan cambangnya. Ia tampak lebih muda
dari biasanya. Koko biru muda dan peci hitam membuatnya tampak alim. Seorang lelaki setengah baya, mengaku sebagai adiknya Pak Karman, namanya Pak Darmanto mengawali pembicaraan. Unggah-ungguh
dan basa-basi berjalan. Ia sendiri lebih banyak diam. Tak bicara jika tidak perlu bicara. Ibunya yang biasanya memang cerewet yang banyak mengimbangi bicara. Sesekali ada lelucon-lelucon yang menghangatkan suasana. Makanan dan minuman dikeluarkan oleh dua orang ibu-ibu yang rapi berkerudung. "Tape ketan ini dibuat oleh anakku, si Zahrana ini dengan penuh cinta. Siapa yang memakannya insya Allah awet muda." Ibunya melucu sambil mempersilakan tamu-tamunya menikmati hidangan seadanya.
Mendengar hal itu spontan Pak Karman berkomentar dengan gaya lucu, "Sebelum yang lain mengambil saya dulu yang harus mencicipi. Agar awet muda dan bisa menyunting
bidadari." Spontan perkataan itu disambut tertawa semua yang hadir, kecuali dirinya. Entah kenapa perkataan itu menurutnya tidak lucu. Perkataan itu seperti sampah yang hendak dijejalkan ke telinganya. Bagaimana mungkin ia hidup bersama orang yang suaranya saja tidak mau ia dengar. Lima belas menit basa-basi akhirnya Pak Darmanto,
juru bicara Pak Karman, masuk pada inti kedatangan, "...dan maksud kedatangan kami adalah untuk menyambung persaudaraan dan kekeluargaan dengan keluarga Bapak Munajat. Kami bermaksud menyunting putri Bapak Munajat, yaitu Dewi Zahrana untuk
saudara kami Bapak H. Sukarman, M.Sc. Alangkah bahagianya jika maksud dan tujuan kami dikabulkan."
Ayahnya menjawab dengan suara rentanya yang terbata-bata, "Pertama....tama, ka...kami sekeluarga menyampaikan rasa terima kasih atas silaturrahminya. Kami juga
bahagia. Bagi ka..kami lamaran ini adalah suatu bentuk penghormatan. Dan jika bisa kami akan membalasnya dengan penghormatan yang le..lebih baik. Namun
masalah jodoh hanya Allahlah yang mengatur. Putri kami sudah sangat dewasa. Dia lebih berpendidikan daripada kami berdua. Dia bisa memutuskan sendiri mana yang baik baginya. Itu yang bisa kami sampaikan."
Masalah sudah jelas. Semua tamu melihat ke arahnya. la tahu bola sekarang ada di tangannya. Dialah sekarang yang paling berkuasa di majelis itu. la berusaha untuk
tenang. Setenang ketika ia membantu argumen mahasiswa yang dibelanya dalam sidang skripsi,
"Saya pernah mendengar Baginda Nabi Muhammad Saw., pernah bersabda, 'Al 'ajalatu minasy syaithan. Tergesa-gesa itu datangnya dari setanl' Saya tidak mau tergesa-gesa. Saya tidak mau mengecewakan siapapun. Termasuk diri saya sendiri. Maka perkenankan saya untuk menjawabnya tiga hari ke depan. Saya akan langsung sampaikan kepada Pak Karman yang saya hormati. Maafkan jika saya tidak bisa menjawab sekarang."
Ada sedikit gurat kekecewaan di wajah Pak Darmanto dan Pak Karman. Namun keduanya tidak bisa bersikap apapun kecuali setuju. Bu Merlin tersenyum tanda
setuju. Yang lain bisa memahami dan memaklumi.
Hanya Pak Munajat, ayahnya yang meneteskan airmata mendengar jawaban putrinya itu. Ia sudah tahu ke mana arah perkataan putrinya itu. Menjelang Maghrib rombongan itu pamit. Zahrana langsung ke kamarnya mengatur kata yang tepat untuk disampaikan pada Pak Karman. Ia tersenyum, dengan senyum yang susah diartikan.
* * *
"Kamu masih nunggu yang bagaimana lagi, Nduk? Pak Karman memang agak tua, tapi ia berpendidikan dan kaya. Dia juga bisa tampak muda." Kata ibunya yang sudah tahu keputusannya.
"Saya tidak menunggu yang bagaimana-bagaimana Bu. Saya menunggu lelaki saleh yang pas di hati saya. Itu saja." Jawab Zahrana.
"Lha Pak Karman itu apa masih kurang saleh. Dia sudah haji. Sudah menyempurnakan rukun Islam. Kita saja belum." Bantah ibunya.
Ia merasa, memang agak susah memahamkan ibunya bahwa kesalehan tidak dilihat dari sudah haji atau belum. Tidak dilihat dari pakai baju koko atau tidak. Tidak bisa dilihat dari pakai peci putih atau peci yang lainnya. Betapa banyak penjahat di negeri ini yang bertitel haji. Setiap tahun haji justru untuk menutupi kejahatannya. Atau malah berhaji untuk melakukan kejahatan di musim haji. Ibunya tidak akan nyambung dia ajak dialog masalah itu.
"Pokoknya menurutku Pak Karman masih kurang. Saya sangat tahu siapa dia, soalnya saya satu kampus dengannya. Nanti kalau ada yang cocok pasti saya menikah Bu."
Begitu mendengar dari jawabannya ada perkataan "pokoknya", sang ibu langsung diam dengan raut muka sedih. Dalam hati ia istighfar jika telah melukai ibunya. Tapi ia tidak mau asal menikah. Menikah adalah ibadah, tidak boleh asal-asalan. Harus dikuati benar syarat rukunnya. Meskipun ia tahu ia sudah jadi perawan tua yang sangat terlambat menikah, namun ia tidak mau gegabah dalam memilih ayah untuk anak-anaknya kelak.
Zahrana masuk kamar dan menulis surat jawaban untuk Pak Karman dengan
komputernya. Bahasanya tegas dan lugas:
Kepada
Yth. Bpk. H. Sukarman, M.S.c
Di Semarang
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Semoga Bapak senantiasa sehat dan berada dalam naungan hidayah-Nya. To the point saja, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak, saya ingin menyampaikan bahwa saya belum bisa menerima pinangan Bapak. Semoga Bapak mendapatkan yang lebih baik dari saya. Mohon maklum dan mohon maaf jika tidak berkenan.
Wassalam,
Dewi Zahrana
la lalu menge-print surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop putih. Ia akan minta bantuan seorang
mahasiswanya untuk menyampaikan hal itu kepada Pak Karman besok pagi. Dan ia sudah berketetapan akan mengambil cuti satu minggu. Sebab jawaban itu pasti tidak diinginkan oleh Pak Karman. Bahkan pasti sangat mengecewakan Pak Karman. Untuk menjaga hal yang tidak baik, lebih baik ia tidak masuk kampus. Dan kembali masuk jika suasana kembali seperti sediakala.
Apa yang ia rencanakan berjalan. Dan apa yang ia prediksi terjadi. Dua hari kemudian ia mendapatkan SMS dari Pak Karman:
"Suratmu sudah aku terima. Kamu pasti tahu bahwa jawabanmu sangat mengecewakan aku!"
Ia membaca jawaban itu dengan hati tidak enak. Entah kenapa ia merasakan ada aroma jahat dalam setiap huruf-hurufnya dan susunan kalimatnya. Lalu ia mendapat SMS dari Bu Merlin:
"Hari ini saya dicacimaki Pak Karman gara-gara jawabanmu. Saya sungguh kecewa dengan kamu!" Airmatanya meleleh.
"Maafkan aku Bu Merlin," lirihnya dengan hati perih. Ia merasakan dunia ini begitu sempit. Dinding-dinding kamarnya seakan hendak menggenjetnya. Atap kamarnya seakan mau rubuh menimpanya. Ia hanya bisa pasrah kepada-Nya dan memohon kekuatan untuk tetap kuat dan tegar di jalan-Nya.
* * *
Dua
Firasatnya benar. Lima hari setelah ia mengirim jawaban itu, Bu Merlin datang ke rumahnya. Saat itu ia masih mengambil cuti. Bu Merlin datang dengan mimik serius. Mimik yang ditakuti oleh para bawahannya, apalagi para mahasiswa. Pembantu Dekan I di kampusnya itu berkata, "Zahrana, kamu memang bebas menentukan pilihanmu. Namun terus terang saya tidak mengerti apa maumu. Saya tak perlu berdusta padamu,
saya sangat kecewa padamu. Padahal saya telah berusaha melakukan yang terbaik, untukmu dan juga untuk Pak Karman. Namun agaknya ini semua berantakan karena keangkuhanmu."
"Bu tolong ibu juga mengerti saya. Saya telah berusaha menata hati dan jiwa untuk menerima Pak Karman. Saya tidak mau karena saya sudah terlambat menikah, lantas
saya menikah untuk seolah-olah bahagia. Saya tidak mau batin saya justru menderita. Karena saya benarbenar tidak bisa menerima Pak Karman. Saya tidak mau, setelah menikah sosok Pak Karman justru jadi monster yang menghantui saya setiap saat. Saya sama sekali tidak bisa mencintainya Bu. Meskipun sebutir zarrah. Ibu kan juga seorang perempuan. Saya mohon ibu bisa memaklumi." Zahrana menjawab panjang lebar
dengan mengajak bicara dari hati ke hati. "Kalau masalahnya sudah cinta. Tak ada orang di muka bumi ini yang bisa memaksa. Meskipun saya kecewa saya tetap menginginkan yang terbaik untukmu. Sejak mengenalmu aku tahu kau orang baik. Begini Zahrana, saya lihat gelagat Pak Karman berniat memecatmu dengan satu tuduhan serius yang akan sangat mempermalukanmu. Ia mengisyaratkan hal itu kemarin setelah membaca suratmu. Sekadar saran dariku lebih baik kau mundur dengan terhormat daripada dipecat!
Jika marah Pak Karman bisa lupa bumi di mana ia berpijak."
"Apa Bu? Mundur?" Jawab Zahrana dengan nada kaget. "Iya Zahrana. Sebaiknya kau mengundurkan diri saja. Itu saranku sebagai orang yang sangat paham peta politik di kampus."
"Tidak Bu. Jika terjadi ketidakadilan, akan saya lawan sampai titik darah penghabisan!"
"Zahrana, kamu ternyata tidak tahu benar peta politik kampus. Tidak tahu benar siapa Pak Karman. Jika kau nekat itu ibarat ulo marani gitik. Ibarat ular mendekat untuk dipukul sampai mati. Mundurlah dulu. Bertiaraplah sementara waktu. Ini yang kulihat baik untukmu. Saya berjanji suatu saat nanti jika saya ada kemampuan, kamu akan saya tarik lagi ke kampus. Kali ini percayalah padaku. Saya tidak rela orang sebaik
kamu jadi bulan-bulanan kesewenang-wenangan yang sudah saya cium dari sekarang."
Zahrana akhirnya paham dengan apa yang disampaikan Bu Merlin. Dari nada dan tuturkata yang disampaikan ia melihat ada kesungguhan dan ketulusan. Namun ia belum bisa mengambil sikap dengan cepat. Sekali lagi ia harus tenang dan tidak gegabah, "Baiklah Bu. Saya mengerti. Akan saya pikirkan matang-matang saran Ibu. Saya sangat berterima kasih."
"Saya harap begitu. Kalau begitu saya pamit dulu. Masih ada urusan yang harus saya kerjakan." Kata Bu Merlin.
* * *
Zahrana sadar Bu Merlin masih tetap menyimpan rasa sayang padanya, meskipun ia telah mengecewakannya. Bu Merlin juga tetap setia pada prinsip hidupnya:
Memaksimalkan manfaat meminimalisir konflik. Jika masih ada jalan menghindari konflik, maka jalan itulah yang harus ditempuh. Setelah Bu Merlin pergi Zahrana langsung mengendarai sepeda motornya ke rumah Lina, temannya paling akrab
sejak di SMP sampai Perguruan Tinggi. la perlu orang yang bisa diajak bicara memutuskan masalahnya.
"Apa sejahat itu Pak Karman?" tanya Lina pada Zahrana.
"Aku tak ingin membicarakan kejahatannya. Yang jelas apa yang sebaiknya kulakukan setelah mendengar saran Bu Merlin."
"Yang paling penting menurutku adalah, apa kaupercaya dengan apa yang disampaikan Bu Merlin?" Zahrana menjawab dengan memandang lekat-lekat teman karibnya itu,
"Sampai saat ini saya belum pernah dibohongi Bu Merlin. Saya percaya padanya."
"Kalau begitu masalahnya jelas. Pak Karman itu sedang sangat tersinggung dan marah besar karena kamu tolak. Dia merasa tidak nyaman berada satu atap denganmu di kampus. Dan Bu Merlin melihat dia akan membuat perhitungan denganmu."
"Jadi?"
"Kalau aku jadi kau, aku memilih mengundurkan diri dengan baik-baik, daripada dipecat dengan membawa nama tercemar. Pak Karman tentu lebih kuat posisinya daripada kamu. Ingat dia orang nomor satu di Fakultas tempat kamu mengajar."
"Aku tahu. Tetapi jika aku keluar, lantas nanti apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibu?"
"Kau kayak anak kecil aja. Cari pekerjaan baru. Dengan begitu kau bisa berdalih degan seribu alasan yang menyejukkan mereka. Bisa kaukatakan tidak kerasan lagi di kampus. Cari pengalaman baru dan lain sebagainya." Akhirnya ia mantap untuk mengundurkan
diri.
"Kau benar Lin. Besok aku akan mengundurkan diri."
"Nanti kubantu cari pekerjaan yang cocok untukmu."
"Kau memang sahabatku yang baik Lin."
***
Pagi itu Zahrana datang ke kampus dengan membawa dua pucuk surat pengunduran dirinya. Satu untuk rektor dan satu untuk dekan. Pak Karman sedang rapat dengan rektor. Itu kesempatan baginya untuk mengemasi barang-barangnya. Teman-temannya sesama dosen banyak yang kaget.
"Kami tahu dari Ibu Merlin bahwa kamu menolak lamaran Pak Karman. Apa karena itu terus kamu juga harus mundur dari kampus?" tanya Pak Didik, dosen mata kuliah struktur beton yang meja kerjanya paling dekat dengannya.
"Saya hanya ingin cari suasana baru dan pengalaman baru. Mungkin saya akan mencoba kerja di sebuah perusahaan." Jawab Zahrana sekenanya sambil merapikan berkas-berkasnya.
"Apa ini benar-benar sudah keputusan final?"
"Ya. Final."
"Kami tak berhak menahanmu. Meskipun kami sangat kehilangan kamu jika kamu keluar. Tidak banyak pengajar yang seahli kamu. Jika nanti kamu ingin kembali ke kampus ini jangan segan-segan. Kami para dosen akan men-support-mu."
"Terima kasih Pak Didik. Maafkan saya jika selama ini banyak berbuat salah."
"Sama-sama."
Setelah barang-barangnya rapi. la meletakkan surat pengunduran dirinya di meja kerja Pak Karman. Lalu mencari mahasiswi yang bisa membantunya mengangkat barang. Di koridor ia bertemu dengan mahasiswi berjilbab hitam.
"Nina!"
"Ya Bu Rana."
"Bisa bantu saya sebentar?"
"Bisa Bu."
"Kalau begitu cari tiga teman, dan segera ke ruang kerja saya. Saya minta bantuannya sedikit."
"Baik Bu." Ia lalu balik ke ruang kerjanya.
"Pak Didik?"
"Ya Bu Rana."
"Saya minta tolong, surat pengunduran ini disampaikan ke Pak Rektor begitu saya pergi. Data-data saya di komputer ini nanti diselamatkan ya Pak. Trus sayaminta tolong dicarikan taksi."
"O bisa Bu."
Lima menit kemudian tiga orang mahasiswi berjilbab, dan dua orang mahasiswa datang. Kepada mereka Zahrana menjelaskan bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari kampus itu.
"Kenapa Bu?" tanya Nina, mahasiswinya yang aktif di Lembaga Pers Kampus.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin cari suasana baru saja."
"Tidak karena tekanan seseorang kan Bu?" tanya mahasiswa berbaju biru tua kotak-kotak.
"Tidak. Ini murni keinginan Ibu. Mana ada yang berani menekan Ibu tho San." Jawab Zahrana pada mahasiswa bernama Hasan.
"Kalau ibu mundur, skripsi saya bagaimana Bu?" tanya mahasiswa itu lagi.
"O tenang San. Nanti kamu menghubungi Bu Merlin dan Pak Didik ya. Mereka akan membantumu, insya Allah."
"Saya masih boleh konsultasi pada ibu tho. Meskipun ibu tidak di kampus ini lagi?"
"Boleh San. Kalian semua ibu persilakan dolan ke rumah ibu kapan saja." Kata Zahrana sambil memandang wajah mahasiswanya satu per satu. Zahrana lalu meminta mereka mengangkat barangbarangnya ke luar gedung. Tak lama taksi datang. Zahrana pun meninggalkan kampus itu dengan membawa seluruh barangbarangnya. Begitu selesai rapat, Pak Karman kembali ke ruang kerjanya. Keputusannya sudah mantap yaitu memecat Zahrana dengan beberapa tuduhan serius, di antaranya: tidak disiplin. "Perawan tua itu harus diberi pelajaran!" Geramnya dalam hati. Ketika ia duduk di kursinya ia menangkap sepucuk surat tergeletak di atas meja kerjanya. Ia baca surat itu. Kemarahannya seketika meluap,
"Kurang ajar!" Ia seperti petinju yang nyaris meng-KO lawan, tibatiba malah dipukul KO. Ia sama sekali tidak memperhitungkan Zahrana akan membuat keputusan nekat itu.
Namun ia tetap akan membuat perhitungan dengan satusatunya dosen Fakultas Teknik yang masih gadis itu.
* * *
Tak perlu waktu lama bagi Zahrana untuk mendapatkan pekerjaan baru. Dari seorang teman ia mendapatkan informasi bahwa STM Al Fatah Mranggen, Demak, sedang membutuhkan seorang guru baru yang profesional untuk mendongkrak prestasi. STM Al Fatah berada di payung Yayasan Pesantran Al Fatah. Pesantren besar yang terkenal di Mranggen. Ia mengajukan lamaran dan hari itu juga ia diterima. Kepala sekolahnya yang masih keturunan pendiri Pesantren Al Fatah sangat senang. Pengalaman mengajar Zahrana ketika mengajar di FT universitas swasta terkemuka di Semarang adalah jaminan kualitas. Sejak hari itu Zahrana mengajar siswa-siswa yang sebagian besar adalah santri. Ia berusaha mendalami kultur dan budaya santri. Sebab sejak kecil ia belum pernah menjadi santri sama sekali. Ia merasakan nuansa yang berbeda antara mengajar santri dan mengajar mahasiswa. Ada tantangan tersendiri mengajar santri yang masih banyak menganggap ilmu eksak tidak penting, yang menganggap "ilmu umum" lainnya juga tidak penting.
Dianggap tidak penting, karena para santri berpikiran bahwa ilmu eksak dan "ilmu umum", kelak tidak akan ditanyakan di akhirat. Bagi mereka, yang terpenting adalah "ilmu agama", karena ilmu itulah yang akan dibawa hingga akhirat nanti. Pikiran yang perlu diluruskan.
Dan Zahrana tertantang untuk meluruskannya. La merasa mengajar di lingkungan pesantren lebih menenteramkan. Entah kenapa? Apa karena dekat dengan banyak ulama? Atau karena memang di pesantren tempat ia mengajar tidak ada manusia
seperti Pak Karman yang dalam pandangannya sangatsangat durjana. Hari-harinya ia lalui dengan lebih tenang dan tenteram. Ilmu S.2-nya ia rasa tidak benarbenar hilang tanpa guna. Sebab ia juga diterima sebagai konsultan sebuah perusahaan properti. Ia juga masih sering didatangi mahasiswanya. Yang masih sering datang adalah mahasiswanya yang bernama Hasan. Tugas Akhir Hasan memang di bawah bimbingannya. Namun setelah ia keluar, tugas pembimbingan diambil alih oleh Bu
Merlin. Hasan dan teman-temannya masih suka datang untuk konsultasi dan meminjam referensi. Ia merasa senang dengan kedatangan mereka. Ia merasa mereka seperti adiknya sendiri.
Suatu siang ayahnya bertanya, mengapa ia meninggalkan kampus dan memilih mengajar di STM Al Fatah yang gajinya jauh lebih kecil. Ia menjawab, "Ingin mencari ketenangan dengan dekat kiai dan para santri." Ayahnya hanya mendesah tanda
tidak setuju.
Namun ia kemudian berusaha menghibur, "Yang kedua Yah, Zahrana berharap mengajar di lingkungan pesantren jadi jalan bagi Zahrana menemukan jodoh Zahrana. Bertahun-tahun di kampus jodoh yang Zahrana harap tidak juga datang."
Wajah ayahnya itu sedikit cerah, "Semoga harapanmu terkabul. Kalau perlu kamu harus berani minta tolong pada Pak Kiai. Siapa tahu beliau bisa membantu menemukan jodohmu."
"Iya Yah. Mohon doanya terus."
"Tanpa kamu minta pun kami terus mendoakanmu siang dan malam, Anakku."
"Terima kasih Ayah."
***
Malam itu setelah memeriksa tugas-tugas anak didiknya Zahrana membuka komputer. Ia hendak berselancar di dunia maya internet. Ia ingin melihat apakah ada email yang masuk. Apakah ada berita yang menarik. Dan ia mau membuat blog. Siapa tahu dengan
membuat blog ia bisa menemukan jodohnya. Baru saja menyalakan komputer hp-nya berdering beberapa kali. Ada tiga SMS yang masuk. Ia membukanya:
"Sedang apa perawan tua?"
"Ternyata jadi perawan tua itu indah."
"Jangan-jangan jilbabmu itu kedok untuk menutupi daging tuamu yang sudah busuk di kerubung lalat!"
Zahrana tersentak dan geram. Sebuah teror. Teror paling primitif, dengan kata-kata yang merendahkan dan menyakitkan. la periksa nomornya. Nomor yang tidak ia kenal. la nyaris membalas SMS itu dengan kata-kata yang sama pedasnya. Tapi ia urungkan. Ia sudah bisa menduga kira-kira dan mana SMS itu berasal. Akhirnya ia memilih diam. Diam tanpa pernah menganggap SMS itu ada. Ia merasa diam adalah senjata paling ampuh.
Menanggapi omongan orang gila berarti ikut jadi gila. Menanggapi sikap orang dungu berarti ikut jadi dungu. Internetnya sudah konek. Lima email dari temantemannya sesama dosen. Semuanya menyayangkan keputusannya meninggalkan kampus. Dan
semuanya mendoakan semoga sukses dengan pilihannya. Hp-nya kembali berdering. Dua kali. Ia buka, "Apa kabar Perawan Tua?"
"Kelapa itu semakin tua semakin banyak santannya. Banggalah jadi perawan tua!"
Ia meneteskan airmata. Tubuhnya bergetar. Hatinya sakit. Tapi ia harus menang. Diam adalah senjata pamungkasnya untuk menang. Ia tidak akan meladeni kata-kata yang tidak mencerminkan datang dari orang terdidik itu. Akhirnya, ia matikan hp-nya. Ia memilih asyik berselancar di dunia maya. Ia buka alamat emailnya yang lain. Ada dua email. Yang satu dari sebuah komunitas milis, memanggilnya untuk ikut milis. Dan satunya dari Pak Didik. Ia jadi bertanya ada apa dengan Pak Didik. Baru kali ini Pak Didik mengirim email kepadanya.
la buka email itu: Subjeknya: SEBUAH TAWARAN, JIKA BERKENAN. Baru dikirim beberapa jam yang lalu. la lalu membacanya dengan sedikit rasa penasaran. Tawaran apa yang dimaksud Pak Didik, yang celananya selalu di atas mata kaki itu?
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Semoga Ibu Zahrana sukses dan berbahagia selalu. Amin. Sebelumnya mohon maaf jika email saya ini mengganggu. Sebenarnya sudah lama saya ingin mengirim email ini tapi terhambat karena beberapa sebab. Hari ini saya merasa hari yang tepat saya mengirim email ini untuk memberikan sebuah tawaran kepada Ibu Zahrana. Maaf terpaksa saya sampaikan lewat email, sebab jika saya sampaikan langsung secara lisan
takut terjadi salah paham. Karena bahasa tulisan bisa diedit sementara bahasa lisan tidak.
Bu Zahrana, setelah mengetahui lebih detil tentang Ibu. Juga apa yang Ibu cari selama ini saya memberanikan diri mengajukan diri. Mengajukan diri untuk menjadi suami ibu. Maaf, to the point saja Bu. Saya menawarkan kepada ibu, sekali lagi maaf jika dianggap lancang, untuk menjadi isteri kedua saya. Saya yakin isteri saya bisa menerimanya nanti.
Saya akan berusaha adil sebagai suami. Terus terang sebenarnya yang saya harapkan adalah seorang isteri yang educated dan cerdas seperti Bu Zahrana. Bukan yang bisanya cuma arisan seperti isteri saya saat ini. Tapi karena sudah punya dua anak, tidak mungkin saya meninggalkan dia.
Saya yakin dengan kita membina rumah tangga bersama, kita bisa bersinergi. Kita bisa saling memberi dan memaksimalkan potensi. Ini harapan saya. Semoga ibu berkenan dengan harapan ini.
Saya kira cukup sekian dulu surat ini. Jika ada salah kata motion maaf. Tawaran saya ini mohon tidak diartikan sebagai pelecehan. Sama sekali saya tidak bermaksud seperti itu. Saya bermaksud kita saling memberi manfaat. Itu saja. Akhirul kalam,
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Hormat saya,
Didik Hamdani, M.T.
Zahrana membaca email itu dengan tubuh bergetar, mata berkaca-kaca. la tidak tahu apa yang ia rasakan. Yang jelas bukan bahagia. Ia merasa betapa tidak mudah menjadi gadis yang terlambat menikah. Dan betapa susah menjadi wanita. Jika Pak Didik itu tidak memiliki isteri, katakanlah duda sekalipun, tawaran itu mungkin akan sedikit menjadi jendela harapan di hatinya. Tapi ia harus dijadikan yang kedua. Ia tidak tega. Ia tidak tega pada perasaan yang akan dialami isteri Pak Didik. Dan ia juga tidak tega pada perasaan kedua orangtuanya. Mereka semua tidak siap untuk itu. Bahkan jika mau jujur, ia sendiri "belum siap", atau lebih tegasnya "tidak siap" menjadi isteri kedua. Sakit rasanya. Bagaimanapun ia adalah wanita biasa. Ia adalah perempuan Jawa pada
umumnya, yang benar-benar "tidak siap", atau lebih tepatnya "tidak mau" dijadikan istri kedua. Atau "tidak mau" dimadu.
la membayangkan, alangkah tersiksanya, misalnya, bila ia menerima tawaran Pak Didik itu, ternyata isterinya tidak setuju. Isterinya itu lantas melabraknya dan mengatakan kepadanya, "Hai perawan tua tengik, memang di dunia ini sudah tidak ada lelaki sehingga kamu tega merampas suami orang! Dasar perawan tua! Suka merusak pager ayu orang saja!"
Ia tidak tahu akan menjawab apa.
Maka begitu ia selesai membaca email itu, yang ia lakukan adalah men-delete-nya tanpa me-reply sama sekali. Ia menganggap email itu tak pernah ada. Matanya masih berkaca-kaca.
* * *
Tiga
Bumi terus berputar pada porosnya. Detik berkumpul menjadi menit. Menit berkumpul menjadi jam. Jam berkumpul menjadi hari. Minggu berkumpul menjadi bulan. Ternyata sudah enam bulan Zahrana mengajar di STM. Namun masalah utamanya belum juga selesai. la belum juga mendapatkan jodohnya. Setelah mendapat tawaran dari Pak Didik, sudah ada dua orang yang maju.
Tapi entah kenapa ia tidak sreg. Hatinya belum cocok. Yang pertama dibawa oleh teman ayahnya. Seorang satpam di sebuah Bank BUMN. Ia tidak lagi melihat status. Satpam atau apapun tak jadi masalah. la tidak sreg karena satpam itu tidak bisa membaca Al-Quran sama sekali. Sekali lagi, tidak bisa membaca Al-Quran sama sekali. Shalat juga dengan jujur diakuinya tidak pernah lengkap. la hanya membayangkan akan jadi apa anak-anaknya kelak jika ayahnya sama sekali tidak mengenal Al-Quran. Dalam bahasa dia, buta Al-Quran. Dan alangkah beratnya mengajari ngaji suaminya dari
nol. Juga mendisiplinkan shalatnya dari nol. Akhirnya tanpa berpikir panjang ia lebih memilih menunggu yang lain.
Orang yang kedua, yang maju melamarnya dibawa oleh temannya sendiri, Wati. Seorang pemilik bengkel sepeda motor. Duda beranak tiga. Status duda dengan
berapa anak juga sebenarnya tidak masalah baginya. Ia tidak mungkin cocok dengan duda itu, karena ia telah kawin cerai sebanyak tiga kali dalam waktu tiga tahun.
Tiga anak itu adalah hasil kawin cerainya dengan tiga perempuan berbeda. Ia tidak mau jadi korban yang keempat. Meskipun Wati mengatakan bahwa lelaki itu telah insyaf. Ia ingin menikahi Zahrana sebagai isteri yang terakhir. Karena ia tidak juga bisa menenangkan batinya. Akhirnya ia tolak juga pemilik bengkel itu. Datangnya lamaran silih berganti yang semuanya ditolak oleh Zahrana itu membuat ibunya sempat marah.
"Kamu itu masih tinggi hati Rana! Perempuan tinggi hati tak akan mendapatkan jodohnya!"
Ia menangis dimarahi ibunya begitu. Ia merasa penolakannya itu ada landasan logika dan syariatnya yang kuat. Ia menangis di pangkuan ibunya, dan minta maaf jika belum bisa menjadi anak yang membahagiakan orangtua. Ibunya, akhirnya luluh dalam
tangis. Ayahnya yang melihat hal itu juga menangis. Sang ayah berkata sambil terisak, "Saat pindah ke STM Al Fatah kamu bilang siapa tahu jodohmu di pesantren. Coba datanglah ke Pak Kiai. Coba kamu minta pada Pak Kiai untuk membantu mencarikan.
Mungkin kamu akan ditemukan dengan santrinya!"
"Baiklah ayah, tak kurang ikhtiar saya. Untuk menemukan yang saya idamkan baiklah saya akan sowan ke tempat Bu Nyai dan Pak Kiai secepatnya." Jawab Zahrana sambil mengusap airmatanya.
Esoknya ia nekat mengajak Lina, menghadap Bu Nyai dan Pak Kiai. Ia mengajak Lina sahabatnya itu, karena Lina dulu pernah nyatri di Pesantren ARIS Kaliwungu selama satu bulan saja, yaitu selama bulan Ramadhan.
Lina tentu lebih tahu berdiplomasi dengan Bu Nyai daripada dirinya yang sama sekali tidak pernah nyantri. Kedatangannya diterima Bu Nyai dengan wajah menyejukkan. Bu Nyai Sa'adah Al Hafidhah adalah isteri K.H. Amir Arselan, pengasuh utama Pesantren Al
Fatah. Bu Nyai ini umurnya lima puluhan tahun. Dulu menghafal Al-Quran di Kudus. Dan di tangannya kini telah lahir ratusan santriwati yang hafal Al-Quran. Saat itu kebetulan Pak Kiai sedang pergi ke Rembang. Hanya Bu Nyai yang menemui.
'Apa yang bisa Ummi bantu, Anakku? Oh ya siapa namamu, Anakku?" tanya Bu Nyai.
"Nama saya Rana, Ummi. Lengkapnya Dewi Zahrana. Kedatangan saya ke sini pertama untuk silaturrahmi.
Kedua untuk mohon tambahan doa dari Ummi.
Kebetulan saya ikut mengajar di STM Al Fatah. Baru enam bulan ini Ummi." Terang Zahrana dengan kepala menunduk.
"O begitu. Ya. Jadi kau guru baru di STM Al Fatah?"
"Iya, Ummi."
"Dulu nyantri di mana?"
Belum sempat Zahrana menjawab, Lina memotong,
"Zahrana ini belum pernah nyantri, Ummi. Tapi dia hariannya seperti santri. Zahrana ini dari SMA. Terus kuliah S.l di UGM dan S.2 di ITB Bandung, Ummi."
"Kalau begitu kamu hebat ya Zahrana. Bisa S.2 di ITB.
Jurusan apa?"
"Teknik Sipil, Ummi."
Bu Nyai hanya manggut-manggut. Lina tahu bahwa Zahrana tidak berani mengungkapkan maksud sebenarnya. Maka dengan tanpa diminta ia lalu menjelaskan dengan sehalus mungkin maksud utama kedatangan Zahrana ke pesantren. Bu Nyai menjawab, "Saya yakin tidak mudah mencari yang selevel denganmu, Anakku. Jujur saja kalau misalnya ada yang selesai S.2 umurnya sama denganmu dia akan memilih yang lebih muda darimu. Lelaki itu umumnya punya ego, tidak mau isterinya lebih pinter dan lebih tua darinya. Tapi ya tidak semua lelaki lho. Sekali lagi tidak mudah mencarikan jodoh yang pendidikannya harus tinggi seperti kamu juga saleh. Kalau boleh tahu,
kalau strata pendidikannya tidak setinggi kamu bagaimana?"
Zahrana mengerti maksud Bu Nyai. Segera ia menjawab, "Saat ini status, strata, kedudukan sosial, pendidikan dan lain sebagainya tidak jadi pertimbangan
saya Bu Nyai. Saya hanya ingin suami yang baik agamanya. Baik imannya dan bisa jadi teladan untuk anak-anak kelak. Itu saja."
"Oo, baiklah kalau begitu. Besok kautelpon aku ya. Nanti malam aku akan rembugan dengan Pak Kiai.
“Semoga ada pandangan."
"Baik Bu Nyai."
Keduanya lalu pamitan setelah dipaksa Bu Nyai menghabiskan minuman yang ada di gelas.
"Harus dihabiskan. Kalau tidak habis itu namanya mubazir. Dan orang yang suka mubazir itu teman akrabnya setan." Kata Bu Nyai serius.
Rana dan Lina hanya bisa manut saja. Mereka pulang dengan hati diliputi rasa gembira. Bu Nyai Dah, atau Ummi Dah, begitu para santri memanggilnya, ternyata sangat halus tuturbahasanya, begitu perhatian dan begitu menyenangkan. Wajar jika banyak santri yang mencintainya. Pak Kiai pasti bahagia punya isteri sebaik dia.
* * *
Zahrana baru saja masuk kelas, ketika kepala sekolah memanggilnya. Ia bertanya-tanya dalam hati, "Ada apa sepagi ini kepala sekolah memanggilnya." Ia bergegas ke ruang kepala sekolah dengan kepala berisi tanda tanya.
"Bu Rana, saya baru saja ditelpon sama Bu Nyai Dah. Beliau minta kau menghadap beliau sekarang juga."
Begitu kata kepala sekolah begitu ia sampai di ruang kerja beliau. Zahrana langsung tahu kenapa Bu Nyai memanggilnya. Ia langsung bergegas ke ndalem Bu Nyai Dah. Bu Nyai Dah ternyata sudah menunggunya sambil membaca Al-Quran. Begitu Zahrana sampai beliau menghentikan bacaannya.
"Duduklah, Anakku." Ia duduk dengan kepala menunduk.
"Begini, Anakku. Pak Kiai punya seorang santri yang sudah tiga tahun ini meninggalkan pesantren. Dia santri yang dulu sangat diandalkan Pak Kiai. Namanya Rahmad.
Pendidikannya tidak tinggi. Ia hanya tamat Madrasah Aliyah. Tidak kuliah. Karena setelah itu dia mengabdi di pesantren ini. Baik akhlak dan ibadahnya. Tanggung
jawabnya bisa diandalkan. Ia dari keluarga pas-pasan. Anak kedua dari tujuh bersaudara. Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk keliling. Dia duda tanpa anak.
Isterinya meninggal satu tahun yang lalu karena demam berdarah. Itulah informasi yang bisa aku berikan. Musyawarahkanlah dengan kedua orangtuamu dan kerjakanlah shalat Istikharah. Jika kamu ingin dan tertarik, beritahukan Ummi. Nanti kita carikan jalan
terbaik."
"Baiklah, Ummi. Terima kasih. Saya akan musyawarah dan Istikharah dulu. Saya pamit dulu Ummi, karena tadi kelas saya tinggalkan." Jawab Zahrana.
"Ya. Semoga barakah, Anakku!"
Zahrana berjalan ke kelas dengan telinga yang mendengungkan apa yang disampaikan Bu Nyai:
"...Ia dari keluarga pas-pasan. Anak kedua dari tujuh bersaudara. Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk keliling. Dia duda tanpa anak. Isterinya meninggal satu tahun yang lalu karena demam berdarah...!" Sambil berjalan ia menirukan ucapan Bu Nyai,
"Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk keliling. Dia duda tanpa anak. Isterinya meninggal satu tahun!" "Hmm penjual kerupuk keliling. Apakah memang takdirku jadi isteri seorang penjual kerupuk keliling?" gumamnya sendiri. Ada dialog yang cukup serius dalam dirinya.
"Tapi meskipun penjual kerupuk keliling. Ia adalah orang yang baik akhlak dan ibadahnya. Tanggung jawabnya bisa diandalkan. Toh aku sudah bilang pada Bu Nyai bahwa status, strata, kedudukan sosial, pendidikan dan lain sebagainya tidak jadi pertimbangan lagi. Yang aku inginkan adalah suami yang baik agamanya. Baik imannya dan bisa jadi teladan untuk anak-anak kelak. Apakah aku harus mempersoalkan pekerjaannya yang cuma penjual kerupuk keliling?"
Sampai di kelas ia tidak konsentrasi mengajar. Akhirnya ia memberi pekerjaan kepada para siswa. Jam ketiga ia ijin pulang ke rumah dengan alasan ada kepentingan yang sangat penting berkaitan dengan permintaan Bu Nyai. Jika alasannya Bu Nyai, tidak ada yang berani membantah.
Sampai di rumah ia mengajak musyawarah ayah dan ibunya. Keduanya mendorongnya untuk maju. "Kemuliaan hidup seseorang itu tidak karena pendidikannya atau pekerjaannya. Seseorang jika dimuliakan oleh Allah akan juga mulia di mata manusia."
Demikian kata ibunya.
Ia mulai mantap. Namun merasa masih belum cukup. Ia lalu menelpon Lina. Dari jauh Lina menjawab,
"Dia kan lulusan aliyah. Nanti jika kalian sudah menikah dan hidup mapan. Minta saja dia kuliah. Dengan begitu dia akan selesai S.l dan jarak pendidikan tidak terlalu jauh. Dan sebenarnya dengan dia mengabdi di Pesantren bertahun-tahun dia telah mendapatkan pelajaran hidup yang lebih matang dari mata kuliah di Program Pascasarjana sekalipun. Sudah mantaplah Ran. Pak Kiai dan Bu Nyai pasti berusaha mengarahkan yang terbaik."
Mantap sudah hatinya. Niatnya sudah bulat. Untuk semakin memantapkan ia pun Istikharah. Setelah Istikharah rasa mantapnya semakin besar. Hari itu juga ia menelpon Bu Nyai dan menjelaskan kemantapannya. Bu Nyai menjawab,
"Baiklah coba jelaskan alamat rumahmu!"
"Saya tinggal di Perumahan Klipang Asri. Jalan Madukara B-15."
"Besok satu hari penuh jangan ke mana-mana. Pak Kiai akan meminta si Rahmad itu berjualan ke perumahan di mana kau tinggal. Kau belilah kerupuk darinya, dan kau
boleh bertanya apa saja padanya. Biasa saja. Dia tidak tahu apa-apa masalah ini. Dengan begitu kau bisa tahu dengan jelas calon suamimu itu. Jika kau masih
jugamantap, maka bisa diteruskan. Jika tidak ya tidak apaapa."
"Baik Bu Nyai." Jawabnya.
Dari situ ia tahu betapa demokratisnya Bu Nyai. Betapa bijaksananya Bu Nyai. Betapa Bu Nyai memang tidak mau memaksa. Ia kemudian jadi takut. Janganjangan ia yang nanti mau, tapi si penjual kerupuk itu justru yang tidak mau dengan alasan minder dan lain sebagainya. Ia mendesah nafas panjang. Biarlah waktu yang menjawabnya, desahnya.
* * *
Hari berikutnya Zahrana benar-benar tidak ke manamana sejak pagi. Hari itu ia ijin tidak mengajar demi mengejar takdir. Ia menunggu di ruang tamu. Terkadang juga di beranda. Sesekali ke jalan. Penjual kerupuk itutidak juga datang. Jam sebelas siang seorang penjual kerupuk datang. "Puk Kerupuk! Puk Kerupuk!" Suara penjual kerupuk itu membahana. Hari Zahrana sedikit lega. Ia menunggu. Suara itu semakin mendekat. Semakin mendekat. Ia keluar ke beranda. Begitu penjual kerupuk sampai di depannya, ia berteriak,
"Kerupuk Pak!"
Penjual kerupuk itu menghentikan langkah. Tempat kerupuk yang dipikulnya ia turunkan. Zahrana terperanjat. Sudah tua. Ia memperkirakan umurnya mendekati lima puluh tahun. Kulitnya hitam legam tersengat matahari. la hampir menangis.
"Iya Bu, beli berapa?"
"Tiga ribu Pak."
"Baik Bu."
Penjual kerupuk itu mengambil kerupuk dan memasukkan ke dalam plastik lalu menyerahkan kepada Zahrana. Zahrana mengeluarkan uang dua puluh ribu.
"Ada yang kecil Bu?"
"Aduh tak ada Pak."
"Aduh gimana ya Bu. Saya tak ada kembalian. Udah ibu bawa dulu saja kerupuknya. Kapan-kapan kalau saya lewat ibu bayar."
"E jangan Pak. Udah bapak bawa saja. Itu sedekah saya untuk Bapak."
"Baik Bu kalau begitu. Matur nuwun ya Bu. Semoga keinginan ibu dikabulkan Allah."
"Amin." Dalam hati Zahrana berdoa ingin suami yang saleh dan pantas bagi dirinya.
Begitu penjual kerupuk itu pergi, Zahrana langsung menghubungi Lina sambil menangis. la menceritakan penjual kerupuk yang baru ditemuinya.
"Apakah dalam pandangan Pak Kiai dan Bu Nyai saya memang pantasnya untuk penjual kerupuk yang tua itu?" Nada Zahrana terdengar sedih.
"Tenanglah Rana. Kau sudah tanya sama Pak Tua itu siapa namanya?"
"Tidak terpikir Lin. Sama sekali tidak terpikir bertanya namanya tadi. Aku sudah shock duluan tahu penjual itu sudah tua. Tidak seperti yang aku bayangkan."
"Ya sudah. Kalau begitu kau sabar saja. Yang jelas, tidak mungkin Pak Kiai dan Bu Nyai tega menjerumuskanmu. Ini kan masih siang. Kau tunggu saja. Aku yakin yang dikirim Pak Kiai pasti baik. Pokoknya kamu jangan ke mana-mana ya. Tunggu sampai malam datang. Mau dapat suami saleh harus sabar ya." Lina berusaha menenangkan dan menguatkan.
"Terima kasih Lin. Semoga yang kaukatakan benar."
Zahrana kembali menunggu. Nyaris satu hari penuh Zahrana menunggu dengan perasaan sedih, jengkel, marah juga berharap. Belum pernah ia sepegal itu. La yang dulu pernah mendapatkan predikat mahasiswa teladan UGM kini menunggu datangnya seorang penjual kerupuk keliling. Begitu pentingnya penjual kerupuk itu. Tapi inilah takdir hidupnya. Ia merasa ia harus sabar. Sampai senja tiba, tukang kerupuk selain yang pertama belum datang. Ia menangis. Jika benar, yang dikirim Pak Kiai adalah Pak Tua tadi, maka ia merasa menjadi perempuan paling menderita di dunia. Sampai Pak Kiai dan Bu Nyai yang dia anggap orang yang sangat arif pun, berpendapat bahwa ia pantasnya dengan lelaki berkepala lima. Sudah sedemikian tidak berharganya
dirinya. Ia masuk rumah. Lima belas menit lagi azan Maghrib berkumandang. Ia cemas dan galau. Tak ada penjual kerupuk yang datang kecuali Pak Tua tadi. Ia bingung.
Ia lemas. Ia keluar lagi. Berharap ada penjual kerupuk lain yang datang. Penjual kerupuk seperti yang ia bayangkan. Ia duduk di kursi beranda. Airmatanya
bercucuran,
"Ya Ilahi jika aku punya dosa, ampunilah dosaku. Cukupkanlah ujian-Mu. Aku mohon mudahkanlah jalanku menyempurnakan separo agamaku sesuai syariat-Mu. Mudahkan diriku menyempurnakan ibadah kepada-Mu."
Ia lalu bangkit masuk rumah lagi. Tak ada siapasiapa di rumah. Ayah dan ibunya sedang ke rumah sepupunya yang memiliki hajat sunatan di Pucang Gading.
Baru saja masuk, ia mendengar suara nyaring,
"Kerupuk-kerupuk! Kerupuk Paak! Kerupuk Buu!"
Ia terperanjat dan bergegas keluar. Suaranya lebih tegas dan lantang. Ia lari. Penjual kerupuk itu telah melewati rumahnya. Ia melongok dari pagar. Penjual kerupuk itu hanya tampak punggungnya. Ia naik sepeda dan mengayuh sepedanya dengan cukup kencang.
Zahrana jadi penasaran. Dengan cepat ia nyalakan sepeda motornya yang berdiri di beranda. Lalu melesat mengejar. Tak perlu waktu lama agar penjual kerupuk itu terkejar. Apa susahnya bagi sepeda motor untuk mengejar sepeda. Ketika sudah dekat ia berteriak,
"Kerupuk, Mas!"
Penjual kerupuk itu menepi menghentikan sepedanya. Ia melakukan hal yang sama. Penjual kerupuk itu membuka topi lebarnya dan mengipas-ngipaskannya ke tubuhnya. Semarang memang panas, meskipun haritelah senja. Zahrana terperanjat. Masih muda dan ganteng. Keringat yang mengalir, lengan yang kekar terbakar matahari menambah pesona tersendiri.
Sesaat lamanya ia memandangi penjual kerupuk itu.
"Iya Bu, beli berapa?" Ia tersadar.
"E...lima ribu."
Penjual kerupuk itu mengambil plastik hitam besar dan memenuhinya dengan kerupuk.
"Ini Bu"
Ia mengambil kerupuk dan mengulurkan uang lima puluh ribu. Penjual kerupuk itu menerima uang itu dan menghitung uang kembalinya.
"Ini kembalinya Bu. Empat puluh lima ribu rupiah."
Zahrana menerima dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang kantong plastik berisi kerupuk. Penjual bersiap melanjutkan perjalanan.
"E, Sebentar, Mas." Zahrana menghentikan.
"Ya Bu, ada apa? Apa uang kembalinya kurang?"
"Tidak kok Mas. Mau tanya, sudah lama jualan kerupuk ya Mas? Kok kayaknya baru ke daerah ini."
"Iya Bu. Sudah lama. Saya memang baru kali ini ke daerah ini. Biasanya saya beroperasi di daerah Mranggen, Plamongan Indah, Pucang Gading dan Penggaron saja,"
"O. Ini cari langganan baru ya?"
"Bisa ya, bisa tidak."
"Kok begitu."
"Biasanya dagangan saya sudah laku di timur, tidak perlu sampai ke kampung ini. Saya jualan ke sini hanya karena sendiko dawuh saja sama Pak Kiai. Pak Kiai saya itu aneh, tiba-tiba saya diminta jualan di daerah ini, di perumahan ini. Dan anehnya Pak Kiai bilang hari ini saja.
Besok-besok terserah."
Jantung Zahrana berdegup kencang. Azan Maghrib mengalun.
"Boleh tahu, siapa nama Mas?"
"Nama saya Rahmad Bu. Sudah ya Bu saya jalan dulu. Sudah Maghrib, saya harus cari masjid."
Penjual kerupuk itu mengayuh sepedanya ke arah suara azan berkumandang. Zahrana memandang punggungnya sampai hilang di kejauhan.
"Diakah jodoh yang ditakdirkan Allah untukku?"
tanyanya dalam hari.
Ia lalu kembali ke rumahnya. Sampai di rumah ayah ibunya sudah ad a di rumah. "Dari mana Rana? Ini rumah ditinggal pergi tapi pintu terbuka tak dikunci? Jangan sembrono kamu!" tegur ibunya serius.
"Dari mengejar penjual kerupuk Bu. Wong cuma sebentar kok." Jawab Zahrana tenang.
"Penjual kerupuk yang dikirim Bu Nyai itu?" tanya ibunya dengan mata berbinar.
"Iya Bu."
"Bagaimana orangnya? Ganteng? Kau cocok?"
"Ah ibu itu lho semangat banget. Yang jelas orangnya baik. Yang lain nanti kita musyawarahkan!"
"Iya. Iya. Baik."
Zahrana lalu masuk kamarnya untuk siap-siap shalat Maghrib. Sebelum ia mengambil air wudhu hpnya berdering. Sebuah SMS masuk. Ia buka,
"Ass wr wb. Bu ini Hasan. Alhmdulillah tadi sy sdh wisuda. Dan alhmdulillah sy dinobatkan sbg mhsw terbaik. Ini jg berkat doa dan bimbingan Ibu. Trm ksh sdh mmnjami referensi dll. Mhn doanya. Wassalam."
Ia tersenyum. Ia bahagia membaca SMS itu. Bagaimana tidak bahagia jika ada seorang murid yang berhasil tidak lupa pada gurunya. Ia teringat saat dulu diwisuda di UGM dan menjadi lulusan terbaik di Fakultasnya.
Saat itu ia sangat bahagia. Dan itu pula yang saat ini sedang dirasakan mahasiswanya, Hasan. Ia teringat Nina. Bagaimana dengan Nina? Nina tak kalah hebatnya dengan Hasan. Tiba-tiba ia tersenyum simpul. Hasan dan Nina itu cocok. Kalau mereka menikah itu pas. Hasan ganteng, Nina cantik. Samasama aktivis. Sama-sama cerdas dan bisa diandalkan.
* * *
Setelah Zahrana melakukan kroscek pada Bu Nyai, memang penjual kerupuk yang masih muda itulah yang dimaksud Pak Kiai. Umurnya 29 tahun. Jadi lebih muda
empat tahun dari Zahrana. Setelah memikir dan menimbang tiga hari lamanya Zahrana merasa cocok. Ayah dan ibu Zahrana pun cocok. Barulah setelah itu Pak Kiai dan Bu Nyai mempertemukan dua keluarga. Mulanya si Rahmad merasa minder. Tapi Pak Kiai
berhasil meyakinkan Rahmad untuk tidak minder. Pada Rahmad Pak Kiai berkata,
"Zahrana ini, meskipun berpendidikan tinggi tapi ia rendah hati. Yang jadi pertimbangan Zahrana dalam mencari suami bukan materi, status, strata, kedudukan sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Yang jadi pertimbangan Zahrana adalah agama, iman dan akhlak. Insya Allah, ia gadis salehah yang mampu menghormati suaminya. Jadi kamu jangan minder!"
Akhirnya Rahmad juga menyatakan cocok. Jadilah dua keluarga itu cocok. Saat musyawarah dua keluarga itu, Zahrana mengutarakan keinginannya untuk mempercepat pernikahannya. Usul Zahrana diterima dengan penuh semangat oleh dua keluarga.
"Semakin cepat semakin baik. Insya Allah semakin cepat juga semakin barakah!" Demikian Pak Kiai berkomentar.
Dan ditetapkanlah hari H pernikahan Rahmad dengan Zahrana dua minggu setelah pertemuan itu. Dua keluarga itu langsung didera kesibukan menyiapkan pesta pernikahan itu. Karena Zahrana anak tunggal, Pak Munajat ingin semua teman lama dan saudara diundang. Dengan kerja keras, dalam waktu relatif singkat undangan pernikahan tersebar. Zahrana mengundang semua temannya. Yang tidak bisa dikirimi undangan diberitahu lewat email dan SMS . Ia juga mengundang mahasiswanya yang ia kenal. Mereka ia undang lewat SMS. Para mahasiswanya mengirim balasan dengan nada sangat gembira dan memastikan mereka datang. Namun dua orang mahasiswa yang ia harapkan datang, yaitu Nina dan Hasan malah tidak bisa datang.
Nina mengirim balasan:
"Trm ksh Bu atas undangannya. Smg prnikhnnya barakah. Maaf sy tdak bisa datang sbb pada hari yang sama saya jg akan melangsungkn akad nikah di Jkt. Saling mendoakan ya Bu. Nina."
Ia bahagia, Nina langsung menikah begitu selesai S.l. Tapi sedikit kecewa karena Nina tidak menikah dengan Hasan. Seperti yang ia idealkan. Ia langsung sadar, ideal di mata manusia itu berbeda dengan ideal di mata Allah Swt.
Sementara Hasan mengirim balasan, "Smg prnkhan Ibu pnh barakah. Maaf sy tdk bs datang Bu. Sbb hari itu saya hams mengurus beasiswa S.2 USM (Universiti Sains Malaysia). Motion doanya."
Kabar yang membuatnya bahagia. Mahasiswa penuh dedikasi seperti Hasan memang pantas mendapatkan beasiswa. Dalam hati ia berdoa semoga semua mahasiswanya berhasil dan sukses. Tak ketinggalan ia juga mengundang teman temannya sesama dosen waktu mengajar di kampus Fakultas Teknik. Semua ia undang termasuk Bu Merlin.
Hanya Pak Karman yang tidak. Ia tak ingin hari bahagianya rusak dengan melihat bandot tua yang tidak ia suka itu.
Namun mau tidak mau Pak Karman tahu juga kabar itu. Dan ia juga tahu bahwa hanya ia seorang di kampus yang tidak diundang. Hal itu membuatnya marah dan geram.
"Jangan sebut aku ini Karman jika tidak bisa memberi pelajaran pahit pada perempuan tengik itu!"
Geramnya sambil memukul meja di ruang kerjanya. Empat Hari pernikahan Zahrana semakin dekat. Zahrana telah memilih gaun pengantinnya. Gaun pengantin Muslimah
hijau muda yang sangat anggun. la memang suka warna hijau muda. Gaun pengantin itu ia beli dari butik Muslimah terkemuka di Solo. Sore itu, ia mencoba gaun itu di kamarnya. Sambil memandang wajahnya ke cermin ia berkata,
"Akhirnya aku akan jadi pengantin juga. Aku akan punya suami. Aku akan hidup membina rumah tangga layaknya yang lain."
Hatinya berbunga-bunga. la bahagia. Jika boleh meminta ia masih ingin meminta akad nikah dan walimatul ursy-nya. dipercepat lagi saja. Ia ingin segera mengatakan pada dunia bahwa ia juga berhak hidup wajar seperti yang lainnya. Hidup berkeluarga.
Memiliki suami yang baik dan setia. Dan kelak memiliki anakanak yang menjadi penyejuk jiwa.
Tiba-tiba hp-nya. berdering. Satu SMS masuk,
"Apa kabar perawan tua? Jika kau telah beli gaun pengantin. Sebaiknya kaukembalikan saja. Kau tak akan memakainya di hari pernikahan yang telah kautentukan. Kau masih akan lama menyandang statusmu sebagai perawan tua. Bukankah jadi perawan tua itu indah. Tiap saat dilamar banyak orang dan bisa dengan semenamena menolaknya. Kenapa kau tidak menikmatinya saja? Kenapa tergesa-gesa? Demi kebaikanmu sendiri, sebaiknya kaukembalikan saja gaun pengantinmu itu. Jadilah perawan tua selamanya."
Ia kaget. SMS berisi kata-kata teror itu muncul lagi. Entah kenapa, kali ini ia tidak setenang dulu menghadapai SMS teror itu. Kali ini ia sangat marah. Rasanya ia ingin membunuh orang yang mengirim SMS kurang ajar itu. Dengan sangat geram ia membalas,
"Semoga laknat Allah mengenaimu hai iblis tua! Semoga kau menemui ajalmu dalam keadaan hina di mata manusia!"
* * *
Persiapan perhelatan akad nikah dan walimatul ursy di rumah Zahrana nyaris sempurna. Besok acara pernikahan itu akan berlangsung. Rumah itu kini ramai dengan orang. Anak-anak kecil berlarian main kejarkejaran. Pengeras suara telah dipasang. Lagu-lagu khas pesta pernikahan dinyalakan. Sore itu syair lagu dari group kasidah Nasyida Ria berkumandang, Duhai senangnya pengantin baru. Duduk bersanding bersenda gurau. Zahrana tersenyum. Besok ia akan mengalaminya. Duduk bersanding dengan suaminya. Zahrana ingin membantu kaum ibu di dapur menyiapkan segala
sesuatu. Tapi mereka meminta Zahrana istirahat saja. Maka setelah shalat Isya ia langsung tidur, agar besok ia benar-benar fresh dan segar. Lagu-lagu bahagia masih mengalun. Di luar kamarnya kesibukan terus berjalan sebagaimana mestinya. Anakanak
kecil tertawa-tertawa bahagia. Mereka berlarian sambil memegang kue di tangannya. Zahrana tidur dalam kebahagiaan tiada terkira. Lagu yang terakhir ia dengar adalah alunan suara Nasyida Ria,
Duhai senangnya pengantin baru.
Duduk bersanding bersenda gurau.
Ia benar-benar tidur pulas dan nyenyak. Jam setengah tiga malam ia dibangunkan. Tidur bahagianya hilang. Ia kaget ada keributan. Ibunya menangis menjerit-jerit seperti orang kesurupan. Bapaknya terpekur di kursi seperti patung. Linalah yang membangunkannya.
"Ada apa ini Lin?" tanyanya heran. Ada kecemasan luar biasa yang tiba-tiba masuk dalam hatinya. Lina yang ia tanya malah menangis.
"Rahmad Rana? Rahmad calon suamimu Rana!"
"Ada apa dengan Rahmad?"
Lina tidak menjawab malah semakin keras terisakisak. Paman Rahmad yang ternyata ada di situ menjawab,
"Rahmad telah tiada, Anakku! Rahmad meninggal dunia!"
"Apa!!?" Ia kaget bagai tersengat listrik beribu-ribu volt.
"Rahmad mati tertabrak kereta api!" lanjut Paman Rahmad.
"Oh tidak! Tidak! Tidaaak!" Zahrana menjerit histeris.
Jeritannya menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Setelah itu ia pingsan seketika. Semua yang ada di rumah itu terpukul. Para tetangga Zahrana yang mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi ikut sedih dan meneteskan airmata.
Para tetangga itu lalu bertanya satu-sama-lain,
"Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana Rahmad bisa tertabrak kereta api? Di malam menjelang akad nikah, bukankah sebaiknya ia di rumah saja istirahat? Kenapa
bisa sampai tertabrak kereta api? Apa yang ia lakukan sebenarnya?"
Paman Rahmad menjelaskan,
"Habis shalat Maghrib tadi ada yang menelpon hpnya. Katanya teman lama ingin bertemu di Pasar Mranggen. Rahmad minta temannya itu datang ke rumah saja. Tapi
temannya itu mengatakan tidak bisa. Temannya itu memaksa Rahmad pergi menemuinya. Karena berkaitan dengan bisnis yang sangat pen ting. Dan Rahmad akan
diajak sedikit mengetahui prospeknya. Akhirnya Rahmad pergi. Sekalian beli peci baru. Sebenarnya keluarga melarang, tapi Rahmad memaksa pergi. Ia memaksa pergi sendirian. Saudara sepupunya mau ikut bersamanya tapi dilarangnya dengan alasan tenaga saudara sepupunya itu sangat dibutuhkan di rumah. Sampai jam sepuluh malam Rahmad belum juga pulang. Sebagian orang cemas, sebagian yang lain marah, Rahmad tidak segera pulang malah begadang dengan temannya yang tak dijelaskan siapa. Tepat tengah malam tadi dua orang polisi datang. Mereka memberitahu ada mayat tertabrak kereta api, dan dari KTP di dompetnya diketahui bernama Rahmad.
Sebagian orang memastikan ke tempat kecelakaan. Dan benar mayat yang berlumuran darah itu memang Rahmad."
Mendengar cerita itu semua diam. Semua membisu. Semua larut dalam kesedihan yang dalam. Zahrana masih pingsan.
***
Pagi harinya bukan pesta pernikahan yang digelar tapi upacara belasungkawa kematian. Tak ada lagu bahagia. Tak ada senyum dan canda. Tak ada gelak tawa. Yang
ada adalah mata yang berkaca-kaca dan rinai tangis dalam jiwa. Zahrana belum bisa menerima apa yang terjadi. La masih pingsan berkali-kali. Lina berinisiatif membawa Zahrana ke rumah sakit. Zahrana harus dijauhkan dari suasana yang masih diselimuti sedih itu. Zahrana harus dijauhkan dari rumahnya, di mana ia siap melangsungkan akad nikah, namun tiba-tiba menciptakan trauma baginya.
Lina membawa Zahrana yang masih pingsan ke RS. Roemani. Lina memilihkan kamar VIP agar Zahrana bisa beristirahat dengan nyaman. Menjelang Zuhur Zahrana siuman. Lina ada di sampingnya menenangkan. Setelah minum air putih tiga teguk Zahrana menangis.
"Lebih baik aku mati saja Lin. Aku nyaris tidak kuat!" katanya dalam pelukan Lina dengan terisak-isak.
"Sebut nama Allah ya Rana! Sebut nama Allah! Ingatlah Allah! Bersabarlah! Mintalah kepada Allah agar musibah ini diberi ganti yang lebih baik." Lina mencoba menguatkan.
"Tapi aku bisa gila Lin. Aku bisa gila! Aku shock! Daripada aku gila lebih baik aku mati saja!"
"Tidak, kau tidak akan gila. Kau akan baik-baik saja. Percayalah ini ujian dari Allah untuk memilihmu menjadi kekasih-Nya."
"Tak tahu aku harus bagaimana Lin."
"Sudahlah kau istirahat dulu. Tubuhmu sangat lemah. Banyaklah berzikir. Dengan banyak berzikir hati akan tenang!"
Dengan setia Lina menemani Zahrana. Segala usaha ia kerahkan untuk menghibur teman karibnya itu.
"Anakmu bagaimana Lin, kalau kau di sini?" tanya Zahrana.
"Tenang sudah ada yang mengurus. Anakku sedang bersama kakek dan neneknya di Ungaran."
Tiba-tiba airmata Zahrana kembali keluar.
"Bahagianya punya anak. Kau beruntung Lin. Punya suami baik. Anak lucu-lucu. Keluarga besar yang penuh kasih sayang. Sementara aku. Jangankan anak. Suami
saja tidak punya. Baru mau punya sudah pergi...."
Kata Zahrana sambil menangis memandang langit-langit kamar rumah sakit. "Sudahlah Rana. Sudahlah. Hanya belum tiba saatnya saja. Nanti kalau tiba saatnya kau insya Allah akan memiliki yang lebih baik dari yang aku miliki."
"Entahlah Lin, harapanku sudah pupus. Aku merasa tidak bergairah hidup lagi."
"Tidak Rana. Kau tidak boleh pupus harapan. Ingatlah Allah Mahaluas kasih sayang-Nya. Percayalah ini cuma ujian kecil. Masih banyak hamba Allah di muka bumi ini
yang diuji dengan ujian yang jauh lebih besar dari yang kaualami. Ayolah Rana, kau harus tabah! Kau harus tegar! Kau harus kuat! Kau harus terus maju! Kau tak
boleh menyerah. Putus asa berarti kau menyerahkan dirimu dalam perangkap setan!"
"Yah doakan aku ya Lin. Semoga aku kuat. Tapi bagiku ini sangat berat!"
"Aku tahu ini berat, tapi aku yakin kau mampu menghadapinya Rana. Aku yakin."
"Aku beruntung punya teman sepertimu Lina. Terima kasih ya Lin...Kau baik sekali!" Lirih Zahrana dengan mata berlinang-linang.
"Aku juga sangat beruntung punya teman sepertimu Rana. Aku banyak belajar kesabaran dan ketegaran justru darimu. Aku selalu berdoa agar kau bahagia."
Pintu diketuk. Seorang dokter berjilbab masuk. Dengan ramah dokter setengah baya itu memeriksa kondisi Zahrana. Semua keluhan Zahrana ia dengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali dokter itu menghiburnya dengan perkataan yang lembut dan menyejukkan. Senyumnya mengalirkan kesembuhan.
"Jadi, ibu ini Ibu Zahrana yang pengajar di Fakultas Teknik Universitas Mangunkarsa itu?"
Zahrana mengangguk.
"Berarti ibu kenal dengan anak saya ya?"
"Siapa nama anak Bu Dokter?"
"Namanya Hasan. Hasan Baktinusa."
"O kenal. Bahkan sangat kenal. Selamat ya Bu atas diwisudanya Hasan sebagai wisudawan terbaik. Salam buat Hasan. Semoga urusan beasiswanya lancar."
"Ya nanti saya sampaikan. Hasan sering sekali cerita tentang Bu Zahrana. Terima kasih telah banyak membantu anak saya."
"Sama-sama, Bu."
Pertemuan dengan dokter berjilbab yang ternyata ibundanya Hasan itu membuatnya seolah bisa bernafas. Dokter berjilbab itu juga bisa menyegarkannya dengan sedikit cerita masa mudanya yang sebenarnya mirip dengan Zahrana. Bu dokter bernama Zulaikha, biasa dipanggil Bu Dokter Zul itu ternyata juga menikah dalam usia yang sangat terlambat.
"Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi seperti apapun tak akan kembali. Jodoh itu terkadang dikejarkejar tidak tertangkap. Tapi terkadang tanpa dikejar datang sendiri. Yang paling penting adalah dekat dengan Allah dalam keadaan susah dan bahagia.
Senang dan sedih."
Zahrana seperti mendapatkan suntikan darah segar. Daya hidupnya tumbuh kembali. Dalam hati dia berkata,
“Ya benar. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi seperti apapun tak akan kembali."
Sebelum pergi Bu Dokter itu berkata, "Ada nasihat sangat bagus sekali dari Anton Chekov."
"Apa itu Bu?" tanya Zahrana pelan.
"Anton Chekov pernah menulis, 'Suatu saat kamu perlu untuk tidak memikirkan kesuksesan dan kegagalan. Jangan biarkan hal itu mengganggu dirimu!' ."
"Nasihat yang baik sekali Bu."
"Ya. Tidak ada salahnya untuk memperkaya jiwa kaubaca juga karya-karya sastra."
"Terima kasih Bu atas semuanya."
* * *
Derita Zahrana ternyata tidak cukup sampai di situ. Tanpa sepengetahuannya, di rumahnya terjadi musibah kedua. Pak Munajat, ayahnya, yang memang telah renta
tidak kuat menahan tekanan batin. Ia terkena serangan jantung. Dengan cepat ia dilarikan ke rumah sakit. Namun tak tertolong. Nyawanya melayang di perjalanan. Hari itu ia meninggal menyusul calon menantunya. Berita kematian Pak Munajat tidak disampaikan kepada Zahrana. Zahrana baru tahu setelah ia pulang dari rumah sakit dengan jiwa yang telah kukuh. Mengetahui ayahnya telah tiada ia menangis, namun
tidak sampai pingsan. Lengkap sudah penderitaan Zahrana.
Berita pernikahan yang tidak jadi karena pengantin lelakinya tertabrak kereta api itu dimuat koran terkemuka Jawa Tengah, Suara Mahardika. Kematian Rahmad yang mengenaskan masih diselidiki polisi. Polisi menyelidiki saksi-saksi. Polisi mencurigai orang yang menelpon Rahmad. Orang itu belum juga ditemukan dan masih dalam pencarian.
Beberapa hari setelah itu teman-temannya berdatangan mengucapkan bela sungkawa. Juga temanteman dosen Fakultas Teknik. Hampir semuanya datang. Termasuk Bu Merlin dan Pak Karman. Zahrana sangat kaget ketika Pak Karman datang. Di hadapan Zahrana Pak Karman berkata pelan sekali,
"Saya ikut berduka. Semoga almarhum berdua diterima di sisi-Nya. Saya berharap semoga gaun pengantinmu benar-benar telah kaukembalikan ke Solo!"
Zahrana tersentak. Kata-kata Pak Karman bagai aliran listrik yang menyengatnya. Kata-kata itu menguatkan keyakinannya bahwa yang menterornya selama ini adalah Pak Karman. Dan bagaimana bisa Pak Karman tahu ia membeli gaun pengantin itu dari Solo. Tiba-tiba firasatnya mengatakan kematian calon suaminya ada hubunganya dengan SMS terakhir Pak Karman. Dan pada hakikatnya, kata-kata Pak Karman
yang baru saja ia dengar adalah satu bentuk teror dahsyat yang hendak melumpuhkannya saat itu. Tibatiba kekuatannya bangkit. Ia merasa tidak boleh
terpancing. Ia harus bisa mengendalikan diri. Ia harus menang. Ia harus tenang.
"Terima kasih berkenan datang Pak." Jawabnya dengan pura-pura tidak memperhatikan perkataan Pak Karman.
Lima
Entah kenapa firasat Zahrana terus mengatakan bahwa Pak Karman ada di balik kematian calon suaminya. La ingin lapor polisi, jangan-jangan orang misterius yang
menelpon calon suaminya sebelum kecelakaan itu adalah Pak Karman, atau suruhannya.
Tapi ia tidak punya bukti. la bingung harus berbuat apa. la diskusikan kebingungannya itu pada Lina. Hanya Lina yang kini bisa diajaknya bicara.
"Aku yakin sekali Lin. Iblis tua itu ada di balik kematian Mas Rahmad. Aku yakin!" kata Zahrana berapi-api. Lantas ia menunjukkan data-data yang menguatkan dugaannya itu. Lina menanggapinya dengan kepala dingin,
"Sudahlah Rana. Jangan menambah rumit masalah. Jangan merepotkan diri sendiri. Jangan menuduh tanpa bukti! Salah-salah kau sendiri yang tertuduh nanti!"
"Data-data tadi. SMS saat aku mencoba gaun pengantin. Perkataannya saat mengucapkan bela sungkawa. Dan dendamnya kepadaku sehingga ingin memecatku, tidak bisa dianggap sebagai bukti?" seru Zahrana.
"Aku bukan pakar hukum Rana. Tapi sebaiknya kau fokus pada yang lain saja. Diikhlaskan saja. Orang yang ikhlas itu pasti menang. Karena orang yang ikhlas itu
selalu disertai Allah." Sahut Lina pelan. Ia lalumengambil koran dari tasnya.
"Apalagi polisi sudah mengumumkan bahwa kematian Rahmad murni karena kecelakaan. Coba kaubaca ini baca!" lanjut Lina sambil menyodorkan koran Suara
Mahardika.
Zahrana mengambil koran dari tangan Lina. Dan membaca berita yang dimaksud Lina. Ia menghela nafas panjang. Ada rasa kecewa dalam tarikan nafasnya. Lina
menangkapnya. Lina berusaha menghibur,
"Sudahlah Rana, sabarkan dirimu. Kuatkan imanmu. Ini ujian bagimu dari Allah, apakah kau jadi hamba-Nya yang pilihan apa tidak. Kata Rasulullah, semua perkara bagi orang Mukmin itu baik. Jika dapat nikmat bersyukur, dan jika dapat musibah bersabar. Semoga musibah ini jadi pahala." Lanjut Lina.
"Sebaiknya kautenangkan diri. Nanti ikhtiar lagi."
Zahrana mengangguk. Dalam hati Zahrana bertekad untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Ia teringat perkataan Bu Nyai saat memberikan ucapan bela sungkawa,
"Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita semua tunduk pada takdir-Nya. Yang Paling berkuasa di atas segalanya adalah Allah Swt."
Sejak itu, Zahrana nyaris tidak pernah meninggalkan shalat malam. Ia labuhkan segala keluhkesah dan deritanya kepada Yang Maha Menciptakan. Ia pasrahkan dirinya secara total kepada Allah. Dalam keheningan malam ia berdoa,
"Ya Rabbi, ikhtiar sudah hamba lakukan, sekarang kepada-Mu hamba kembalikan semua urusan. Ya Rabbi, aku berlindung kepada-Mu dari semua jenis kejahatan yang terjadi di atas muka bumi ini. Ya Rabbi, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala hal buruk yang Engkau ketahui."
* * *
Bulan Ramadhan datang. Zahrana semakin menikmati ibadahnya. Selesai Tahajjud, Zahrana menyiapkan sahur. Ibunya masih tidur. Begitu semua siap, Zahrana membangunkan ibunya dengan penuh kelembutan. Sang ibu lalu cuci muka, kemudian makan sahur. Rumah itu terasa begitu sunyi. Hanya Zahrana dan ibunya yang
duduk di meja makan itu.
"Ramadhan tahun lalu, kita masih makan sahur bersama ayahmu ya Nak."
"Iya Bu. Sudahlah Bu jangan diingat itu lagi."
"Apakah aku masih berkesampatan melihat kau duduk di pelaminan ya Nak."
"Sudahlah Bu. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Jika Allah menghendaki apapun bisa terjadi."
Selesai sahur Zahrana membaca Al-Quran sementara ibunya shalat. Begitu azan Subuh berkumandang mereka berdua pergi ke masjid. Selain untuk shalat Subuh berjamaah mereka juga ingin mendengarkan Kuliah Subuh yang diadakan selama Bulan Suci
Ramadhan. Habis dari masjid Zahrana mengajak ibunya berjalanjalan menghirup udara pagi keliling komplek perumahan. Mereka berdua masuk rumah ketika matahari sudah
terang bersinar di ufuk. Zahrana langsung mandi dan bersiap-siap mengajar. Jam tujuh kurang sepuluh menit ia sudah sampai di kantor STM Al Fatah. Waktu sepuluh menit sebelum bel berbunyi ia gunakan untuk membaca koran. Ia penasaran pada sebuah judul berita:
KARENABERBUAT CABUL, SEORANG DEKAN MATI
DIBUNUH DI RUANG KERJANYA.
"Semarang - Sepandai-pandai orang menyimpan bangkai, akhirnya kecium juga. Peribahasa ini agaknya layak untuk S (55 tahun), Dekan Fakultas Teknik Universitas Mangunkarsa Semarang. Perilaku cabulnya kepada mahasiswi yang selama ini disembunyikannya akhirnya terkuak. Ia tewas mengenaskan di ruang kerjanya ditikam oleh H (26 tahun) mahasiswa Fakultas Teknik yang marah karena isterinya bernama M (24tahun) diperlakukan tidak senonoh oleh dekan jebolan universitas terkemuka dari Amerika Serikat itu. Dua mahasiswa suami isteri itu, H dan M kini ditahan pihak
berwajib untuk penyelidikan lebih lanjut...."
Zahrana berkata pelan dalam hati, "Becik ketitik olo kethoro!" (Peribahasa Jawa, artinya: perbuatan baik akan diketahui,perbuatan buruk juga akan tampak.)Ia lalu bertakbir dalam hati. Ia merasa doanya dikabulkan oleh Allah. Yang jahat itu akhirnya mendapatkan balasannya sendiri.
Setelah itu ia masuk kelas dengan penuh semangat. Anak-anak didiknya ia ajak ke perpustakaan. Ia menugaskan kepada mereka untuk membaca buku yang berkenaan dengan puasa. Puasa dan hubungannyadengan kesabaran. Seorang siswa yang kritis protes,
"Kok tugasnya membaca buku tentang puasa Bu. Memang pelajaran kita ini pelajaran agama. Pelajaran kita kan tentang menggambar teknik listrik Bu?"
Dengan tersenyum Zahrana menjawab,
"Justru itulah karena dalam menggambar teknik listrik memerlukan kesabaran yang tinggi. Maka ibu ingin kalian memiliki ruh kesabaran itu. Mumpung kita masuk bulan puasa. Ayo kita kaji hubungan puasa dengan kesabaran. Dan hubungan puasa dengan penghematan. Dan juga hubungan puasa dengan prestasi umat Islam. Kita ke perpustakaan selama dua jam pelajaran. Kalian membaca yang serius. Hasil bacaan kalian, kalian presentasikan satu per satu minggu depan."
Anak-anak siswa kelas satu itu sangat gembira. Sebab diajak oleh guru masuk ke perpustakaan yang jarang mereka dapatkan. Bagi mereka, cara Bu Zahrana mengajar itu berbeda dengan guru-guru yang lain. Selalu ada hal yang baru. Mata pelajaran menggambar teknik listrik di tangan Bu Zahrana jadi pelajaran yang sangat mengasyikkan. Bisa masuk ke banyak hal tanpa kehilangan fokus utama pelajaran.
Sore itu setelah shalat Ashar Zahrana pergi ke warung untuk membeli kelapa, gula merah, dan tepung terigu. La ingin membuat kolak untuk buka puasa. Juga membuat
mendoan dan bakwan. Ibunya ternyata sudah menyiapkan es degan. Sudah dimasukkan di lemari es sejak siang. Pulang dari warung ia agak terkejut, sebab ada mobil sedan tepat di depan rumahnya. Ia menduga-duga siapa yang datang. Setelah masuk ia tahu kalau yang datang ternyata Bu Dokter Zulaikha, ibundanya Hasan.
"Dari mana Bu Zahrana?" tanya Bu Zul.
"Dari warung Bu Zul, ini beli bahan-bahan untuk bikin kolak. Sendirian ya Bu?"
Iya.
"Hasan apa kabarnya? Urusan beasiswanya ke Malaysia beres semua?"
"Alhamdulillah Hasan baik-baik saja. Dia titip salam. Dia tadi masih sibuk nulis-nulis entah nulis apa."
"Senang ibu berkenan dolan ke sini. Ini mampir atau memang menyengaja ke sini?" tanya Zahrana santai.
"Menyengaja ke sini em..." Ibunda Zahrana yang sedari tadi diam menyela,
"Nak, Bu Zul ini datang karena ada keperluan penting denganmu. Katanya ada hal serius yang ingin beliau konsultasikan denganmu. Sini biar ibu yang bikin kolak,
kau bisa bincang-bincang dengan beliau."
Bu Zul langsung menimpal, "Maaf jika kedatangan saya mengganggu."
"O nggak apa-apa Bu," sahut Ibunda Zahrana cepat,
"saya tinggal ke belakang dulu ya Bu. Silakan bicara dengan Zahrana," lanjutnya lalu pergi ke arah dapur.
Zahrana diam, Bu Zul pun diam. Suasana hening sesaat.
"Eh..konsultasi apa ya Bu?" Zahrana memecah keheningan.
"Eh ini. Tentang Hasan, anak saya."
"Ada apa dengan Hasan, Bu?"
"Sebelumnya maaf ya Bu, saya tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa lho. Karena saya tahu, ibu termasuk yang didengar omongannya oleh Hasan, maka saya konsultasi sama Bu Zahrana. Begini, dua hari yang lalu Hasan minta nikah Bu. Menurut ibu bagaimana? Padahal dia kan mau kuliah di Malaysia Bu." Zahrana mengerutkan dahi,
"Kalau menurut saya pribadi tidak ada salahnya Hasan menikah baru ke Malaysia. Kalau bisa isterinya dibawa, kalau tidak bisa ya tidak apa-apa isterinya ditinggal di
Indonesia. Toh Malaysia-Indonesia itu dekat. Sekarang tiket pesawat juga murah."
"Apa menurut Ibu, Hasan sudah layak menikah? Sudah layak punya isteri? Dan bisa bertanggung jawab menghidupi anak jika punya anak?"
"Pendapat saya ini sangat subjektif dari saya Bu. Menurut saya Hasan sudah sangat layak menikah. Selama saya tahu dia di kampus, dia bisa diandalkan tanggung jawab dan kepemimpinannya. Kenapa Ibu masih ragu dengan anak sendiri?"
"Saya tidak ragu Bu. Tapi saya mencari kemantapan. Biar mantap jika saya melepas Hasan ke dunia baru yang penuh perjuangan dan aral melintang."
"Mantap saja Bu. Menikah dini bagi orang seperti Hasan itu baik. Saya saja menyesal tidak menikah dini dulu."
"Itulah kenapa saya kemari. Selain tentang diri Hasan, saya ingin berdiskusi pada ibu tentang calon yang diajukan Hasan."
"Semoga saja saya kenal dengan calon Hasan itu. Dia kuliah sama dengan Hasan di Fakultas Teknik?"
"Tidak Bu. Saya langsung saja ya Bu. Maaf sebelumnya, Hasan meminta kepada saya untuk melamar Bu Zahrana. Calon yang diajukan Hasan, anak saya itu Ibu." Zahrana kaget bagai disambar Halilintar.
"S...saya Bu?!"
"Iya. Ibu. Anak saya ingin menikahi ibu!"
"Maaf, Bu. Mungkin Hasan cuma bercanda. Saya tidak pernah berlaku yang tidak-tidak sama Hasan Bu, sungguh." Jawab Zahrana dengan nada takut dan kuatir. la kuatir jika Bu Zul itu datang untuk membuat perhitungan dengannya. Takut kalau ia dianggap
berhubungan dengan Hasan.
"Nggak Bu, Hasan tidak bercanda. Anakku sangat serius dalam hal ini."
"Kalau begitu Hasan salah pilih, Bu." Bu Zul malah tersenyum,
"Bu Zahrana kok kelihatannya takut ada apa tho, Bu?"
"Ibu harus percaya pada saya Bu. Saya tidak punya hubungan apapun dengan Hasan kecuali dosen dengan muridnya Bu. Sungguh Bu!?"
Bu Dokter Zul itu geleng-geleng kepala dan tersenyum. Dia langsung paham maksud Zahrana.
"Bu Zahrana, saya tidak pernah menuduh begitu. Saya percaya pada ibu. Juga percaya pada anak saya. Saya datang kemari untuk menunaikan janji saya pada anak saya itu. Saya berjanji akan membantunya menyunting gadis manapun yang ingin dinikahinya selama akhlak dan agamanya bagus. Dan ketika Hasan ingin menyunting Bu Zahrana, saya langsung setuju. Sebab saya sudah tahu semuanya tentang ibu dari teman ibu, yaitu Bu Lina. Saya berharap. Dan sangat berharap Bu Zahrana tidak menolak pinangan ini. Ini pinangan serius tapi belum resmi. Jika Bu Zahrana serius nanti saya akan meminang secara resmi dengan membawa Hasan dan ayahnya juga beberapa anggota keluarga."
Zahrana tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang disampaikan Bu Zul itu sangat jelas ia dengar dan sangat jelas maksudnya. Tak ada yang tersembunyi lagi.
"Ibu sudah tahu say a tapi Hasan belum tahu saya Bu."
"Dia lebih tahu dari saya tentang diri Bu Zahrana. Apa yang masih membuat Bu Zahrana ragu."
"Saya masih belum bisa percaya Bu. Ini hal gila. Mahasiswa melamar dosennya. Apa kata dunia?"
"Harus bagaimana saya agar ibu percaya.
"Saya tidak tahu harus bicara apa lagi."
"Berarti menerima. Tidak bicara berarti diam. Diam tanda menerima."
"Saya ini lebih tua dari Hasan Bu. Dia cocoknya jadi adik saya."
"Syariat tidak menentukan batasan umur. Ibu memang lebih tua. Tapi tidak terpaut jauh. Cuma empat tahun. Hasan umurnya 29. Mukanya memang baby face. Bagi saya sendiri tidak masalah. Toh suami saya juga lebih muda dua tahun dari saya."
"Saya belum bisa menerima Bu?"
"Kenapa? Kata ibu tadi Hasan sudah pantas menikah dan memiliki isteri. Apa lagi? Apa ada dalam diri Hasan suatu cacat yang menurut ibu layak ditolak lamarannya?"
Zahrana diam. la tidak tahu harus bagaimana. la masih belum tahu apa yang terjadi. Hasan melamarnya? Bagaimana mungkin? Tapi ibunya sedemikian serius. Apa
yang harus ia putuskan. Zahrana tetap diam.
"Diam berarti menerima. Saya pamit Bu, mana ibunda tadi?"
Zahrana tersentak mendengar Bu Zul mau pamit. Ia berdiri mengikuti Bu Zul yang sudah berdiri.
"Ibu benar-benar serius?"
"Iya."
"Hasan juga benar-benar serius?"
"Iya."
"Kalian sudah tahu kekuranganku dan maumenerimaku?"
"Iya. Tak ada manusia yang sempurna."
"Kalau begitu saya terima, tapi dengan syarat."
"Apa syaratnya?"
"Akad nikahnya nanti malam bakda shalat Tarawih di masjid. Biar disaksikan oleh seluruh jamaah masjid. Maharnya seadanya saja."
Kini gantian Bu Zul yang tersentak kaget. Ia tidak menduga Bu Zahrana akan mensyaratkan begitu.
"Apa nggak sebaiknya akadnya setelah Idul Fitri saja."
"Tidak. Ibu sudah tahu kan cerita saya selama ini. Apa ibu ingin saya mati kaku gara-gara saya tidak jadi nikah lagi. Saya tidak ragu dengan keseriusan ini. Saya hanya
kuatir ada hal-hal di luar kekuasaan kita yang membatalkan rencana itu. Bagi saya lebih baik ya nanti malam, atau tidak sama sekali."
Bu Zulaikha memandang wajah Zahrana lekat-lekat. Wajah yang teduh, namun sangat berkarakter.
"Baiklah. Dalam hal ini saya tidak memutuskan sendiri. Saya akan bicara sama anak dan keluarga. Saya pamit dulu. Setelah Maghrib nanti saya telpon."
Dokter berjilbab itu pulang setelah bersalaman dengan Zahrana dan ibunya. Zahrana memandang sedan dokter itu hingga hilang di tikungan. Ada kebahagiaan menyusup dalam hatinya. Tapi juga ada kecemasan. La memang lagi bahagia. Namun untuk membentengi diri agar tidak kecewa lagi setelah kebahagiaan di depan mata, ia menganggap dialognya dengan Bu Zul tadi hanya main-main. Dialog latihan orang bermain drama atau sandiwara.
* * *
Azan Maghrib berkumandang. Tanda waktu buka puasa tiba. Zahrana meneguk kolak dan makan mendoan. Ada kenikmatan luar biasa saat buka. Kenikmatan yang susah diungkapkan dengan kata-kata. Hanya orang-orang yang berpuasa saja yang bisa
merasakannya. Pembicaraan dengan Bu Zul itu tidak Zahrana sampaikan kepada ibunya. Ia tak ingin ibunya kecewa jika yang diharapkan tak terjadi lagi. Setelah shalat Maghrib Zahrana mendapat telpon dari Bu Zul,
"Bu Zahrana. Mengenai keputusan syarat yang Bu Zahrana ajukan, ini ibu langsung dengar sendiri suara Hasan ya.."
Suara di hand phone Zahrana lalu berubah,
"Bu Zahrana ini Hasan. Saya setuju dengan syarat ibu. Ibu siapkan wali dan saksinya saya akan siapkan maharnya dan penghulunya. Kami sekeluarga insya Allah berangkat sekarang, dan kami shalat Isya di masjid dekat rumah Ibu."
"Kau serius Hasan?"
"Iya Bu."
"Kau bisa mencintaiku?"
"Iya Bu."
"Kalau begitu jangan lagi kaupanggil aku Ibu. Panggil aku, Dik. Dik Zahrana. Coba kau bisa nggak?" Zahrana merasa tak perlu malu.
"Saya coba...Dik Zahrana, tunggu aku di masjid." Mata Zahrana berkaca-kaca mendengarnya. Ribuan hamdalah menyesak dalam dada.
"Te..terima kasih. Kita bertemu di masjid, insya Allah."
Sambungan ditutup. Zahrana menangis tersedu-sedu. Melihat hal itu sang ibu bingung dan bertanya-tanya pada Zahrana. Dengan terisak-isak Zahrana menjelaskan apa yang terjadi. Sang ibu turut menangis. Zahrana lalu sujud syukur. Dalam sujudnya Zahrana memohon kepada Allah agar akad nikah itu benar-benar terjadi. Tidak sekadar angan-angan dan mimpi. Dan pada malam kedua di Bulan Suci Ramadhan itu, apa yang diharapkan Zahrana terjadi. Akad nikah setelah shalat tarawih disaksikan oleh jamaah yang membludak. Sebagian besar adalah tetangga Zahrana. Mereka turut terharu. Saat akad nikah ibu Zahrana menangis tersedu-sedu. Beberapa ibu-ibu juga menangis.
Malam itu Zahrana sangat bahagia. Hasan juga merasakan hal yang sama. Usai akad nikah Hasan mengajak Zahrana naik mobilnya menuju hotel termewah di tengah Kota Semarang. Di dalam hotel, dengan penuh kekhusyukan Zahrana menunaikan ibadahnya sebagai seorang isteri. Ibadah yang sudah lama ia tunggu-tunggu bersama seorang suami.
Di mata Hasan, Zahrana yang tampak manis dengan jilbab putihnya ternyata jauh lebih manis ketika rambutnya terurai. Hanya dia yang tahu seperti apa manisnya Zahrana. Mereka berdua saling mengagumi, saling mencintai dan saling menghormati. Kebahagiaan Zahrana malam itu menghapus semua derita yang dialaminya. Tasbih selalu mengiringi tarikan nafasnya. Ia semakin yakin, bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar dan ihsan.
Malam itu, benar-benar malam kesaksian Zahrana atas Tasbih, Tahmid dan Takbir Cinta yang didendangkan Allah 'Azza wa Jalla kepadanya.
Subhaanallaah wal hamdulillaah, wa laailaahaillallaahu
wallaahu akbar!
Candiwesi-Salatiga-Pesantren Basmala-Semarang,
Ahad 30 Juli 2006 Pukul 15:51
Labels:
Cerita
Langganan:
Postingan (Atom)


